Perilaku Agresif

satu hal yang khas pada anak adalah modelling-nya … kalau istilah kerennya … meniru …

meniru siapa?

pertama adalah figur lekatnya, bisa ibu, pengasuh, atau siapa saja yang bisa meluangkan banyak waktu berkualitas dengannya (ini buat anak-anak yang 2 tahun ke bawah),
yang kedua adalah tokoh fiktif yang disukainya, biasanya dari tv, buku, video, dll (ini buat anak-anak usia 2 – 4 tahun),
yang ketiga adalah tokoh nyata, bisa guru, tukang ojek, artis, dst (ini buat anak 4 tahun ke atas)

ciri khas yang ke-dua … kemampuan berkomunikasi lisan masih sangat terbatas, baik dari kosa kata maupun tata bahasa … jadi seringkali mengalami kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya …

ciri khas yang ke-tiga adalah ekspresi emosi yang up n down-nya seperti mau kiamat dunia saat itu juga, artinya … saat sedang tertawa-tawa, bisa jadi menangis meraung-raung hanya karena mainannya disentuh orang lain, tapi bisa juga ketika menangis meaung-raung karena terjatuh tiba-tiba tersenyum hanya karena ibunya berkata “eh lihat … ikannya lagi nari tuh … ekornya goyang-goyang”

nah … kalau ketiga ciri itu digabung menjadi satu, maka anak yang masih belum tahu bagaimana mengkomunikasikan secara lisan perasaan sedih/marah/takutnya, akan melakukan hal-hal yang pernah ia lihat di saat orang terdekatnya/idolanya mengalami perasaan yang sama …

intinya … kalau dari kecil kita membiasakan ia melihat kita berperilaku negatif, atau bahkan menjadi korbannya, ya otomatis perilaku itu yang akan ditiru …

saya, dan guru-guru di sekolah saya, selalu menerapkan jurus berbusa, alias berdiskusi sampai mulut berbusa-busa ketika anak melakukan pelanggaran aturan main atau mengalami konflik dengan temannya …

saya melarang keras adanya sentuhan (apalagi pukulan) pada siswa tanpa diijinkan oleh siswa tersebut,
saya melarang adanya ungkapan-ungkapan negatif (bodoh, payah, nakal, dsb),
saya melarang keras adanya intonasi suara yang melebihi normal,
saya melarang keras meninggalkan anak tanpa pendampingan siapapun, terutama di saat kondisi emosinya sedang memuncak …
dan saya juga melarang keras adanya hukuman …

kadang-kadang orang tua justru menganggap kami sedang menghukum anak karena membawa anak-anak yang bermasalah untuk berdiskusi mengenai masalah yang terjadi ke ruangan tertutup dan menahan mereka di sana sampai permasalahannya selesai … walaupun mereka menangis meraung-raung, memukul, menjambak, mencubit, menggigit … bahkan sampai melempar segala macam barang yang ada di ruangan (walaupun akibatnya setiap tahun sebagian besar komputer sekolah tidak dapat lagi digunakan …)

Yanti D.P.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: