Seputar Pengukuran dan Pengujian Keberuntungan

copied from milis, originaly written by

Definisi

Terlebih dahulu kita sama-sama lihat definisi singkat tentang keberuntungan (luck, fortuity, fortune), yang saya kutip dari wikipedia.

Luck (also called fortuity) is a chance happening, or that which happens beyond a person’s control. Luck can be good or bad.

Sumber:: http://en.wikipedia .org/wiki/ Luck (Sebagai catatan, penjelasan mengenai fortune di wikipedia juga merujuk ke halaman luck ini.)

Kalau melihat definisi tersebut, terlihat bahwa keberuntungan memiliki sifat “chance” (kebetulan) yang tidak dapat dikontrol.

Apakah Keberuntungan adalah Konstruk Psikologis?

Weiner, Frieze, Kukla, Reed, Rest & Rosenbaum (1971) mengemukakan luck sebagai konstruk psikologis, yakni sebagai unsur/komponen “Causal categories used to explain successes and failures“.

Sumber : http://www.unr. edu/gaming/ 13th_Conference_ Web_files/ Files/Abstracts/ Binge% 20Gambling,% 20Self-Exclusion ,% 20and%20Treatment% 20Readiness/ ICGR_Tahoe_2006% 20wohl_pdf. pdf

Kalau dari pertanyaannya Mikha, maka ia adalah komponen atribusi. Hal yang serupa dapat terlihat dari penelitian yang dilakukan oleh Professor Richard Wiseman yang bertahun-tahun mempelajari keberuntungan.

Wiseman’s research has involved him being with those who define themselves as either lucky or unlucky, and examining the reasons why. Wiseman started by asking randomly chosen UK shoppers whether they had been lucky or unlucky in several different areas of their lives, including their careers, relationships, home life, health and financial matters. Of those adults he surveyed, 50% considered themselves lucky and 16% unlucky. Those lucky or unlucky in one area were more likely to report the same in other areas. Most experienced either consistent good or bad fortune. Professor Wiseman therefore concluded that luck could not simply be the outcome of chance events.

Sumber : http://www.totalgam bler.com/ casinos/features/ 451/gambling_ psychology.html

Pada penelitian tersebut, WIseman meminta kepada peserta survey untuk menilai diri mereka sendiri apakh orang yang beruntung atau tidak beruntung. Pendekatan yang dipergunakan jelas persepsi subyektif. 50% menyatakan bahwa diri mereka adalah orang beruntung (lucky) atau u’ hokkie kalau bahasa cinanya dan 16% menilai diri mereka sendiri sebagai orang yang kurang beruntung (unlucky) atau mo’ hokkie.

Apakah orang-orang yang merasa beruntung (lucky) tersebut memang benar-benar memiliki keberuntungan?

So can ‘lucky’ people win at gambling without trying? Professor Wiseman tested this proposition by getting 700 people to gamble on the National Lottery. The ‘lucky’ participants were twice as confident of winning as the ‘unlucky’ ones. However, results showed that only 36 participants actually won any money, and these were split evenly between the two groups. The study showed that being lucky doesn’t change the laws of probability!

Sumber : http://www.totalgam bler.com/ casinos/features/ 451/gambling_ psychology.html

Apakah keberuntungan dapat diukur?

Swas:

Kalau sebagai researcher, yang akan jadi fokus saya untuk dijawab adalah pertanyaan ke-4 dulu: apakah “hoki” merupakan konstruk psikologis dan dapat dibuat alat ukurnya?

Pertanyaan Swas ini sebenarnya agak ambigu. Alat ukur yang mau dibuat itu untuk tujuan:

  1. Mengkategorikan orang ke dalam kelompok beruntung (lucky) dan tidak beruntung, baik berupa self-attribution seperti contoh yang dilakukan oleh Wiseman tersebut di ata, maupun pengelompokan berdasarkan penilaian orang lain seperti contoh ramalan psikolog atau ramalan ahli tarot yang pernah saya ilustrasikan pada kisah Empat Sekawan. Atau;
  2. Menilai keberuntungan yang sesungguhnya, baik berupa kriteria menang lotre seperti yang dipergunakan oleh Wiseman, maupun menang judi seperti yang pernah saya ilustrasikan pada kisah Empat Sekawan.

Kalau menilik uraian Swas berikut ini:

Nah… kalau saya disuruh membuat alat ukur “keberuntungan” , saya nyerah aja deh… hehehe… Males! Kebayang berapa variasi paradigma yang ditemukan dari [misalnya] 100 orang 🙂 Biasanya psikolog kalau mau bikin alat ukur suka cari salient belief dulu kan ;)?Itu baru nemu berbagai cara pandang terhadap “keberuntungan” itu sendiri. Belum mengukur “keberuntungannya” itu sendiri 🙂

Saya menduga bahwa yang Swas maksud sebagai “alat ukur” keberuntungan adalah alat ukur yang dipergunakan psikolog untuk memotret “potensi keberuntungan” seseorang, sehingga ia dapat diklasifikasikan setidaknya menjadi orang “berpotensi beruntung” (lucky ala Wiseman) atau “berpotensi kurang beruntung” (unlucky versi Wiseman). Dalam uraian saya, saya pergunakan istilah “ramalan/prediksi psikologis” akan keberuntungan seseorang. Sejenis “ramalan/prediksi ahli tarot” terhadap keberuntungan/ hokkie seseorang.

Jika dugaan saya tersebut di atas benar, maka tujuan penelitiannya agak berubah/bertambah, yakni menjadi :


Mengkonstruksi alat ukur untuk mendiagnosa “potensi keberuntungan” seseorang.

Ini bisa menjadi penelitian tersendiri, bisa juga menjadi bagian dari penelitian yang bertujuan untuk mengetahui


Apakah keakuratan pendekatan psikologis dapat diandalkan untuk meramalkan hokkie/keberuntunga n seseorang.

Jika menjadi bagian, maka memang sengaja diciptakan dulu prosedur pengukuran psikologis yang sistematis untuk mengkategorikan apakah seseorang itu lucky atau unlucky, sebelum dilakukan pengujian keakuratan.

Dalam konteks disain pengujian keakuratan, menurut saya tidak terlalu perlu untuk dikonstruksi secara khusus alat ukur potensi keberuntungan tersebut. Dasar pemikirannya antara lain adalah:

  1. Dari definisinya, luck itu sendiri bersifat chance yang diluar kontrol. Artinya, kemungkinan berubahnya sangat besar dan diluar kontrol. Secara teknis, reliability nya kemungkinan besar akan rendah. Apa yang diukur saat ini, belum tentu sama dengan yang diukur pada waktu yang lain.Kalau mau dipaksakan pun, akan menghasilkan hasil yang aneh seperti  penelitian John O’Doherty atau penelitian Steven Gaulin yang pernah Swas kemukakan sendiri.
  2. Bukankah Swas sendiri menyatakan bahwa “Sementara hasil akhirnya kan tidak hanya ditentukan oleh faktor si manusia itu sendiri, melainkan juga oleh faktor eksternalnya, dan interaksi antara faktor internal & faktor eksternal.

Karena itu, dalam disain pengujian ini saya tidak menyertakan tahapan konstruksi alat ukur untuk mendiagnosa “potensi keberuntungan” tersebut.

Bagaimana meramalkan keberuntungan?
Jika tidak dibuatkan alat ukur terlebih dahulu, lantas bagaimana pendekatan psikologis dapat diuji keakuratannya untuk meramalkan keberuntungan?

Dari contoh penelitian yang dilakukan Wiseman tersebut di atas, dapat terlihat penggunaan “self-attribution” sebagai prediktor.  Dari hasil penelitian Wiseman itu sendiri, maupun dari kisah “Empat Sekawan Tertabrak” maupun “Empat Sekawan Berjudi”, dapat terlihat bahwa “self-attribution” yang dilandasi persepsi subyekti tersebut, tidak tepat dijadikan prediktor.

Berdasarkan hal itulah, kemudian pada kisah “Empat Sekawan Diramal Psikolog” saya memberikan ilustrasi singkat dan sederhana bagaimana psikolog memprediksi keberuntungan seseorang. Dalam gagasan saya, jika akan dilakukan pengujian keakuratan, maka kepada psikolog-psikolog yang akan menjadi sampel penelitian, diberikan kebebasan untuk memakai pendekatan dan pengetahuannya masing-masing untuk memprediksi keberuntungan seseorang. Terserah, yang bersangkutan mau pakai teori apa, pendekatan apa, yang penting hasil akhirnya, mereka diminta untuk memberikan penilaian apakah seseorang itu beruntung (lucky) atau tidak beruntung (unlucky). Dalam konteks inilah, apabila kategorisasinya mau lebih terdiferensiasi (secara teoritis lebih tajam-akurat) saya mengajukan pemikiran untuk memperluas kategorisasi dari sekedar lucky-unlucky menjadi very lucky (sangat beruntung), lucky (beruntung), average (bisa beruntung bisa tidak), unlucky (tidak beruntung) dan very unlucky (sangat tidak beruntung).

Prosedur memberikan kebebasan kepada psikolog untuk memakai caranya masing-masing tersebut kiranya sepadan dengan  keberagaman teknik yang dipergunakan ahli tarot untuk meramal masa depan seseorang. Seperti yang dikemukakan Leo dan telah saya kutip:

Jawaban 11: Jangan bingung kalau bertemu dengan para pewacana yang menggunakan teknik berbeda-beda, walaupun dasarnya tetap sama. Setiap pewacana memang sebaiknya menemukan tekniknya sendiri yang paling pas buat dirinya dantidak perlu merasa “prihatin” kalau ternyata tekniknya itu lain dari yang lain.


Sumber: http://groups. yahoo.com/ group/ psikologi_transform atif/ message/45668

Mudah-mudahan cukup jelas untuk Swas, sekaligus menjadi tanggapan untuk pernyataan Swas yang menyatakan:

Tapi yang lebih aneh adalah skala ini:

Jika pada psikolog tersebut diminta untuk meramalkan masing-masing kawannya tersebut dengan kriteria:
1. Sangat Sial (kemungkinan kalah sangat besar)
2. Sial (kemungkinan kalah besar)
3. Biasa-biasa (bisa kalah bisa menang)
4. Beruntung (kemungkinan menang besar)
5. Sangat beruntung (kemungkinan menang sangat besar)

Bagaimana Mengukur Keberuntungan ?

Bagaimana mana mengukur keberuntungan yang sesungguhnya? Istilah “lucky” dan “unlucky” tersebut pada bagian terdahulu sebenanrnya bukan pengukuran “lucky” dan “unlucky” dalam arti yang sesungguhnya, tetapi lebih kepada “self attribution” dan “prediction” . Menurut Mikha, pendekatan “self report” memiliki kelemahan:

Kekurangan metode ini adalah kesulitan dalam hal memilih situasi yang layak menjadi representasi untuk menilai orang ini lucky atau unlucky

Sejauh pemahaman saya, situasi “perjudian” relatif dapat menjadi representasi untuk menguji keberuntungan seseorang. Cirinya dekat bahkan dapat dikatakan memenuhi persyaratan berdasarkan definisi luck.

Luck (also called fortuity) is a chance happening, or that which happens beyond a person’s control. Luck can be good or bad.

Dapatkah Dikonstruksi Alat Ukur Potensi Keberuntungan?

Swas:

Tapi… masih mungkin sebenarnya bagi si psikolog untuk meningkatkan keakuratan prediksinya. Misalnya dengan melihat langsung situasi tempat mereka akan berjudi. Bikin semacam “analisa jabatan” bagi si calon penjudi 🙂 Memperhatikan karakteristik si calon penjudi, dan karakteristik lapangannya, maka dapat lebih akurat perkiraan keberhasilan si calon penjudi 🙂

Walaupun saya memperkirakan tingkat keberhasilannya relatif kecil, saya tidak menutup kemungkinan bahwa dapat disusun prosedur pengukuran yang dapat dipergunakan untuk mendiagnosa “potensi keberuntungan” yang dapat dipakai untuk  meramalkan keberuntungan/ hokkie seseorang. Tetapi, sebagaimana juga pernah saya kemukakan kepada Swas di milis psi indonesia, apakah menjadi prioritas? Apakah perlu? 😉

salam,
harez

2008/9/17 was_swas <was_swas@…>

Masih ada sambungan lagi, nggak? Kalau enggak, mau komentar sekarang 🙂

Kalau dilihat dari “pola” reaksi terhadap 2 kejadian pertama, memang kelihatan ada kekhasan cara pandang:

B nih kayaknya cenderung punya “mental korban” 🙂 Selalu merasa dirinya sial.. hehehe…

  • B: Sial banget sih hari ini, nggak salah apa tahu-tahu diseruduk pickup.
  • B: Sial banget gue hari ini, bukannya menang, malah kalah cepek ceng (100 ribu).

D kayaknya gak punya konsep keberuntungan di kepalanya. Buat dia sih segalanya enteng aja… nggak perlu dipikirin 🙂 Makanya dia nggak ngerasa sial karena keserempet, dan dengan enteng menganggap yang begini pun biasa, bukan beruntung (meskipun udah jadi satu2nya yang menang).

  • D: Dasar supir tembak, ngagetin dan bikin susah orang saja.
  • D: Kalau gue nggak sial tadi, bukan cuma nopek ceng (200 ribu) gue harusnya menang sipek ceng (400 ribu).

C & A kayaknya “orang Jawa ya? Hehehe… Paling enggak, cara pandang mereka sesuai dengan joke tentang orang Jawa: semuanya selalu untuuuuung terus ;). Menggunakan “total loss” sebagai parameter kesialan. Jadi… selama nggak total loss, ya hitungannya masih untung 🙂

  • C: Untung ya tadi cuma kejedug, coba kalau remnya blong, bisa lebih parah kita.
  • C: Lebih untung gue dong, gue cuma kehilangan cepek ceng (100 ribu)
  • A: Untung mobil ini gue asuransiin, palingan gue cuma keluarin biaya klaim. Syukur-syukur, tuh supir bener-bener bisa ngegantiin bayar itu biaya klaim.
  • A: Untung gue cuma kehilangan nopek ceng, masih sisa sapek ceng lagi.

Kalau dari sini saja sudah ada 3 paradigma yang berbeda dalam memandang “keberuntungan” . Baru dari 4 orang, dan dari 2 kasus (bisa jadi kalau ada 3-4 kasus lagi, ternyata pola di atas tidak tepat ;)). Nah… kalau saya disuruh membuat alat ukur “keberuntungan” , saya nyerah aja deh… hehehe… Males! Kebayang berapa variasi paradigma yang ditemukan dari [misalnya] 100 orang 🙂 Biasanya psikolog kalau mau bikin alat ukur suka cari salient belief dulu kan ;)?

Itu baru nemu berbagai cara pandang terhadap “keberuntungan” itu sendiri. Belum mengukur “keberuntungannya” itu sendiri 🙂

*eh, ngomong2, penggunaan kata “paradigma” di sini tepat nggak ya…. hehehe… *

Tapi yang lebih aneh adalah skala ini:

Jika pada psikolog tersebut diminta untuk meramalkan masing-masing kawannya tersebut dengan kriteria:
1. Sangat Sial (kemungkinan kalah sangat besar)
2. Sial (kemungkinan kalah besar)
3. Biasa-biasa (bisa kalah bisa menang)
4. Beruntung (kemungkinan menang besar)
5. Sangat beruntung (kemungkinan menang sangat besar)

dan hasilnya kemudian dikaitkan dengan besarnya rupiah yang dimenangkan atau yang hilang, dapatkah dilakukan evaluasi keakuratan peramalan psikolog tersebut secara lebih detail/akurat?

Ramalan psikolog yang dijadikan contoh itu kan berdasarkan karakteristik si calon penjudi, sebagai SALAH SATU faktor yang akan memperbesar/ memperkecil peluang kemenangannya jika pada keempatnya diberikan kondisi yang sama.  Sementara hasil akhirnya kan tidak hanya ditentukan oleh faktor si manusia itu sendiri, melainkan juga oleh faktor eksternalnya, dan interaksi antara faktor internal & faktor eksternal.

Tapi… masih mungkin sebenarnya bagi si psikolog untuk meningkatkan keakuratan prediksinya. Misalnya dengan melihat langsung situasi tempat mereka akan berjudi. Bikin semacam “analisa jabatan” bagi si calon penjudi 🙂 Memperhatikan karakteristik si calon penjudi, dan karakteristik lapangannya, maka dapat lebih akurat perkiraan keberhasilan si calon penjudi 🙂

Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: