Minggu pertama di SD

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel opini di Kompas, lebih tepatnya pada tanggal 29 Juli 2008.

Kebetulan juga, minggu lalu beberapa alumni mampir ke sekolahan.  Ada yang menceritakaan kegembiraannya selama dua minggu bersekolah di SD.  Ada juga yang berkeluh kesah.

Saya tahu bahwa sistem belajar di SD berbeda dengan di TK, terutama di Bintang Bangsaku, tetapi, bagaimanapun juga, pengetahuan tersebut tidak dapat menutupi rasa sedih saya mendengar keluh kesah anak-anak.

Satu anak sudah mogok sekolah karena tidak mau disebut bodoh lagi oleh ibu guru kelasnya hanya karena ia tidak mengerti apa arti kata “longkap” dan akhirnya disebut sebagai “bodoh”.

Sementara itu, ada juga alumni yang berkeluh kesah karena gurunya tidak meladeni pertanyaan-pertanyaannya.

  • “Kenapa nulisnya panjang-panjang?”
  • “Kenapa gambarku cuma dapat nilai 6?”
  • “Kenapa harus nulis yang sama?”
  • “Kenapa ….” ……………………. “Kenapa ……..” …………………dan “Kenapa” …………….. yang lainnya.


Aduh … padahal selama mereka bersekolah di Bintang Bangsaku, TIDAK PERNAH ada label negatif untuk anak dan tidak pernah juga berlangsung sebuah proses yang sifatnya hanya satu arah, dari guru ke murid atau sebaliknya.  Kami selalu mengajak anak berdiskusi tentang segala hal.


Ah … sudahlah … silakan baca artikel berikut ini sebagai bahan renungan bersama.

_________________________________________________________________________

Mengembalikan Subyektivitas Anak

Selasa, 29 Juli 2008 | 01:00 WIB, Sofie Dewayani

Bermain adalah tonggak perkembangan motorik, psikomotorik, afeksi, dan sosial. Bermain juga merupakan kegiatan yang universal dan lintas kultural meskipun tak seragam.

Studi Suzane Gaskins (1998) membuktikan, anak-anak di komunitas Mayan bermain peran menjadi orang dewasa dengan meniru rutinitas rumah tangga. Saat anak-anak Amerika berpura-pura menjadi ibu dengan bermain rumah boneka lengkap dengan aksesorinya, anak-anak di Indonesia bermain masak-masakan dengan daun-daunan dan tanah yang dilembabkan. Saat anak-anak di negara maju bermain ayunan di taman, anak- anak jalanan di negara berkembang menjadikan kolong jembatan, perempatan jalan, dan trotoar sebagai taman bermain.

Bagi orang dewasa, ”bermain” adalah kegiatan nonproduktif, rekreatif, dan tak serius (Corsaro, 2000). Bermain biasanya didefinisikan secara diametral dengan bekerja. Namun, tinjauan dikotomis ini sering menjadi tidak relevan di negara-negara berkembang. Bermain dapat dilakukan sambil mengasong dan mengamen, seperti dilakukan anak-anak jalanan di Indonesia.

Bekerja pun sering berfungsi sebagai kegiatan rekreatif untuk melepaskan diri dari tindakan represif di sekolah atau di rumah, seperti ditunjukkan penelitian Laine Berman (2001) tentang anak-anak jalanan di Yogyakarta.

Terlepas dari dikotomi ini, bermain sebenarnya adalah kegiatan yang ”serius” bagi anak. Menurut Corsaro, bermain tidak hanya merupakan ”imitasi” peran orang dewasa, tetapi suatu media bagi anak untuk meneguhkan identitas dirinya dalam relasi sosial. Bermain memampukan anak berimajinasi dan berempati. Sebagai orang dewasa, kita perlu memahami dunia anak dan perspektif mereka terhadap dunia mereka.

Konsepsi ”kapital”

Penelitian Chin dan Phillips (2004) membuktikan, konsep anak tentang ”kapital” berbeda dengan yang dipahami orang dewasa. Perbedaan ini menunjukkan, kepentingan, sistem nilai, dan prioritas mereka berbeda.

Anak memiliki seperangkat human capital dalam bentuk kemampuan akademik maupun non-akademik; kapital sosial, yaitu jaringan sosial dengan teman atau orang dewasa; juga kapital kultural, yang berasal dari budaya populer dan budaya anak (child’s culture). Anak-anak yang berbeda bahasa dan latar belakang budaya, misalnya, cepat dapat berkomunikasi dan bermain bersama.

Norma-norma dalam budaya anak yang tersepakati baik secara sengaja atau tidak merupakan salah satu bentuk kapital kultural ini. Dalam proses membentuk subyektivitas dan identitas dirinya, anak secara konstan mengomunikasikan dan mengembangkan kapital sosial, kultural, dan human capital ini.

Orang dewasa umumnya memandang anak dalam kerangka human capital. Anak merupakan tumpuan harapan masa depan. Pendidikan adalah salah satu bentuk investasi untuk membentuk anak menjadi anggota masyarakat yang berguna.

Saat sekolah berjuang untuk meningkatkan human capital anak, anak sering datang ke sekolah bukan untuk tujuan yang sama. Ketika otoritas kurikulum mendominasi kegiatan formal di sekolah, anak mengaktualisasikan otoritasnya pada jam-jam istirahat atau melalui kegiatan bermain dan bercanda di kelas. Ini wajar dan tidak dapat dihindari. Anak membutuhkan ruang untuk mengaktualisasikan subyektivitasnya.

Bermain pun merupakan ekspresi identitas yang penting bagi anak. Sayang, banyak orang dewasa beranggapan, bermain adalah kegiatan mengisi waktu luang yang tak lagi menjadi prioritas saat anak memasuki usia sekolah. Daripada melihat anak bermain dan ”gaduh,” orang dewasa cenderung senang melihat anak duduk tenang dan belajar.

Bermain dan ruang publik

Banyak aktivitas sosial dan ruang publik yang belum mengakomodasi kebutuhan anak untuk mengembangkan subyektivitasnya. Penelitian Chin dan Philips (2004) di AS menunjukkan, semakin tinggi pendapatan orang tua, semakin besar pula kecenderungan untuk meningkatkan human capital anak-anak mereka. Gejala yang sama tampaknya juga diperlihatkan orangtua di kota-kota besar di Indonesia. Meskipun pemerintah terus meningkatkan dana di sektor pendidikan, alokasi ruang publik untuk kegiatan bermain belum menjadi perhatian. Sayang. Jika bermain tak terakomodasi di lingkungan sekolah, rumah, dan tempat ibadah, dengan apa anak mengembangkan subyektivitas dan menemukan identitas dirinya?

Konvensi Hak Anak tahun 1989 bukan hanya bertujuan untuk melindungi hak-hak anak, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran bahwa anak adalah individu yang memiliki subyektivitas yang unik. Dalam mengembangkan aktivitas dan ruang untuk anak, sudah selayaknya kita tidak hanya mempertimbangkan hal-hal yang mengembangkan human capital anak, tetapi juga mendengarkan aspirasi mereka.

Anak bukan orang dewasa dalam tubuh kerdil. Anak bukan tumpuan harapan tempat orang dewasa bisa menautkan ambisinya. Anak adalah individu yang berhak atas dunianya sendiri.

Sofie Dewayani Mahasiswi PhD di Departemen Curriculum & Instruction, University of Illinois at Urbana-Champaign, Illinois, AS

2 Tanggapan

  1. I recently came accross your blog and have been reading along. I thought I would leave my first comment. I dont know what to say except that I have enjoyed reading. Nice blog.

    Tim Ramsey

    Thank you for visiting us, it’s an honor for us.

  2. wah kalau gurunya sy udah mengacarkan anak untuk mengatangatai orang lain maka akan jadi apa anak itu…mungkin jadi koruptor …itulah pentingnya seorang guru untuk tidak membaca stress dirumah ke ruang kelas. jadi guru harus belajar bukan jadi manusia / karena pengharapan di indonesia itu guru harus serba sempurna. suka ngak suka sekalioun digaji rendah, masyarakat mengharap guru itu sempurna : ngak boleh minum2 keras, ngak suka dugem, make narkoba, ngomong kotor, lapalagi pedofile.

    guru … kalau di jawa, singkatan dari digugu lan ditiru … kalau pakai bahasa Indonesia disebutkan sebagai pendidik … kalau pakai bahasa inggris bisa dikatakan berfungsi sebagai role model …

    nah … silakan dicerna …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: