Online Learning

Berikut ini adalah tulisan saya berdasarkan pengalaman pribadi dalam belajar melalui fasilitas internet, pengalaman sebagai pemimpin di Bintang Bangsaku dan SKB Penjernihan, dan catatan kuliah saya di Pascasarjana UNJ

Semoga bermanfaat

Online Learning, Individu dan Organisasi

Secara mendasar, belajar adalah suatu proses yang membuat seseorang memperoleh keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang dipengaruhi oleh interaksinya dalam suatu rangkaian peristiwa maupun dengan orang lain. Berbagai ahli telah mengemukakan pendapatnya mengenai apa dan bagaimana belajar tersebut, mulai dari Skinner dengan teori belajar perilaku (behaviouristik) sampai dengan teori konstruktivistik yang sekarang banyak dianut oleh para pemangku kebijakan pendidikan, salah satunya dengan menggunakan pendekatan problem based learning.

Dalam kaitannya dengan proses belajar formal di sekolah, kursus, maupun di lembaga-lembaga pelatihan karyawan, terdapat perbedaan yang relatif signifikan antara proses belajar secara tradisional dengan proses belajar secara berjaringan walaupun sama-sama menggunakan prinsip belajar siswa aktif.

Saat proses belajar secara formal tradional di lembaga pendidikan masih mengedepankan adanya proses tatap muka antara pembelajar dan guru (traditional classroom learning), maka sistem pembelajaran yang baru, baik yang jarak jauh (traditional distance learning) maupun menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (traditional e-learning) tidak lagi mengedepankan proses tatap muka tersebut. Sistem belajar secara berjaringan yang bersifat tertutup bahkan sudah mengedepankan kemandirian masing-masing pembelajar untuk mencari sendiri pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan-kemampuan yang baru walaupun masih berpanduan pada kurikulum yang berlaku tanpa adanya ketergantungan pada sosok nara sumber.

Secara khusus, jika diamati dari sisi pembelajar, sebenarnya ada 2 (dua) model pembelajar secara berjaringan, yaitu yang tertutup dan yang terbuka. Pada model pembelajar yang tertutup, dapat dikatakan bahwa materi, aktivitas dan waktu belajar serta tingkat kompetensi yang diperoleh masih sangat tergantung pada paket kurikulum yang telah baku, walaupun proses pencarian informasi untuk masing-masing materi tersebut tidak tergantung pada proses tatap muda dengan seseorang yang berperan sebagai nara sumber. Model pembelajar seperti ini banyak ditemukan pada individu-individu yang mengikuti pendidikan formal jarak jauh (istilah yang secara resmi ada dalam UU Sisdiknas) baik yang masih secara manual (paper based) maupun yang secara elektronik dengan memanfaatkan TIK.

Sementara itu, pada model pembelajar terbuka, dapat dikatakan bahwa materi, aktivitas, dan waktu belajar maupun tingkat kompetensi yang akan diraih sangat tergantung pada minat, motivasi, kompetensi awal dari masing-masing pembelajar itu sendiri. Individu-individu seperti ini melakukan proses pilah pilih materi secara mandiri dan sebagian besar menggunakan metode problem base learning, di mana kasus-kasus atau masalah-masalah yang menarik perhatiannya dikaji secara mendalam dengan menggunakan berbagai informasi yang diperolehnya dengan memanfaatkan teknologi jaringan, terutama internet Waktu belajar maupun tingkat kesulitan materi juga ditentukan sendiri oleh masing-masing pembelajar, tergantung pada kesempatan dan kebutuhannya.

Karakteristik proses belajar seorang pembelajar yang memanfaatkan teknologi jaringan, baik pada model pembelajar tertutup maupun terbuka, sangat terkait dengan wadah (organisasi) tempat ia berada, entah itu di sekolah, di lingkungan kerja, maupun di rumah. Oleh karena itu, wajar jika materi belajar, aktivitas yang dilakukan, waktu belajar, dan kompetensi yang diraih berbeda-beda, tergantung dari tujuan belajar masing-masing individu pembelajar tersebut.
Namun, jika dikaitkan dengan proses belajar yang memanfaatkan teknologi jaringan, maka ada persamaan karakteristik yang sangat menonjol yaitu kemandirian dan motivasi yang kuat untuk memperoleh sutau keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang “mungkin” lebih baik dari kondisi awal dari masing-masing pembelajar dengan cara mencari informasi, berlatih memecahkan masalah, berkolaborasi dengan suatu komunitas, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam membentangkan cakrawala secara global.

Sayangnya, dalam lingkup sebuah organisasi, seorang pembelajar sendirian saja “mungkin” tidak akan berpengaruh banyak pada kehidupan organisasi itu sendiri. Namun, jika mengingat bahwa adanya perubahan perilaku yang diakibatkan oleh interaksi antara individu dan organisasi, baik secara terpisah maupun bersama-sama dengan lingkungannya, maka bisa dikatakan bahwa dengan adanya individu-individu pembelajar dalam sebuah organisasi maka organisasi itupun berkesempatan untuk belajar menjadi lebih baik lagi.

Hal yang perlu diingat dalam kaitannya dengan proses belajar sebuah organisasi adalah tanpa adanya visi, nilai, dan tujuan yang diresapi bersama untuk menghadapi tantangan, baik yang internal maupun yang eksternal, maka keberadaan individu-individu pembelajar (bahkan yang bermodel belajar melalui jaringan sekali pun) di dalam organisasi tersebut tidaklah akan berarti bagi kemajuan organisasi maupun individu tersebut. Tantangan internal yang dimaksud di sini adalah individu (hal-hal yang berkaitan dengan perannya sebagai sumber daya manusia), produk dan jasa yang menjadi inti dari bisnis organisasi tersebut, kondisi keuangan, fasilitas, dan pemasaran produk maupun jasanya. Sementara tantangan eksternal dapat berupa kondisi ekonomi makro, lingkungan teknologi, kebijakan politis, budaya lokal maupun global.

Selain adanya visi yang jelas, nilai-nilai yang diresapi bersama, dan tujuan yang pasti, suatu dukungan dari manajemen puncak juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan organisasi dan individu-individu di dalamnya. Karakteristik kemandirian yang menonjol dari seorang pembelajar melalui jaringan tidak akan banyak berguna jika manajemen puncak gagal menjadi model pembelajar yang dapat menunjukkan nilai, harapan, dan perilakunya secara tepat. Motivasi untuk belajar menjadi lebih mampu, terampil, dan berpengetahuan pun akan gugur dengan sendirinya jika pihak manajemen tidak mendukung karyawannya untuk mengambil keputusan secara bijak dengan mempertimbangkan berbagai pengetahuan yang diperolehnya secara mandiri.

Yanti D.P.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: