Laskar Pelangi

Ada hal yang menggelitik saya dengan booming Laskar Pelangi, salah satunya adalah komentar teman kuliah saya yang mengatakan “Bohong kalau Anda tidak punya uang, dan kalau Anda memang serius menjadi guru maka Anda harus menonton Laskar Pelangi, agar diingatkan kembali mengenai kewajiban sebagai guru.”

Hmm … saya hanya tersenyum simpul ketika teman saya menyampaikan hal tersebut. Mungkin pengalaman saya yang sudah melanglang buana sampai di negeri seberang, kebiasaan saya yang membaca berbagai bahan dari internet dengan menggunakan pda phone, atau koleksi buku-buku psikologi berbahasa Inggris yang membuat teman saya berpikir bahwa saya memiliki banyak keuntungan dari sekolah ini. Segala sesuatu yang sebenarnya merupakan sisa-sisa kejayaan finansial di masa lampau, jauh sebelum saya mendirikan sekolah ini. Bedanya, saya memang suka membaca dan oprek komputer, jadi barang-barang tersebut selalu terlihat baru dan mengikuti perkembangan jaman.

Sayang sekali, masih saja ada orang yang melihat orang lain hanya dengan penampilan fisik.

Padahal, berbekal pengalaman selama kuliah beberapa belas tahun yang lalulah yang menarik saya untuk mendirikan sekolah ini dengan idealisme tinggi, memajukan pendidikan Indonesia, bukan memperkaya diri pribadi.

Sekolah ini, sudah seperti anak buat saya. Apapun akan saya lakukan, asal halal lho ya, untuk membuat sekolah ini tetap hidup dan membantu orang tua yang tidak mampu membiayai anaknya sekolah di tempat-tempat bertarif internasional tetapi bertaraf lokal. Sekolah ini juga membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang juga sangat memerlukan perhatian dan pendidikan dari hati yang tulus.

Kondisi pribadi saya jika dikaitkan dengan kenekadan saya mempertahankan sekolah yang membuat salah satu teman berkomentar “Kenapa nggak ditutup saja sekolahannya daripada Depe (nama panggilan saya) harus kehilangan satu demi satu asetnya.”

Komentar ini saya jawab … “Selama saya ikhlas, saya pasti akan dapat gantinya, bahkan lebih baik dari yang sudah saya lepaskan. Sekolahan pun tidak ingin mengambil profit dari masyarakat yang diladeni, hanya mengambil yang selayaknya saja untuk keberlangsungan program dan kesejahteraan karyawan. Saya dan teman-teman di sekolahan punya keyakinan yang sama, Gusti Allah ora sare …”

Ah … doakan saja sekolah ini akan terus ada dan berkembang tanpa melupakan idealisme kami.

Salam,

Yanti D.P.

2 Tanggapan

  1. Kak yanti…terharu nih…jangan menyerah kak…Sekolah Bintang Bangsaku itu sangat kami puja karena kurikulum nya ok banget, ngajarnya top banget. Anak jadi pintar, mandiri, dan berinisiatif. Bagi saya SBB adalah sekolah bertaraf Internasional dengan biaya lokal. Biar Joanne sudah SD, tapi sangat senang diajak main ke TK. Ibu2 juga kangen terus ngumpul di SBB kan? Malah saya pengen Jason (adik Joanne) tahun depan bisa sekolah di SBB… Kalau SBB ada SD nya, pasti Joanne saya sekolahkan di SBB.
    Tapi maaf kak…saat ini saya hanya bisa bantu doa… Kak Yanti dan teman2 guru jangan menyerah ya… Idealisnya dijalankan terus, tapi namanya hidup kesejahteraan itu perlu. Saya sering diskusi dengan teman2 (ortu eks murid SBB), gimana biar SBB bisa cukup dana dengan tidak mengurangi kurikulum, materi belajar yang bagus itu, tapi guru2 dan karyawan juga dapat income yang baik…cuma belum nemu jalan keluarnya nih…mau nyumbang sendiri belum cukup dananya…(hehehe..jadi malu…) sekali lagi maaf ya…Salam buat Kak Pipit, Kak Ayu, Kak Uthe, Kak Uwi, Kak Dimas, Kak Wied, Kak Pras, Kak Rustam, Mba Sari, Bu Yati…siapa lagi ya…? semuanya deh… HIDUP SBB!!!

  2. Usaha, ikhlas, dan sabar……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: