Kita dan konsistensi

Di forum yang saya ikuti, ada beberapa kasus orang tua yang kewalahan dengan tingkah laku anaknya, saya akan sharing jawaban-jawaban saya atas kasus-kasus tersebut.

Sis … anak tidak takut dalam arti takut dihukum … dia takut ditinggalkan

soal ancam mengancam … intinya gini … semakin keras kita maka akan semakin keras juga si anak, walaupun untuk sesaat ia tampak patuh …

kuncinya hanya di kata “konsisten”

konsisten itu … kalau kita sudah bilang ya ya berarti ya … kalau bilang tidak ya berarti tidak … dan harus jelas argumennya … nggak boleh sekedar meng-iyakan atau melarang seorang anak untuk melakukan sesuatu …

satu lagi … konsisten juga berkaitan dengan perilaku dan atau perkataan si ortu … misalnya … kita minta anak untuk belajar tetapi kitanya nyuruh sambil nonton tv … atau … kita nggak ngebolehin anak berkata-kata kasar (tidak pantas) tapi kalau ada mobil/motor yang nyalip tiba-tiba eh kitanya secara spontan berteriak dan memaki …

itu saja …

konsisten itu susah … kadang kita merasa bahwa kita sudah konsisten tapi ternyata kadang kita “lupa” dan “mengijinkan” sesuatu yang sebelumnya kita “larang atau sebaliknya …

sebagai guru, menerapkan konsistensi jauh lebih mudah karena frekuensi pertemuan kami dengan murid hanya 1.5jam – 5jam per harinya … sementara orang tua … ya hitung sendiri deh …

tapi, saya sendiri sudah berusaha menerapkan konsistensi itu di rumah, baik dengan keponakan-keponakan maupun anaknya karyawan yang tinggal bersama sama …

ada fenomena lucu (yang sebenarnya memprihatinkan buat saya) yang saya amati dari perlikau anak-anak yang tinggal bersama saya … yang paling muda usianya 18 bulan dan yang paling tua usianya sudah 8 tahun …

ketika bersama saya (pernah ada yang seminggu full bersama saya karena kelahiran si adik menyebabkan kedua ortunya harus berada di rumah sakit) atau mereka tahu bahwa saya berada tidak jauh dengan mereka, maka mereka tahu persis bagaimana harus bersikap, berperilaku, maupun bertutur kata …

menangis ataupun bertingkah laku aneh sebagaimana anak yang lainnya ya mereka lakukan, tetapi tidak dalam kadar yang berlebihan …

padahal saya tidak pernah sekalipun memukul atau menghukum mereka … yang saya lakukan hanyalah mengajak mereka berbicara di ruangan saya secara pribadi, hanya saya dan si anak (bahkan untuk anak yang berusia 18 bulan sekalipun)

isi pembicaraan? mereka harus bisa menjawab apa, kenapa, dan sebaiknya bagaimana atas apapun peristiwa yang membuat mereka “berulah”

lamanya diskusi bisa cepat (15-an menit) tapi bisa juga sampai 3 jam-an …

sayangnya … ketika bersama orang tuanya … perilaku kolokan (menangis berkepanjangan maupun “mengamuk” ketika meminta sesuatu) masih muncul juga …

ternyata setelah saya amati … orang tua mereka masih saja tidak konsisten … mungkin karena adanya 2 kepala dan 2 hati yang berperan (ayah dan ibu) …

salam,

Yanti D.P.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: