bagi waktu buat diri sendiri, anak, dan keluarga

sebenarnya, yang paling penting itu adalah kesadaran dari kedua orang tua bahwa si anak adalah tanggung jawab dan “hadiah” buat kedua belah pihak …

dengan adanya rasa tanggung jawab, maka “beban” mengasuh anak akan ditanggung oleh berdua, saling mengisi satu sama lain … apalagi kalau keduanya bekerja, tidak bisa lagi dikatakan bahwa peran domestik adalah tanggung jawab perempuan (dalam hal ini adalah ibu) karena pada kenyataannya si ibu juga “harus” bekerja untuk menjamin terjaganya keamanan finansial keluarga …

sayangnya, budaya di kita masih saja membebankan tanggung jawab tersebut pada si Ibu sehingga dalam kondisi kepayahan sepulang kerja si Ibu masih harus menyiapkan segala sesuatu untuk suami dan juga merawat anaknya …

alangkah baiknya jika bisa berbagi …

itu tadi soal tanggung jawab … nah tentang “hadiah” …

coba kita bayangkan bahwa suatu hari tiba-tiba kita mendapat hadiah yang terbungkus sangat rapi, kita buka perlahan-lahan bungkusnya, eh ternyata ada bungkus lagi yang berbeda warna, corak, bahkan ada pesan-pesan khusus bagi kita yang tertulis di atas kertas kado di lapisan ke dua tersebut

selanjutnya, perlahan kita buka lagi lapisan kedua … eh masih ada lapisan lainnya … yang jauh lebih indah dan mengandung kata-kata yang jauh menyentuh ke hati …

demikian seterusnya sampai kita menemukan isi sebenarnya dari “hadiah” tersebut …

Nah … itulah ibaratnya kita dengan anak-anak … yang notabene adalah “hadiah” dari Tuhan …

setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari adalah saat bagi kita untuk membuka lapisan demi lapisan kertas kado … untuk mengetahui … hadiah apa yang kita dapat dari-Nya …

salam,

Yanti D.P.

Laskar Pelangi

Ada hal yang menggelitik saya dengan booming Laskar Pelangi, salah satunya adalah komentar teman kuliah saya yang mengatakan “Bohong kalau Anda tidak punya uang, dan kalau Anda memang serius menjadi guru maka Anda harus menonton Laskar Pelangi, agar diingatkan kembali mengenai kewajiban sebagai guru.”

Hmm … saya hanya tersenyum simpul ketika teman saya menyampaikan hal tersebut. Mungkin pengalaman saya yang sudah melanglang buana sampai di negeri seberang, kebiasaan saya yang membaca berbagai bahan dari internet dengan menggunakan pda phone, atau koleksi buku-buku psikologi berbahasa Inggris yang membuat teman saya berpikir bahwa saya memiliki banyak keuntungan dari sekolah ini. Segala sesuatu yang sebenarnya merupakan sisa-sisa kejayaan finansial di masa lampau, jauh sebelum saya mendirikan sekolah ini. Bedanya, saya memang suka membaca dan oprek komputer, jadi barang-barang tersebut selalu terlihat baru dan mengikuti perkembangan jaman.

Sayang sekali, masih saja ada orang yang melihat orang lain hanya dengan penampilan fisik.

Padahal, berbekal pengalaman selama kuliah beberapa belas tahun yang lalulah yang menarik saya untuk mendirikan sekolah ini dengan idealisme tinggi, memajukan pendidikan Indonesia, bukan memperkaya diri pribadi.

Sekolah ini, sudah seperti anak buat saya. Apapun akan saya lakukan, asal halal lho ya, untuk membuat sekolah ini tetap hidup dan membantu orang tua yang tidak mampu membiayai anaknya sekolah di tempat-tempat bertarif internasional tetapi bertaraf lokal. Sekolah ini juga membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang juga sangat memerlukan perhatian dan pendidikan dari hati yang tulus.

Kondisi pribadi saya jika dikaitkan dengan kenekadan saya mempertahankan sekolah yang membuat salah satu teman berkomentar “Kenapa nggak ditutup saja sekolahannya daripada Depe (nama panggilan saya) harus kehilangan satu demi satu asetnya.”

Komentar ini saya jawab … “Selama saya ikhlas, saya pasti akan dapat gantinya, bahkan lebih baik dari yang sudah saya lepaskan. Sekolahan pun tidak ingin mengambil profit dari masyarakat yang diladeni, hanya mengambil yang selayaknya saja untuk keberlangsungan program dan kesejahteraan karyawan. Saya dan teman-teman di sekolahan punya keyakinan yang sama, Gusti Allah ora sare …”

Ah … doakan saja sekolah ini akan terus ada dan berkembang tanpa melupakan idealisme kami.

Salam,

Yanti D.P.

Online Learning

Berikut ini adalah tulisan saya berdasarkan pengalaman pribadi dalam belajar melalui fasilitas internet, pengalaman sebagai pemimpin di Bintang Bangsaku dan SKB Penjernihan, dan catatan kuliah saya di Pascasarjana UNJ

Semoga bermanfaat

Online Learning, Individu dan Organisasi

Secara mendasar, belajar adalah suatu proses yang membuat seseorang memperoleh keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang dipengaruhi oleh interaksinya dalam suatu rangkaian peristiwa maupun dengan orang lain. Berbagai ahli telah mengemukakan pendapatnya mengenai apa dan bagaimana belajar tersebut, mulai dari Skinner dengan teori belajar perilaku (behaviouristik) sampai dengan teori konstruktivistik yang sekarang banyak dianut oleh para pemangku kebijakan pendidikan, salah satunya dengan menggunakan pendekatan problem based learning.

Dalam kaitannya dengan proses belajar formal di sekolah, kursus, maupun di lembaga-lembaga pelatihan karyawan, terdapat perbedaan yang relatif signifikan antara proses belajar secara tradisional dengan proses belajar secara berjaringan walaupun sama-sama menggunakan prinsip belajar siswa aktif.

Saat proses belajar secara formal tradional di lembaga pendidikan masih mengedepankan adanya proses tatap muka antara pembelajar dan guru (traditional classroom learning), maka sistem pembelajaran yang baru, baik yang jarak jauh (traditional distance learning) maupun menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (traditional e-learning) tidak lagi mengedepankan proses tatap muka tersebut. Sistem belajar secara berjaringan yang bersifat tertutup bahkan sudah mengedepankan kemandirian masing-masing pembelajar untuk mencari sendiri pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan-kemampuan yang baru walaupun masih berpanduan pada kurikulum yang berlaku tanpa adanya ketergantungan pada sosok nara sumber.

Secara khusus, jika diamati dari sisi pembelajar, sebenarnya ada 2 (dua) model pembelajar secara berjaringan, yaitu yang tertutup dan yang terbuka. Pada model pembelajar yang tertutup, dapat dikatakan bahwa materi, aktivitas dan waktu belajar serta tingkat kompetensi yang diperoleh masih sangat tergantung pada paket kurikulum yang telah baku, walaupun proses pencarian informasi untuk masing-masing materi tersebut tidak tergantung pada proses tatap muda dengan seseorang yang berperan sebagai nara sumber. Model pembelajar seperti ini banyak ditemukan pada individu-individu yang mengikuti pendidikan formal jarak jauh (istilah yang secara resmi ada dalam UU Sisdiknas) baik yang masih secara manual (paper based) maupun yang secara elektronik dengan memanfaatkan TIK.

Sementara itu, pada model pembelajar terbuka, dapat dikatakan bahwa materi, aktivitas, dan waktu belajar maupun tingkat kompetensi yang akan diraih sangat tergantung pada minat, motivasi, kompetensi awal dari masing-masing pembelajar itu sendiri. Individu-individu seperti ini melakukan proses pilah pilih materi secara mandiri dan sebagian besar menggunakan metode problem base learning, di mana kasus-kasus atau masalah-masalah yang menarik perhatiannya dikaji secara mendalam dengan menggunakan berbagai informasi yang diperolehnya dengan memanfaatkan teknologi jaringan, terutama internet Waktu belajar maupun tingkat kesulitan materi juga ditentukan sendiri oleh masing-masing pembelajar, tergantung pada kesempatan dan kebutuhannya.

Karakteristik proses belajar seorang pembelajar yang memanfaatkan teknologi jaringan, baik pada model pembelajar tertutup maupun terbuka, sangat terkait dengan wadah (organisasi) tempat ia berada, entah itu di sekolah, di lingkungan kerja, maupun di rumah. Oleh karena itu, wajar jika materi belajar, aktivitas yang dilakukan, waktu belajar, dan kompetensi yang diraih berbeda-beda, tergantung dari tujuan belajar masing-masing individu pembelajar tersebut.
Namun, jika dikaitkan dengan proses belajar yang memanfaatkan teknologi jaringan, maka ada persamaan karakteristik yang sangat menonjol yaitu kemandirian dan motivasi yang kuat untuk memperoleh sutau keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang “mungkin” lebih baik dari kondisi awal dari masing-masing pembelajar dengan cara mencari informasi, berlatih memecahkan masalah, berkolaborasi dengan suatu komunitas, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam membentangkan cakrawala secara global.

Sayangnya, dalam lingkup sebuah organisasi, seorang pembelajar sendirian saja “mungkin” tidak akan berpengaruh banyak pada kehidupan organisasi itu sendiri. Namun, jika mengingat bahwa adanya perubahan perilaku yang diakibatkan oleh interaksi antara individu dan organisasi, baik secara terpisah maupun bersama-sama dengan lingkungannya, maka bisa dikatakan bahwa dengan adanya individu-individu pembelajar dalam sebuah organisasi maka organisasi itupun berkesempatan untuk belajar menjadi lebih baik lagi.

Hal yang perlu diingat dalam kaitannya dengan proses belajar sebuah organisasi adalah tanpa adanya visi, nilai, dan tujuan yang diresapi bersama untuk menghadapi tantangan, baik yang internal maupun yang eksternal, maka keberadaan individu-individu pembelajar (bahkan yang bermodel belajar melalui jaringan sekali pun) di dalam organisasi tersebut tidaklah akan berarti bagi kemajuan organisasi maupun individu tersebut. Tantangan internal yang dimaksud di sini adalah individu (hal-hal yang berkaitan dengan perannya sebagai sumber daya manusia), produk dan jasa yang menjadi inti dari bisnis organisasi tersebut, kondisi keuangan, fasilitas, dan pemasaran produk maupun jasanya. Sementara tantangan eksternal dapat berupa kondisi ekonomi makro, lingkungan teknologi, kebijakan politis, budaya lokal maupun global.

Selain adanya visi yang jelas, nilai-nilai yang diresapi bersama, dan tujuan yang pasti, suatu dukungan dari manajemen puncak juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan organisasi dan individu-individu di dalamnya. Karakteristik kemandirian yang menonjol dari seorang pembelajar melalui jaringan tidak akan banyak berguna jika manajemen puncak gagal menjadi model pembelajar yang dapat menunjukkan nilai, harapan, dan perilakunya secara tepat. Motivasi untuk belajar menjadi lebih mampu, terampil, dan berpengetahuan pun akan gugur dengan sendirinya jika pihak manajemen tidak mendukung karyawannya untuk mengambil keputusan secara bijak dengan mempertimbangkan berbagai pengetahuan yang diperolehnya secara mandiri.

Yanti D.P.

Bagikan pengalaman Anda sebagai orang tua

Dengan membagi pengalaman dan mengkomunikasikan pengalaman Anda sebagai orang tua kepada orang lain, setidaknya sebagai kontribusi untuk membuat orang lain melakukan hal yang sama atau melakukan yang lebih baik lagi terhadap anaknya. Dan jika kamu mempunyai suatu masalah, mungkin teman-teman sharingmu itu bisa membantumu. Dimana kita bisa sharing? Joinlah di forum internasional seperti : http://sitetalkzone.com atau disingkat jadi STZ.
Mengapa forum internasional? Anda bisa belajar dari cara orang luar negeri mengajari anak mereka. Tinggal Anda putuskan sendiri mana yang bisa diterapkan dalam negeri dan mana yang tidak. Dan kalau Anda mengetahui nany911 itu kan cara mengajari anak yang baik ala nany luar negeri, siapa tahu di forum ini juga ada nany911 nya hahaha.
Lalu mengapa harus STZ? Kan ini forum tentang webmaster? Oh tidak hanya itu, Anda bisa mendiskusikan topik tentang parental ini di general talk area. Lalu saya menemukan bahwa teman-teman disini hangat dan staffnya baik, namanya swastik :D.
Selain itu, selagi sharing dan menunggu jawaban, Anda bisa ikutan sebuah kontes yang sekarang ini lagi berjalan. Di mana deadlinenya adalah 28 oktber 2008 dan hadiahnya adalah $250. Menarik kan? Tunggu apa lagi? Daftar, sharing pengalaman sebagai orang tua, dan selagi itu ikutlah kontes.

RUU Sisdiknas “Versus” Standar HAM

RUU Sisdiknas “Versus” Standar HAM


Oleh Mohammad Farid


SETELAH mendapat kritik dari berbagai kalangan, Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasionalmengalami beberapa perubahan terutama menyangkut ketentuan pendidikan agama. Meski demikian, beberapa masalah terutama yang berhubungan dengan kesesuaian RUU atas standar-standar hak asasi manusia belum ditangani memadai. Tulisan ini mengulas tingkat keselarasan RUU atas standar HAM yang diakui secara universal, terutama hak atas pendidikan.


Rujukan utama ulasan ini berdasar dua fakta HAM paling relevan: International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights atau Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya–KIHESB (belum diratifikasi oleh Indonesia), serta Convention on the Righst of the Child atau Konvensi Hak Anak–KHA (sudah diratifikasi melalui Keppres No 36/1990). Sebagai tambahan, General Comment 13 (1999) dari Komite Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya menyangkut ketentuan Pasal 13 KIHESB tentang hak atas pendidikan juga dijadikan dasar rujukan mengingat Komite berwenang memberi interpretasi otoritatif atas ketentuan-ketentuan Kovenan.


Khusus menyangkut ketentuan pendidikan agama dan pengakuan resmi negara atas agama (atau agama-agama) , ulasan ini mau tidak mau bersinggungan dengan hak dan kebebasan sipil.



Pendidikan-kebebasa n beragama


Pendidikan agama menjadi salah satu isu dalam hak atas pendidikan. KIHESB merumuskan (Pasal 13 Ayat 3), “Negara-negara peserta berupaya menghormati kebebasan orangtua (atau wali…) dan menjamin pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka sesuai keyakinan mereka”. Dengan demikian, ketentuan RUU (Pasal 13 Ayat 1 huruf a) yang mengakui hak peserta didik untuk “mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama” dapat dikatakan sebagai upaya negara menghormati dan menjamin hak para murid sesuai HAM internasional.


Meski demikian, perlu disadari, KIHESB tidak menentukan bahwa yang mengajarkan pendidikan agama harus yang beragama sama dengan (para) murid. Ketentuan bahwa pengajar harus seagama dengan yang diajar, kiranya dilatarbelakangi corak pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia yang menekankan pada kepatuhan menjalankan ibadah agama, tidak mengajarkan agama sebagai suatu ilmu pengetahuan. Praktik pendidikan agama seperti ini kiranya akan senantiasa menimbulkan ketegangan yang entah kapan kesudahannya.


Praktik pendidikan agama demikian, jika dikaitkan ketentuan Pasal 38 Ayat 1 huruf a dari RUU yang menjadikan pendidikan agama sebagai kurikulum wajib di tingkat pendidikan dasar dan menengah, menjadikan RUU berpotensi melanggar HAM karena-seperti diketahui umum-kebebasan beragama seperti dirumuskan dalam Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik harus diartikan sebagai meliputi kebebasan untuk tidak beragama. Dengan demikian, memaksa peserta didik memilih untuk tidak (atau belum) beragama untuk menjalankan ibadah agama dalam praktik pendidikan agama di sekolah-sekolah akan menjadi suatu bentuk pelanggaran HAM.


Sebenarnya jika pendidikan agama diajarkan lebih sebagai pengetahuan, sebagaimana saran Komite Hak-hak Ekonomi-Sosial- Budaya, “…mengajarkan pelajaran seperti sejarah umum agama-agama dan etika… secara obyektif dan tidak bias…” (General Comment 13, paragraf 28), maka ketegangan kiranya akan bisa bisa dinetralisir.

Pendidikan agama sebagai pengetahuan sebagaimana saran Komite itu, misalnya, dengan mengintroduksi suatu mata pelajaran “Agama-agama Besar di Dunia”, pengajarannya tidak perlu dilakukan oleh guru yang seagama dengan agama peserta didik. Selain itu, ia tidak melanggar HAM-nya peserta didik yang memilih untuk tidak (atau belum) beragama karena toh tidak memaksa murid untuk menjalankan ibadah agama yang tidak dipeluknya.


Pengakuan resmi negara


Berkait isu pendidikan agama dalam RUU Sisdiknas adalah ketentuan tentang pengakuan negara yang dibatasi hanya pada beberapa agama (Pasal 31 Ayat 1 berikut penjelasannya) . Ketentuan ini, selain dalam dirinya merupakan pelanggaran HAM (sipil-politik) , juga dapat merembet pada pelanggaran hak atas pendidikan (ekonomi-sosial- budaya) karena dengan mudah bisa dipakai sebagai dalih untuk membatasi mana agama yang boleh dan tidak boleh diajarkan.


Komite Hak-hak Ekonomi-Sosial- Budaya dalam General Comment 13 (paragraf 28) berpandangan, pendidikan umum yg mengajarkan agama atau keyakinan tertentu saja bertentangan dengan ketentuan KIHESB Pasal 13(3) kecuali dibuat aturan bagi pengecualian atau alternatif secara nondiskriminatif yang bisa mengakomodasi harapan orangtua atau wali murid.


Ketentuan pembatasan agama resmi seperti itu merupakan langkah mundur, mengingat di Indonesia belum pernah ada pembatasan pengakuan seperti itu. Yang pernah ada ialah pembatasan menjalankan ibadah agama minoritas di tempat umum. Itu pun dilakukan dengan keppres dan sudah dicabut dengan keppres pula.



RUU Sisdiknas vs standar HAM


Selain masalah yang masih tersisa di wilayah pendidikan agama (ditambah pengakuan resmi negara atas agama), RUU Sisdiknas juga mempunyai banyak masalah mengenai kompatibilitasnya dengan standar KIHESB dan KHA menyangkut hak atas pendidikan. Mengenai tujuan pendidikan misalnya, beberapa standar universal-seperti pendidikan akan diarahkan pada pengembangan rasa hormat pada HAM dan kebebasan dasar serta prinsip-prinsip yang terkandung dalam Piagam PBB; rasa hormat pada orangtua, identitas budaya, bahasa, dan nilai-nilai anak; rasa hormat pada lingkungan alam; dan penyiapan anak untuk menjadi anggota masyarakat bebas yang bertanggung jawab dalam saling pengertian, perdamaian, toleransi, kesetaraan antarjenis kelamin, dan persahabatan di antara semua kelompok rakyat, etnik, bangsa, dan agama, serta orang-orang dari kelompok masyarakat adat-tidak dijamin RUU ini.


Standar universal penting lainnya, menyangkut pendidikan dasar wajib dan gratis disikapi secara mendua oleh RUU. Sementara beberapa ketentuan (Pasal 7[1]; 12[2]; 35[2]) menjamin pendidikan dasar wajib dan gratis, ketentuan-ketentuan lain (misalnya Pasal 13[2.b]) mewajibkan peserta didik ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan.

Sifat mendua RUU juga muncul sehubungan prinsip nondiskriminasi. Meski RUU secara eksplisit menegaskan prinsip ini (Pasal 5 Ayat 1), namun dalam ketentuan-ketentuan operasionalnya, RUU ini hanya mengakui prinsip nondiskriminasi bagi warga negara (Pasal 6[1]). Sementara bagi warga negara asing (WNA), meski hak mereka atas pendidikan dijamin, namun pemenuhannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah (Pasal 13[4]). Ini menyisakan persoalan tentang bagaimana menjamin agar PP kelak tidak diskriminatif terhadap hak pendidikan WNA. Isu krusial lain dalam hal ini ialah mengenai anak-anak yang tidak berkewarganegaraan atau yang belum jelas status kewarganegaraannya yang berdomisili di wilayah Indonesia. Apakah hak mereka atas pendidikan harus diingkari karena ketiadaan status kewarganegaraan?


Standar penting lain yang ada dalam KHA yang tidak dijamin RUU ialah berkenaan penegakan disiplin di sekolah. KHA (Pasal 28 Ayat 2) menetapkan negara menjamin agar disiplin di sekolah diselenggarakan sesuai martabat kemanusiaan anak. Komite Hak Anak PBB merekomendasikan penghapusan penghukuman fisik (corporal punishment) sehubungan standar ini. Meski demikian, dan walau di Indonesia telah terjadi beberapa kasus penghukuman fisik yang membawa akibat fatal pada murid, RUU bahkan hingga ke ketentuan pidananya sama sekali tidak menjamin perlindungan peserta didik dari penghukuman fisik.


Singkatnya, RUU Sisdiknas masih menyisakan aneka masalah termasuk yang menyangkut tingkat kompatibilitasnya atas standar-standar HAM. Lalu mengapa tergesa-gesa untuk mengesahkannya?


Mohammad Farid Aktivis Hak Anak, Anggota Komnas HAM


Sumber : http://www2. kompas.com/ kompas-cetak/ 0305/24/opini/ 318139.htm

WORKSHOP” INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI ”( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI KOSTIK,GRAFIS & WARTEGG ) & PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI

Anda ingin terampil dalam menggunakan alat tes , menggabungkan berbagai alat tes menjadi satu profil keperibadian dan Membuat laporan Psikologinya

WORKSHOP” INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI ”( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI KOSTIK,GRAFIS & WARTEGG ) & PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI
Keterampilan menggabungkan battery tes ( Integrasi Alat Tes ) merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap calon Psikolog maupun para Psikolog yang saat ini berkecimpung dalam dunia kerja ( HRD ),maupun pendidikan .Bagaimana kita dapat mengetahui tehnik mengintegrasikan beberapa instrumen Psikologi secara benar sehingga dapat mencerminkan profil keperibadian subjek yang di tes. Setelah itu, hasil dari evaluasi psikologi dapat kita tuangkan dalam bentuk laporan Psikologi yang benar, mudah dipahami dan dimengerti oleh klien / user. Serangkaian ketrampilan tersebut baik integrasi maupun penyajian laporan merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh seorang Psikolog maupun calon Psikolog.
Dengan Nara Sumber :DR. ELMIRA N. SUMINTARDJA
( Psikolog, Staf pengajar Psikodiagnostik di Fak.Psikologi diBeberapa Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta )

Investasi Sebelum Tanggal 20 Oktober 2008
( Bonus Buku ” Psychological Testing And Assessment + DVD The Doodle Test ” )

PLUS BONUS

Investasi Sebelum Tanggal 15 Oktober 2008
GRATIS INSTALL SOFTWARE PROGRAM 8 ALAT TES DI TEMPAT PELATIHAN
(IST,MBTI,PAPI KOSTIK,PAULI, EPPS,APM, RPMA,16 PF)
Syarat : Peserta Membawa Laptop Untuk Diinstalkan
Software Program Hanya Dapat diinstall Satu Laptop /orang
Software Hanya dapat Diinstallkan di Tempat Pelatihan

DoorPrize !!! Software MBTI & DISC Versi BHS Indonesia
1.Mahasiswa S2 Profesi Psikologi / Psikolog Anggota HIMPSI Rp. 1.500.000
2.Psikolog Non HIMPSI Rp. 1.750.000
Setelah mengikuti Workshop ini peserta akan :
1 Mahir melakukan integrasi alat tes Psikologi
2 Dapat menggunakan instrumen secara benar dan tepat
3 Mampu membuat skoring dan interpretasi dengan benar
4 Mampu menganalisa kasus-kasus yang ada
Peserta Memperoleh :
1. Sertifikat yang dilegalisasi oleh HIMPSI JAYA
2. Snack dan Lunch
3. Workshop Kit
Tanggal & Tempat Pelaksanaan 25 & 26 Oktober 2008
Peserta Terbatas Hanya 25 Orang
Pukul 09.00 WIB – selesai Hotel Sofyan Jl.Cikini Raya No. 79 Jakarta 10330 – Indonesia
Pembayaran Transfer Via BCA a/n:
ANDRIAN YANUARNo. Rek : 2741385289
( BCA KCP, Pondok Bambu )
More Info :Icha : 0819 3260 5311 / 92167166Adhe : 0817 1440631
Bagi peserta yang anggota HIMPSI, harap melampirkan copy kartu keanggotaannya pada saat registrasi ulang. Jika pada saat registrasi, peserta tidak dapat menunjukkan kartu anggotanya, maka kami anggap peserta adalah psikolog yang non HIMPSI dengan biaya registrasi Rp.. 1.750.000
Peserta yang sudah melakukan pembayaran, harap segera konfirmasi ke Panitia dengan mengirimkan bukti pembayarannya via Fax ke ( 021 ) 70318127

PELATIHAN”TES PAPI KOSTICK”

Tes Papi Kostick saat ini mulai sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan / organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Bagaimana konsep serta administrasi dari tes ini ? Bagaimana scoring dan interpretasinya agar dapat menggambarkan individu secara lengkap untuk setting dunia kerja? Ingin tahu lebih banyak tentang Tes ini? Temukan jawabannya dalam acara :

PELATIHAN”TES PAPI KOSTICK”
Dengan Nara Sumber :Drs. Widura IM, MSi
( Psikolog, Staf pengajar Psikodiagnostik di Fak.Psikologi diBeberapa Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta )
InvestasiSebelum Tanggal 4 November 2008
( Bonus Software tes PAPI KOSTICK )
Biaya Peserta Rp 850.000( Peserta : S1 Psikologi – S2 Profesi Psikologi & Psikolog )
Door Prize !!! Satu Buah Laptop Axio

Setelah mengikuti Workshop ini peserta akan :
1 Mahir menggunakan tes Papi Kostick
2 Mengerti dasar teori, administrasi, skoring serta interpretasi dari Tes Papi Kostick
3 Mengerti bahwa Tes ini dapat digunakan untuk konseling, Promosi jabatan bagi HRD
4 Dan dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan interview

Tanggal & Tempat Pelaksanaan :8 November 2008
Pukul 09.00 WIB – Selesai
Harris Hotel Tebet, Jakarta .Address: Jl. Dr Saharjo no. 191, Jakarta 12960 , Indonesia

Peserta Memperoleh :
1. Sertifikat
2. Snack dan Lunch
3. Workshop Kit

Pembayaran Transfer Via BCA a/n:ANDRIAN YANUAR
No. Rek : 2741385289
( BCA KCP, Pondok Bambu )

v Peserta yang sudah melakukan pembayaran, harap segera konfirmasi ke Panitia dengan mengirimkan bukti pembayarannya via Fax ke ( 021 ) 70318127
More Info :Icha : 0819-32605311 / 92167166Adhe : 0817-144063

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.