SISTEM PENDIDIKAN KITA MELAWAN HUKUM ALAM

Di bawah ini saya salin artikel menarik mengenai pendidikan karakter.

Pertama kali membaca, ada rasa senang dan juga ada rasa pahit. Senang, karena selain metode pelaporan siswa yang deskriptif naratif akhirnya diakui sebagai salah satu metode pelaporan yang sah bagi lulusan murid ternyata inti pendidikan kami di Bintang Bangsaku sekarang juga punya nama “Pendidikan Karakter”.

Saya ingat sekali, 7 tahun yang lalu ketika saya mendirikan Sanggar Kretaivitas Bobo cabang Penjernihan, yang sekarang menjelma menjadi Bintang Bangsaku, banyak sekali tantangan agar sistem kami diterima, baik oleh SKB sendiri maupun dengan masyarakat pengguna jasa kami (dalam arti orang tua siswa).

Laporan yang deskriptif dan naratif dinilai terlalu panjang dan berbelit-belit untuk menyampaikan hasil akhir proses belajar siswa di sekolah kami. Tidak hanya orang tua yang mengeluh, tetapi SD-SD yang menerima alumni kami-pun menuntut adanya nilai (bukan hanya penjelasan deskriptif) atas kemampuan siswa. Tidak satu pun permintaan itu kami turuti, kami masih saja menggunakan laporan yang deskriptif. Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu akhirnya kami diminta oleh beberapa rekan guru dan kepala sekolah untuk sharing bagaimana membuat laporan deskriptif yang baik dan benar. Laporan yang tidak melakukan labelling maupun bersifat judmental.

Sistem pendidikan kami yang menekankan adanya pembentukan karakter anak yang berbudi luhur, tidak hanya hapal ayat-ayat suci, tidak hanya pandai membaca, berhitung, dan menulis juga ditentang. Kami dikatakan mendidik anak secara liar. Anak-anak bebas berceloteh dan bertingkah laku di dalam kelas dalam batas-batas yang sudah disepakati bersama. Guru hanya bersifat seperti fasilitator dan sekaligus katalisator, bukan sebagai narasumber yang menuntut audience-nya duduk diam dan rapi.

Pelajaran agama di tempat kami yang mengedepankan pelajaran mengenai ke-Tauhid-an (Islam) dan cinta kasih (Kristen-Katholik) juga dinilai menyimpang karena anak-anak tidak dituntut untuk belajar membaca dalam huruf Arab, tidak dituntut untuk menghapalkan ayat-ayat suci, dan juga tidak diajarkan mengenai surga – neraka.

Untuk rasa pahit, silakan baca komentar dari Saudara Agung yang menyampaikannya secara sangat tegas

Hmm … biarlah waktu yang menjawab … yang pasti … alumni SBB bukanlah sembarang anak, dan bukan juga anak yang hanya mengenal teman dari kelompok masyarakat tertentu. Anak SBB diharapkan benar-benar menjadi Bintang bagi Bangsa Indonesia.

SISTEM PENDIDIKAN KITA MELAWAN HUKUM

ALAM-Ratna Megawangi

D alam pidato kenegaraan 16 Agustus 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi janji bahwa pemerintah memenuhi anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sesuai dengan UUD 1945 hasil amendemen. Diharapkan setelah kesejahteraan guru, materi, dan infrastruktur terpenuhi, kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.

Menurut Ratna Megawangi, praktisi pendidikan dan pendiri Yayasan Warisan Luhur Indonesia, besaran persentase itu bukan masalah inti pendidikan Indonesia. Yang penting dibenahi lebih dulu adalah sistem pendidikan dan hasrat guru untuk mengajar. “Itu yang menjadi roh pendidikan sumber daya manusia,” ujarnya kepada Akmal Nasery Basral, Yophiandi, dan Santirta dari Tempo, Selasa pekan lalu. Berikut petikannya.

Bagaimana Anda melihat janji Presiden dalam pidato kenegaraan yang akan meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN?

Memang ada asumsi peningkatan anggaran akan membuat kualitas pendidikan kita lebih baik, tetapi saya lihat masalahnya bukan di sana, melainkan pada sistem pendidikan dan kualitas guru. Kalau kita bicara roh pendidikan, kedua hal inilah yang perlu diperhatikan.
Pendidikan kita selama ini academic oriented. Contohnya, ujian itu selalu hafalan dari TK sampai SMA. Setiap sekolah mengajarkan teaching to the test. Padahal, kalau menurut taksonomi, hafalan itu merupakan tingkat terendah kecerdasan manusia. Menurut (Albert) Einstein, binatang pun bisa diajarkan menghafal. Akibatnya, aspek kreativitas, deep thinking, tidak berkembang baik. Interpersonal, refleksi, emosi, spiritualitas, tidak berkembang baik. Salah satunya terlihat pada entrepreneurship kita yang masih rendah. Menurut Ciputra, rasio (entrepreneur dibanding jumlah penduduk) kita cuma 0,18 persen. Padahal sebuah negara untuk bisa maju membutuhkan sedikitnya dua persen entrepreneur.

Sejauh mana angka-angka itu menjadi penghambat?

Sejak kecil anak di Indonesia tidak dibiasakan berpikir kreatif, karena ada sistem peringkat dari satu sampai sepuluh yang membuat mereka takut berbuat salah. Takut salah itu adalah cerminan takut mengambil risiko. Sikap ini akhirnya terbawa ke dunia kerja. Ini yang membuat orang Indonesia berpikir selalu mengikuti juklak. Padahal orang kreatif itu yang berpikir keluar dari juklak. Jadi, walaupun sudah (ada kenaikan anggaran menjadi) 20 persen, tetap tak akan ke mana-mana pendidikan kita.

Apa yang sebaiknya menjadi prioritas pembenahan?

Pertama, pelajaran tidak boleh terlalu banyak, terutama di usia dini, 14 tahun ke bawah. Di usia 10 tahun ke bawah di mana otak berkembang sampai 95 persen, kita ha rus betul-betul membuat sistem pendidikan yang fun. KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) itu sebenarnya bagus, tapi penekannya balik lagi ke teaching to the test bagi anak-anak SD.
Lalu dari guru yang kurang adalah spirit of teaching. Banyak guru yang tidak tahu bagaimana menjadi guru yang benar walau sudah sarjana. Guru yang berhasil adalah guru yang membuat anak terus ber tanya, dirindukan anak-anak. Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang kalau libur, atau murid-muridnya dipulangkan cepat, para murid justru enggan karena mereka maunya tetap di sekolah. Sekolah itu kan berasal dari kata Yunani scholeia, yang artinya tempat bersenang-senang. Sekarang, sekolah kita jadi tempat anak-anak bersenang-senang atau menakutkan?

Ada kecenderungan jam sekolah anak-anak semakin panjang sajabahkan sampai sore hari? Apakah itu tidak membuat anak jenuh?

Tidak apa-apa sekolah sampai malam sekalipun asal fun. Kalau tidak fun, sampai jam 10 pagi pun sudah capek sekali. Jadi, yang penting adalah membuat suasana bagaimana mereka tidak merasa belajar, tapi bermain, padahal sebenarnya mereka belajar. Singapura sudah meninggalkan sistem pendidikan berorientasi akademik, tapi lebih pada sisi holistik, menyangkut emosi dan sosialnya. Jepang dan Korea Selatan juga begitu. Hukum alam itu menunjukkan mereka yang berIQ di atas 120 hanya 10 persen dari populasi. Yang ber-IQ di atas 115 sekitar 15 persen. Sisanya yang mayoritas sekitar 85 persen, memiliki IQ di bawah itu. Karena itu, kalau fokusnya pada academic oriented, 85 persen siswa pasti tak bisa mengikuti.

Contoh riilnya bagaimana?

Olimpiade fisika, olimpiade matematika, dan sebagainya itu. Saya tanya ke Profesor Yohanes Surya (pembimbing tim Olimpiade Fisika Indonesia), bagaimana caranya menciptakan para juara seperti itu? Dia bilang yang dibina itu adalah yang IQ-nya 160 ke atas. Jumlah murid seperti ini cuma 0,0001 persen dari populasi atau sekitar 3.000 anak Indonesia. Kalau seperti ini, nggak dibina pun mereka belajar sendiri sudah jago.
Yang harus kita pikirkan adalah yang mayoritas. Di Swedia, saya pernah berkunjung ke satu SMA yang punya 16 jurusan. Ada yang untuk menjadi babysitter, koki, perancang mode, dan sebagainya, selain jurusan sains dan matematika.
Saya hitung komposisi murid berdasarkan jurusan yang mereka ambil, ternyata yang mengambil sains dan matematika itu jumlahnya hanya sekitar 15 persen. Klop dengan hukum alam tadi.
Sistem pendidikan kita malah terbalik karena melawan hukum alam (tertawa). Kalau melawan hukum alam, akibatnya semua rusak, mental, karakter, kepercayaan diri.
Jadi, kenapa kita sebagai bangsa gampang marah, karena sejak kecil kita dipaksakan untuk menerima sesuatu yang bukan seharusnya kita terima. Anak-anak gampang stres.

Ciri-ciri anak stres itu bagaimana?

Anak itu akan nggak suka sekolah. Entah karena pelajaran maupun karena faktor guru. Input dan respons otak anak itu tak bisa dibohongi. Dia nggak nyaman.
Ada pendapat bahwa para pendidik di tingkat dasar justru seharusnya para doktor dan profesor yang mengerti padagogi. Anda setuju?
Saya nggak yakin kalau profesor otomatis bisa mengajar di TK atau SD. Ketika saya ingin membuat TK nonformal di desa, saya kesulitan mencari guru yang memadai.
Akhirnya direkrutlah lulusan SMP yang membantu mengajar di TK.
Kami beri pelatihan praktis. Ternyata mereka bisa membuat sekolah menjadi tempat menyenangkan bagi murid. Jadi, yang penting ada lah guru itu punya ilmu the spirit of teaching. Mau berkorban. Sekolah kami mengembangkan konsep community based, yang bayar guru adalah orang tua murid. Ada (orang tua) yang bayar Rp 8.000-10.000 per bulan. Karena itu bayaran guru paling banter Rp 100 ribu. Herannya, kok mereka masih bertahan? Masih mau mengajar? Saya pikir itu bisa terjadi karena mereka memang sudah jatuh cinta pada dunia pengajaran.


Dari konteks ini, bagaimana melihat program pemerintah mengenai wajib belajar sembilan tahun yang dimulai dari umur 7 tahun?

Sekarang pemerintah sudah sadar dan membentuk banyak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di mana-mana, karena ada istilah six is too late. Ini juga menjawab kenapa sumber daya kita rendah karena fondasi selama ini juga tak kuat.
Kalau fondasi tidak kuat, biar sudah tingkat lanjutan tetap saja tak bisa bagus. Ini yang kami antisipasi, misalnya di Muara Karang, tempatnya anak-anak kelas bawah. Atau di Tapos yang banyak anak-anak tukang ojek. Sekarang ini sudah ada sekitar 700 sekolah kami yang seperti ini, dengan murid rata-rata 30 orang per kelas. Mereka kritis sekali, bisa bertanya ini-itu karena, meskipun masih kecil, sudah punya prinsip. Yang kita tanamkan bukan sekadar knowing the good, tapi juga reasoning the good, feeling the good, dan akhirnya acting the good sehingga mereka menjadi agent of change di kampungnya. Mereka berani menegur orang dewasa yang buang sampah sembarangan. Yang ditegur pun nggak marah karena yang mengingatkan adalah anak kecil. Malah jadi lucu dan malu sendiri orang itu (tertawa).

Bagaimana melihat penetrasi pihak internasional dalam pasar preschool di Indonesia yang belakangan ini makin menjamur?

Sekolah asing itu bagus-bagus.
Saat ini kita hidup dalam era globalisasi, kenapa kita mempersoalkan asing atau lokal? Bagus itu kan universal. Bagi yang punya duit, bisa akses, silakan saja. Tapi ini kan paling satu persen dari masyarakat.
Berapa banyak sih yang bisa membayar uang sekolah TK sebesar Rp 20 juta sebulan? Makanya kami membangun sekolah berbasis karakter yang lebih bisa diakses masyarakat banyak. Menurut saya, pendidikan yang berbasis agama bisa juga menjadi berbahaya jika aspek kognitif terlalu ditekankan, misalnya doa-doa hafalan seperti di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), kalau anak nggak bisa lalu disabet sehingga membuat mereka ketakutan. Seorang kepala TPA di Kalimantan Selatan yang ikut pelatihan sekolah karakter langsung nangis mengingat metode pendidikannya selama ini. Akhirnya kami mulai masuk juga ke TPA dengan meningkatkan sistem mereka menjadi TK nonformal. Belajar Al-Quran kan juga bisa dengan suasana yang menyenangkan, misalnya dengan menyanyi lebih dulu.

Inspirasi membuat pendidikan berbasis karakter ini dari mana?

Saya terinspirasi oleh Lee Kuan Yew. Singapura sewaktu berpisah dengan Malaysia itu kan kondisinya critical. Mereka nggak punya apa-apa, sumber daya alam minim, masyarakatnya pun rentan konflik karena berbagai ras ada di sana, India, Cina, Melayu. Lee adalah seorang filosofi, maka dia melakukan pemberdayaan sumber daya manusia dengan membuka 350 TK. Ini social engineering. Yang diajarkan itu karakter, bagaimana kebersihan, disiplin. Tak sampai satu generasi di tahun 1970-an Singapura sudah menjadi negara yang tertib, menjadi tempat yang menyenangkan, menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Ini direncanakan semuanya. Indonesia mungkin too late ya, tapi tetap harus dimulai.
Masyarakat mulai berbenah. Ada almarhum Cak Nur (Nurcholish Madjid), Haidar Bagir dengan sekolah Lazuardinya. Biarkan masyarakat membantu pemerintah.

Kalau guru bisa diajarkan, orang tua murid di rumah bagaimana? Anak-anak itu kan menghadapi orang tua mereka di rumah yang belum tentu sama pandangannya mengenai pendidikan?

Tak jadi masalah. Para orang tua malah terheran-heran kok anak saya sudah bisa baca? Kok malah sudah nasihatin saya? Para orang tua itu kita beri tahukan apa yang dipelajari anak-anak mereka di sekolah, misalnya soal kejujuran. Tinggal dibuat pemberitahuan kepada orang tua agar memberikan ajaran tentang kejujuran. Semua poin yang perlu diajarkan di rumah dituliskan. Hasilnya malah membuat orang tua dan anak tambah akrab karena batinnya diikat.
Bagaimana kalau ada yang mengaitkan kesuksesan sekolah ini dengan posisi Pak Sofyan Djalil di kabinet?
Kami mulai sekolah ini di tahun 2000, sementara Sofyan masuk kabinet 2004. Pada saat awal beroperasi, Sofyan menjadi devil’s advocate. Apa saja dia kritik. Akhirnya, saya jalan cari sponsor sendiri, seperti ke Exxon Mobil. Sampai sekarang kalau ada BUMN yang mau menjadi sponsor, saya mewantiwanti agar lihat dulu sekolahnya, dipahami dulu konsepnya, bukan karena suami saya Menteri Negara BUMN. Sebab, kalau bersifat topdown pasti tak akan long lasting.
Dari 55 sponsor sekolah karakter, memang ada tiga-empat BUMN.
Mungkin karena itu ada yang “menembak”, bahwa karena kedudukan suami, yayasan ini mendapat miliaran rupiah. Bahkan saya dibilang makmur. Silakan diaudit, sepeser pun saya tidak digaji. Ini juga sudah diaudit, tanya kepada 55 orang yang kerja di sini. Tapi saya nggak ambil pusing. Justru kami yang membantu mereka (perusahaan), karena membuat hasil corporate social responsibility mereka terlihat.

Apa target yang belum tercapai?

Target saya harus ada 10 ribu sekolah karakter yang bisa kami bentuk untuk membantu pendidikan di Indonesia. ?

3 Tanggapan

  1. Saya kurang sependapat ketika satu SMA di swedia dengan 16 jurusan diajukan sebagai bukti mengenai pembelajaran akademik itu melawan hukum alam.

    Pertama: yang diobservasi hanya satu SMA. jelas ini tidak representatif terhadap keseluruhan populasi (karena hukum alam maka tentunya populasi nya anak seluruh dunia).

    Kedua: secara statistik, probabilitas seorang anak secara acak masuk dalam salah satu jurusan adalah 6.25 persen. Ini berarti jumlah 15% sudah berada di atas probabilitas rata-rata.

    Ketiga: konsep mengenai IQ sendiri sangat terikat dengan pembuatan norma nya. Artinya skor IQ di atas rata-rata memang akan selalu jauh lebih sedikit dari jumlah anak dengan IQ rata-rata. Jadi dapat dibilang kondisi ‘hukum alam’ nya seperti apapun kondisi IQ akan selalu seperti itu.

    Keempat: saya tidak percaya bahwa kegiatan belajar matematik dan sains hanya diperuntukan bagi yang ber IQ tinggi. Karena bahasa, matematik dan sains itu sebenarnya sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan jelas tetap membantu seseorang beroperasi dalam kehidupannya sehari-hari. Jika matematik hanya dipandang sebagai ilmu hitung, mungkin seolah tidak banyak gunanya. Tapi sebenarnya matematik (dan bahasa dan sains tentunya) itu juga mengajari logika berpikir dan disiplin berpikir tertentu. Ini yang menurut saya perlu dimiliki oleh siapapun (dalam range IQ rata-rata paling tidak). Tanpa disipliln ini, orang akan mudah jatuh pada kepercayaan buta, fundamentalis berpikir tanpa logika, bahkan mungkin tahayul.

    Kelima: Salah satu syarat kreativitas adalah adanya bahan untuk bertindak kreatif. Artinya, seseorang tetap perlu belajar materi tertentu sebelum menjadi kreatif. Ini berarti seseorang juga perlu melalui proses menghafal sebelum melalui proses berikutnya. Contoh: sebelum bisa menggunakan kata, kita perlu menghafal dulu bentuk huruf dan arti kata.

    Keenam: Kesalahan penggunaan tes saat ini memang penekanan pada tataran pengetahuan saja (hafalan). Padahal tes yang baik (pilihan berganda sekalipun) dapat dirancang untuk mengungkap kualitas kognitif yang lebih tinggi seperti aplikasi atau evaluasi.

    Ketujuh: menurut saya pemberian nilai itu mengandung pembelajaran penting juga. Bahwa setiap tindakan kita mengandung konsekuensi. Dan sebenarnya juga berguna bagi siswa untuk mengukur pencapaiannya sendiri. Tinggal bagaimana anak diajak mempersepsi nilai yang mereka peroleh itu.

    Ke delapan: saya pikir jika sekolah, fun seperti apapun, dilakukan sampai jam 10 malam itu juga melawan hukum alam. Dan belajar harus selalu fun juga melawan hukum alam. Belajar itu selalu ada rasa sakit. Bayi yang jatuh tiap kali belajar jalan pasti akan selalu menangis karena sakit. Jadi belajar tidak selalu fun. Tapi justru ini yang membuat manusia jadi manusia. Manusia memahami bahwa apa yang dapat mereka raih atau kerugian yang dapat mereka alami jika berhenti belajar itu lebih besar dari rasa sakit sementara ini. Ini yang membuat manusia bergerak maju meskipun dihadapkan pada tantangan dan sakit.

    Ke sembilan: Saat ini sudah mulai diperkenalkan adanya ‘developing expertise’ sebagai alternatif dari IQ. Artinya kemampuan seseorang untuk mengerjakan sesuatu itu bukan karena ‘bakat’ semata-mata. Tapi adanya ‘keahlian yang berkembang’. Artinya orang bisa mengerjakan matematik itu bukan semata-mata karena abilitas inheren, tapi juga adanya kemampuan yang dapat dikembangkan melalui latihan.

    Wih … ada Pak Agung mampir ke sini … makasi banget ya Gung sudah menyuarakan hati kecilku, antara rasa senang dan rasa pahit yang kurasa ketika baca artikel ini pertama kali … hehehe …

    yang kuceritakan di pengantar artikel hanya rasa senang dengan adanya “Pendidikan Karakter” … tapi rasa pahit tidak kuceritakan, lebih karena alasan teknis birokratis … tau’ dong … Indonesia gitu loh …

    catatan kecil saja untuk keberatan yang nomor tujuh, khusus untuk anak-anak usia dini, pemberian nilai sebaiknya dihindari kalau guru tidak bisa menjelaskannya secara bijak karena kapasitas kognitif anak-anak balita belum sampai pada kemampuan menganalisa secara abstrak. Pemberian nilai secara konservatif seperti yang selama ini dilakukan akan dicerna secara konkret oleh anak dan akan melekat sebagai label yang mereka yakini mereprentasikan dirinya secara general.

    Sekali lagi … makasi ya …

  2. Saya mau bertanya nih.

    1. Diantara analisa Ibu Ratna, adakah yang Pak Agung setuju?

    PS. Untuk perbandingan skl di Swedia, dia terlalu kagum (impressed), jadi analisanya tidak penuh dari keseluruhan.
    Atau mungkin dari hasil implementasi (action) yang dia lakukan sudah jelas hasilnya (hasilnya cocok dengan character orang2 Indonesia). Kita blm tau kalo hasil di masa depan apakah ada kekurangan2 (maksudnya efek samping). Mungkin dia perlu research akan hasilnya, saya yakin beliau smart dalam hal ini.

    2. Apakah yang anda telah lakukan sampai saat ini ? Apakah sama dengan ibu Ratna lakukan, dia sangat berdedikasi dengan bekerja jujur dan niat tulus untuk memajukan pendidikan Indonesia (menuju pendidikan yg berkwalitas dan good character of new generation).

    PS. Saya mungkin perlu juga banyak baca dan mencoba mengerti mengenai masalah ini.

    Comment: saya setuju dengan belajar perlu ada rasa sakit juga, seperti anak bayi belajar berjalan. Yg artinya di kurikulum itu perlu ditampah study case (practical experience dari simulation/real problemse yang diberikan dari guru/ortu atau pengalaman si anak didik, dan guru/ortu terutama memberikan analisa kenapa dan how to solve the the problems)

    Mohon maaf jikalau ada perkataan yg tidak berkenan, saya hanya ingin mencoba mengerti dari kedua sisi, tanpa mendukung siapa2.

    NB. Marilah kita memposisi diri kita se-profesional mungkin jangan meng-pro atau kontra langsung. Menilai dulu argumen yang lain, kita bisa saja sependapat langsung atau mencoba mengerti dulu (seperti makan nasi, kita kunyah, kita telan, terus badan yang menyerap inti sarinya), jadi pro/kontra kemungkinan jadi kecil.


    Pak Agung adalah dosen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang sekarang sedang menempuh kuliah pascasarjana bidang Statistik di US

    Setahu saya, mulai dari masa kuliah sampai saat ini, beliau sangat concern dengan bidang pendidikan.

    Tapi biarlah Pak Agung yang menjawabnya sendiri, saya akan coba kontak beliau ya …

  3. Sebelumnya saya perlu mengklarifikasi posisi saya terkait pendapat Ibu Ratna. Saya tentunya tidak sedang melakukan usaha memunculkan pro-kontra.Kalau diamati, saya bahkan tidak bicara apa-apa mengenai sekolah karakter. Saya tidak melakukannya karena saya memang tidak tahu banyak mengenai sekolah karakter.

    Yang ingin saya lakukan lebih pada mengajukan cara berpikir alternatif atau cara interpretasi alternatif terhadap interpretasi Bu Ratna mengenai realitas yang beliau temukan. Ini dilakukan demi tegaknya disiplin berpikir yang jernih. Dengan harapan tentunya nanti bisa menuntun pada pemecahan masalah yang lebih baik. Oleh karena itu jika only4u membaca komentar saya, saya lebih banyak mengkritisi bagaimana interpretasi terhadap temuan yang dilakukan oleh Bu Ratna atau mengajukan kemungkinan cara berpikir lain yang mungkin. Jadi dalam hal ini saya tidak sedang menempatkan posisi kontra atau pro terhadap ide mengenai sekolah karakter.

    Saya sependapat bahwa pendidikan kreativitas itu penting, tapi bukan berarti menghafal bisa diabaikan. Ada hal-hal tertentu yang menurut saya memang perlu dihafal. Namun demikian saya juga sependapat bahwa sekolah yang saya alami seringkali menekankan hafalan terlalu banyak.

    Saya sependapat dengan only4u bahwa perlu ada penelitian untuk melihat dampak riil sekolah karakter ini pada anak, sehingga kualitasnya dapat lebih dijamin atau dapat ditingkatkan.

    Mengenai apa yang telah saya lakukan? Jika dibandingkan Bu Ratna tentunya saya belum ada apa-apanya. Saya masih terus belajar sampai sekarang dan mencari celah untuk lebih banyak berkiprah. Dan kiprah saya saat ini masih terbatas pada mengajar sebaik mungkin mahasiswa-mahasiswa yang dipercayakan pada saya.

    Meskipun saya tidak sedang memposisikan diri sebagai kontra dari ide mengenai sekolah karakter, saya pikir pro/kontra juga ada baiknya. Karena bisa mengasah sebuah ide menjadi lebih matang. Sejauh pro-kontra dilakukan dengan hati yang tulus demi kebaikan bersama baik dari pihak yang kontra maupun pro. Dalam arti, setiap pro/kontra tentunya didasarkan pada disiplin berpikir yang baik, data yang jelas, selain dilakukan demi kebaikan bersama. Bukankah kreatif juga berarti ‘tidak segan bertanya’ dan ‘menilai dari sudut pandang berbeda’?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: