Persepsi

Persepsi di sini berarti pemberian makna terhadap stimulusi inderawi. Desiderato (dalam Rakhmat,1991) menegaskan, persepsi juga berkaitan erat dengan atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori. Persepsi di sini juga mengandung pengertian bahwa persepsi adalah reaksi orientatif terhadap stimulus. Proses terjadi persepsi dipengaruhi oleh pengamatan lampau dan sikap individu pada masa sekarang.

Krech dan Crutchfield (dalam Rakhmat, 1991) mengatakan mengenai dua faktor ini sebagai faktor fungsional dan faktor struktural. Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalamana masa lalu, dan hal-hal lain yang menyangkut faktor pribadi manusia. Faktor struktural berasal semata dari sifat stimuli fisik dan efek-eefek saraf yang ditimbulkan pada sistem saraf individu yangblebih dikenal sebagi konsep Gestalt dalam persepsi. Konsep ini mengacu pada pengertian, bahwa bila kita memberikan persepsi; maka persepsi tersebut bersifat keseluruhan, dan tidak sekedar melihat bagian-bagiannya (Rakhmat, 1991).

Persepsi bukanlah sekedar penginderaan. Bila penginderaan hanyalah membuat kita sadar terhadap adanya stimulasi tertentu, maka persepsi sudah merujuk pada sebuah penginderaan yang bermakna (Irwanto, dkk, 1989). Agar penginderaan memiliki makna , paling itdak ada lima atatu ciri-ciri umum dalam dunia persepsi.

a. Sifat sensoris. Rangsang-rangsang yang diterima harus sesuai dengan modalitas setiap indera, yakni sifat sensoris dasar dari masing-masingindera. Misalnya cahaya untuk penglihatan, bau untuk penciuman, suhu untuk perasa, bunyi untuk pendengaran, dan sifat permukaan bagi perabaan, dsb.

b. Sifat ruang (dimensi ruang). Dengan demikian persepsi kita akan dapat membeddakan anatara atas bawah, tinggi rendah, luas sempit, latar depan latar belakang, dll

c. Struktur dan konteks. Obyek-obyek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan memiliki struktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan konteksi ini merupakan keseluruhan yang menyatu. Dengan demikian, pada saat kita memiliki persepsi tertentu terhadap sebuah meja , maka meja sebagai obyek persepsi tidak berdiri sendiri, melainkan dalam ruang tertentu pada saat tertentu, emmiliki posisi atau letak tertentu, dll

d. Penuh arti. Makna dari arti ini adalah adanya relevansi atau hubungan yang berkmakna antara obyek yang kita persepsi dengan tujuan dalam diri kita. Dengan demikian, obyek amtan merupakan bagian vital atau cukup penting, yang berkaitan erat dengan masalah keseharian kita.

Irwanto dkk (1989) menjelaskan mengenai dimensi penginderaan dalam persepsi. Untuk mengerti masalah persepsi, masalah penginderaan perlu diketahui, mengingat persepsi adlah penginderaan yang sudah memiliki makna. Pengalaman inderawi (sensory experiences) amat tergantung dari sifat-sifat diterima rangsang sehingga kita memiliki pengalaman inderawi yang dapat kita jelaskan dalam bentangan kriteria kkuat lemah, lama sebentar, kasar halus, panas dingin, dsb. Bentangan penjelasn inilah yang disebut sebagai dimensi penginderaan Menurut Irwawanto, penginderaan ini memiliki 4 dimensi.

a. Intensitas. Kuat lemahnya penginderaan rangsang, menunjukkan masalah intensitas. Dengan demikian, kita akan mampu melihat ada cahaya yang kuat dan lemah, atau pun frekuensi kemunculan obyek sehingga menarik perhatian kita. Intensitas penginderaan dapat kita jumpai pada hampir semua indera.

b. Ekstensitas. Penginderaan akan mampu melihat ada tebal tipis, luas sempit, besar kecil, dll.

c. Waktu. Masalah waktu ini berkaitan erat dengan masalah apakah penginderaan berlangsung lama atau tidak.

d. Kualitas rangsang. Misalnya tinmggi rendah nada pada penginderaan pendengaran, atau kualitas warna pada penginderaan penglihatan.

Irwanto dkk (1989) mengatakan persepsi lebih bersifat psikologis. Persepsi merupakan proses penginderaan yang telah memiliki makan, sehingga amat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ersebut antara lain :

a. Perhatian (attention) yang selektif. Sebenarnya, dalam kehidupan manusia rangsangan yang diterima tidak terhitung secara kuantitas. Fungsi kognitif dan emosi manusia akan menggiring manusia untuk tidak menanggapi terhadap semua rangsang yang diterima. Untuk itulah setiap manusia akan memusatkan perhatian pada rangsang-rangsang tertentu saja. Dengan faktor perhatian ini, tidak semua obyek amatan akan masuk dalam kawasan persepsi seseorang. Perhatian, secara definitif dikatakan oleh Andersen (dalam Rahkmat, 1991) sebagai prosews mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli lainnya melemah. Lebih lanjut Andersen menyebutkan hukum-hukum mengenai perhatian selektif yang layak diperhatikan dalam masalah pembahasan mengenai efek-efek komunikasi. Hal ini patut diperhatikan, karena pembahasan mengenai iklan tak akan pernah lepas dari maslah komunikasi. Karakteirstik perhatian adalah sebagai berikut ini :
1) Perhatian merupakan proses aktif dan dinamis, bukan pasif dan refleksif. Kita secara sengaja mencari stimuli tertentu dan mengarahkan perhatiannya kepadanya. Hanya kadng-kadang saja kita akan mengalihkan perhatian ke obyek yang lain, pada saat stimuli lain lebih kuat dan intensif.
2) Kita cenderung memperhatikan hal-hal tertentu yang penting, atau dianggpa penting, menonjol atau melibatkan diri kita sendirir.
3) Kita menaruh perhatian kepada hal-hal tertentu sesuai dengan keprcayaan, sikap, nilai, kebiasaan dan kepentingan kita. Kita cenderung memperkokoh kepercayaan, sikap, nilai, kepentingan yang ada dalam mengarahkan perhatian kita, baik sebagai subyek maupun sebagai obyek komunikasi.
4) Kebiasan sangat penting dalam menentukan apa yang menarik dan jug apa yang potensial akan menarik perhatian kita. Kita cenderung berinteraksi dengan teman-teman tertentu, membaca majalah tertentu, menonton acara tertentu. Hal-hal semacam ini akan mempenagruhi perhatian yang akan kita berikan terhadap obyek-obyek tertentu,
5) Dalam situasi semacam ini kita secara sengaja menstrtukturkan perilaku kita untuk menghindari terpaan stimuli-stimuli yangh tidak kita perhatikan.
6) Walaupun perhatian terhadap stimuli kuat karena daya tarik stimuli tersebut, tidak selalu dijamin persepsi kita akan senantiasa kuat dan betul-betul cermat. Kadang-kdang konsentrasi yang amat kuat mendistorsi persepsi kita.
7) Perhatian tergantung dari kesiapan mental kita. Kita cenderung mempersepsi apa yang memang ingin kita persepsi.
8) Tenaga-tenaga motivasional sangat penting dalam menentukan perhatian dan persepsi. Tidak jarang efek motivasi ini menimbulkan distrkasi atau distorsi (meloloskan apa yang patut diperhatikan atau melihat apa yang sebenarnya tidak ada)
9) Intensitas perhatian yang tidak konstan
10) Dalam stimuli yang menerima perhatian, perhatian juga tidak konstan. Kita mungkin memberikan fokus perhatian kepada obyek sebagai keseluruhan, kemudian pada aspek-aspek obyek tersebut, dan kembali lagi kepada obyek sebagai keseluruhan.
11) Usaha untuk mencurahkan perhatian sering tidak menguntungkan karena usaha tersebut sering menuntut perhatian. Pada akhirnya perhatian terhadapa stimuli mungkun akan berhenti.
12) Kita mampu menaruh perhatian terhadap berbagai stimuli secara serentak. Makin besar keragaman stimuli yang dapat perhatian, maikn kurang tajam persepsi kita terhadap stimuli tersebut.
13) Perubahan atau variasi sangat penting dalam menarik dan mempertahankan perhatian.

b. ciri-ciri rangsang. Rangsang yang bergerak, akan lebih menarik perhatian biala dibandingkan dengan rangsang yang diam saja. Rangsang yang paling besar di antara yang kecil atau yang kontras dengan latar belakang dan yang memiliki intensitas paling kuat akan lebih menarik perhatian dan lebih mudah mempengaruhi persepsi seorang.

c. Nilai-nilai dan kebutuhan individu. Nilai-nilai ini tidak hanya menyangkut nilai dasar (basic values), melainkan juga selera, keterkitan erta dengn lingkungan, dan minat. Misalnya seorang seniman akan memiliki citra rasa dan pola yang berbeda dengan yang bukan seniman. Seorang remaja akan wemmiliki minat dan sesnse yang berbeda dengan bukan remaja. Penelitian pernah membuktikan, anak-anak dari golongan ekonomi rendah memiliki persepsi yang lebih positif terhadap mata uang logam (koin) dibandingkan dengan anak-anak dari golongan ekonomi menegah atas.

d. Pengalaman terdahulu. Pengalaman-penagalaman ini akan mempengaruhi seseorang terhadap rangsang atau obyek persepsi yang diterima. Sebagai contoh, cermin dianggap tidk menarik dan biasa-biasa saja bagi kita orang modern. Sementara bagi orang-orang pedalaman cermin akan menarik perhatian dan memiliki arti yang sangat mendalam. Ikalan dalam televisi mungkin membosankan bagi kalangan orang tua, namun ada kemungkinan justru menarik perhatian remaja. Misalnya dengan iklan mereka akan meniru idola, mengintip model berpakaian, dsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: