Ingatan

Ingatan adalah jantung dari fungsi intelektual manusia sehingga ia berada di mana-mana dalam model pengolahan informasi. Ellis dan Hunt (1993) menggambarkan hal ini dengan mengajak membayangkan kehidupan tanpa ingatn. Tanpa ingatan seseorang tidak dapat secara lengkap menikmati hidup ini, tidak dapat berfungsi bahkan dalam situasi yang paling sederhana, dan tidak dapat berkomunikasi secara koheren dengan orang lain.

Hal yang jauh lebih serius adalah kenyataan bahwa kehidupan sosial ini akan tidak ada. Seseorang akan tidak punya teman karena ia tidak dapat mengingat orang itu dan sesuatu tentang orang itu. Seseorang juga akan kehilangan identitas pribadi atau konsep diri. Tanpa memori tentang pengalaman masa lalu seseorang tidak akan dapat menjawab pertanyaan “Siapa saya ?”

Menurut Lachman dan Butterfield (dalam Matlin, 1989), ingatan adalah suatu aktivitas kognitif yang melibatkan pengelolaan informasi sepanjang waktu. Informasi ini dapat disimpan kurang dari satu detik atau sepanjang hidup. Sejalan dengan pendapat di atas, Anderson (1995) menyebut ingatan sebagai rekaman yang relatif permanen dari pengalaman yang mendasari belajar. Definisi ingatan ini tergantung pada definisi belajar. Belajar mengacu pada proses adaptasi perilaku terhadap pengalaman, sedangkan ingatan mengacu pada rekaman-rekaman permanen yang mendasari adaptasi itu. Sementara itu, Solso (1988) menggambarkan ingatan sebagai tempat penyimpanan di otak yang menegang pengetahuan yang dimiliki manusia.

Studi tentang ingatan sudah lama dilakukan oleh para ahli. Suatu studi pertama yang dilakukan oleh Ebbinghaus (Solso, 1988) berusaha untuk mempelajari bagaimana ingatan berkembang sehingga dapat dilakukan kontrol ilmiah terhadap variabel-variabel yang sebelumnya tidak terpisah dari ingatan.

Eksperimen Ebbinghaus yang melibatkan penggunaan nonsense syllables, nonword, three-letter consonant-vowel-consonant sequences menemukan bahwa istilah-istilah tak berarti (nonsense syllables) akan cepat dilupakan. Ebbinghaus mengulang daftar kata-kata tersebut dan mencoba untuk melakukan recall setelah 20 menit, satu jam, 8-9 jam, satu hari, dua hari, 6 hari, dan 31 hari. Hal-hal ini adalah pengaruh dari panjang daftar pada waktu belajar, pengaruh latihan pada belajar, dan pembelajaran dan ingatan atas hal-hal yang disusun secara serial.

Menurut Matlin (1989), sistem ingatan dibagi menjadi ingatan sensoris, ingatan sensoris adalah ingatan yang berisi hasil sensasi panca indera dan berbentuk karakteristik fisik seperti ukuran, warna, bentuk. Lama penyimpanan dalam ingatan sensoris sekitar satu detik, kemudian hilang, kecuali ada perhatian khusus pada sensasi itu. Ingatan jangka pendek adalah tempat untuk memproses informasi.

Informasi ini disimpan sementara dan informasinya diproses agar dapat diterjemahkan dan dimengerti artinya. Informasi yang baru masuk dikombinasikan dengan informasi yang sudah lebih dahulu ada pada ingatan jangka panjang. Penyimpanan jangka pendek ini berlangsung kurang dari satu menit.

Riset tentang penyimpanan jangka pendek menunjukkan bahwa orang dengan mudah akan melupakan sesuatu atau materi yang pernah diindera setelah rentang kira-kira 30 detik, kecuali banyak dilatih (Matlin, 1989). Kira-kira tujuh kelompok informasi dapat diproses dalam keadaan bias dan bila semakin banyak dilatih, maka memory span akan dapat ditingkatkan hingga 80 detik (Matlin, 1989). Ingatan jangka panjang dapat menyimpan informasi mulai dari beberapa menit sampai beberapa tahun. Kapasitas simpanan hampir tidak terbatas. Informasi yang disimpan di sini sudah berupa kesan atau konsep.

Suatu pemrosesan informasi meliputi bagaimana informasi itu dikodekan, ditransformasikan, diasosiasikan, disimpan, dijaga, ditimbulkan lagi, dan dilupakan. (Solso, 1988). Informasi di short–term memory (STM) atau ingatan jangka pendek dikodekan secara akustik dan dapat disimpan dalam bentuk suara, arti, dan penampilan fisik (Matlin, 1989). Eksperimen-eksperimen oleh Shepard dan Metzler, Brooks, Segal, dan Fusella (dalam Matlin, 1989) menunjukkan bahwa penampilan fisik dari suatu materi dapat dikodekan dalam STM. Menurut Posner dan Keele (dalam Matlin, 1989) manusia dapat menyimpan suatu hal dalam ingatan dari cara penampilan hal itu.

Menurut Solso (1988) studi tentang memori manusia sendiri terbagi atas dua dikotomi yaitu struktur dan proses. Struktur memori manusia menurut banyak psikolog kognitif bersifat dualislistik, yaitu yang berupa short-term memory (STM) atau memori jangka pendek dan long-term memory (LTM) atau memori jangka panjang. Atkinson dan Schiffrin (dalam Solso, 1988) juga memberikan pendapat yang serupa, bahwa struktur memori itu tetap dan proses kontrol bersifat berubah-ubah. Atkinson dan Schiffrin kemudian membagi konsep memori dari William James yang juga digambarkan oleh Waugh dan Norman (dalam Solso, 1988), yaitu konsep sederhana mengenai memori tidak cukup kuat untuk mengendalikan kompleksitas dari perhatian, perbandingan, kontrol pemulihan, transfer dari STM ke LTM, imagery, memori sensoris pengkodean, dan sebagainya.

Dalam model Atkinson dan Shiffrin, memori memiliki tiga tempat yaitu (1) the sensory register, (2) the short-term store (STS), dan (3) the long-term store (LTS). Atkinson dan Schiffrin membuat perbedaan yang penting antara konsep memori dan penyimpanan memori dengan menggunakan istilah memori untuk acuan pada data yang sedang dipertahankan, sementara store untuk dasar pada komponen struktural yang berisi informasi. Indikasi berapa lama suatu hal telah dipertahankan tidak begitu saja menunjukkan di mana hal itu diletakkan dalam struktur memori. Informasi dapat dimasukkan ke dalam LTS setelah itu baru saja disajikan, sementara informasi yang lain dapat ditahan selama beberapa menit dalam STS dan tidk penah memasuki LTS.

STS dianggap sebagai working system di mana informasi yang masuk menjadi rusak dan hilang dengan cepat (tapi tidak secepat dalam sensory register). Informasi dalam STS mungkin berada dalam bentuk yang berbeda dari bentuk sensori aslinya. Informasi yang masuk ke dalam sistem ketiga, LTS, dilihat secara relatif permanen, meskipun itu mungkin tidak dapat ditembus karena interferensi informasi yang masuk. Fungsi LTS adalah untuk memonitor stimuli dalam sensory register (mengontrol stimuli yang memasuki STS) dan untuk menyediakan ruang penyimpanan bagi informasi dari STS.

Pemrosesan informasi dari satu tempat ke tempat lain sebagian besar dikontrol oleh subyek. Informasi yang dengan cepat ditahan dalam sensory register disaring oleh subyek, dan informasi yang terseleksi ini diantarkan ke STS. Transfer informasi dari STS dianggap mampu mengambil tempat selama itu ditahan di sana. Atkinson dan Schiffrin mengemukakan bahwa informasi bisa memasuki LTS secara langsung dari sensory register.

Inti dari teori Atkinson dan Schriffrin adalah konsep tentang kontrol atas informasi yang masuk dan keluar STS. Proses kontrol yang penting dalam model ini adlah pengkodean di mana informasi yang masuk dikategorikan menurut informasi dari LTS.

Kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan kejadian lalu dan menggunakan informasi itu untuk memahami kejadian saat ini merupakan fungsi dari LTM. Dalam pengertian, LTM memungkinkan seseorang untuk hidup dalam dua dunia secara stimulan (masa lalu dan masa sekarang) dan selanjutnya memungkinkan seseorang untuk memahami laju tak terbendung dari pengalaman saat itu. Ciri yang paling membedakan LTM adalah peragaman atas kode, abstraksi informasi, srtuktur, kapasitas, dan kepermanenannya.
Informasi di dalam LTM dengan jelas dikodekan secara akustik, visual, dan semantik.

Menurut Matlin (1989) semua hal yang disebut bentuk kognisi tingkat tinggi seperti concept formation, reasoning, problem solving, creativity, memory, dan perception berhubungan dengan intelegensi manusia. Dengnan demikian intelegensi manusia dapat dipandang sebagai kemampuan dalam mendapatkan, mengingat (recall), dan menggunakan pengetahuan untuk memahami konsep konkrit dan abstrak dan hubungan antara obyek, ide, dan untuk menggunakan pengetahuan dalam cara yang berarti.

Sejauh ini belum ditemukan bukti yang mendasari adanya hubungan intelegensi dengan ingatan, khususnya yang berkaitan dengan rekognisi. Penelitian yang telah dilakukan lebih banyak mengacu pada recall atas ingatan. Penelitian oleh Hunt; Hunt, Lunneborg, dan Lewis; Hunt dan Lansman (dalam Matlin, 1989) berusaha mengetahui dalam hal apakah pemrosesan informasi berbeda antara subyek berkemampuan tinggi dan subyek berkemampuan rendah. Tes yang digunakan oleh Hunt menggunakan tugas yang terdapat dalam eksperimen tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dua kelompok pada pasangan fisik A-A. Sementara membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat keputusan daripada kelompok berkemampuan tinggi.

Hasil penelitian di atas tidak cukup untuk menjadi dasar pertimbangan faktor intelegensi dalam tugas rekognisi. Perbedaan dalam cara menimbulkan ingatan dapat menjelaskan mengapa intelegensi berpengaruh pada tugas recall (mengingat kembali) dan kemungkinan besar tidak pada tugas rkognisi. Pada tugas mengingat kembali, seseorang benar-benar harus menimbulkan kembali informasi yang dimilikinya tanpa menggunakan petunjuk. Di lain pihak, tugas rekognisi cenderung memudahkan seseorang untuk menimbulkan ingatannya karena tersedianya petunjuk. Seseorang akan mudah menimbulkan ingatannya dengan cara mengenali sebagian dari informasi yang pernah diterimanya (Adams, 1987; Anderson, 1995; Rakhmat, 1994).

Menurut Schwartz dan Reisberg (1991), dan Anderson (1995) tes rekognisi membawa performasi yang lebih baik secara menyeluruh daripada tes recall Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa tes rekognisi tidak membutuhkan faktor intelegensi sebagaimana tes recall.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: