Taklukan Anak Tanpa Hukuman

artikel ini diperoleh dari salah satu forum oleh pemerhati yang bernick name W1R7294

Coba anda ingat-ingat, dalam kondisi bagaimana anda merasa kewalahan mengontrol anak anda. Versi seorang ibu bisa berbeda dengan versi sang ayah. Itu baru satu pasangan, belum lagi jika ada pihak ketiga seperti nenek-kakek, om-tante, tetangga, guru dsb.

“Kamu ini nakal, sudah dikasih tahu kalau jangan main api, masih saja nggak nurut”, kata seorang ayah. “Ayo Donny, garap PR-mu. Nilaimu jeblok semua, masih aja bandel gak garap PR. Pantesan gak pinter-pinter”, seloroh seorang ibu. “Tita, jangan nakal-nakal toh. Sudah nenek bilangin jangan manjat pohon, kamu itu anak perempuan”. “Duh anak ibu nakal sekali di kelas, selalu saja mengganggu teman-temannya dan gak bisa diam duduk dibangku”, lapor seorang guru pada orangtua murid,….dan berbagai contoh yang bisa anda bayangkan sendiri.

Anak Nakal Versi Orang Dewasa

Bagi orang dewasa, seorang anak dianggap nakal karena tidak menuruti perintah, atau melanggar aturan. Pendek kata, ketika apa yang diminta orangtua (atau pendidik lainnya) tidak dituruti anak, maka anak akan dianggap nakal.

Masalahnya gampang sekali orang menjadi emosi ketika anak dalam kondisi nakal. Ya, saya menyebut anak dalam kondisi nakal karena tidak setiap saat anak menjadi nakal. Anak terlahir tanpa dosa, begitulah dalam ajaran Islam. Dan anak masih dianggap mumayyiz jika belum tahu benar dan salah. Tapi kenapa ketika anak masih belum mumayyiz dan dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai< > >kehendak orangtua atau guru, malah anak mendapat cap NAKAL ??

Menurut John Gray PhD penulis buku Children of Heaven, sebagian besar orangtua di dunia ini cenderung mematok harapan yang tinggi pada anaknya yang sudah bisa bicara dan faham jika diajak bicara. Ini karena orangtua sudah mulai memberi aturan pada si anak. “Awas, jangan pegang kompor, ada api, panas lho”. “Jangan lari-lari di jalan ya nak, bahaya” dsb. Si anak yang sudah memahami pembicaraan akan menyimpan informasi itu dalam otaknya yang masih berkembang.

Nah, anak yang otaknya saja masih berkembang apalagi yang masih belum mumayyiz / masih belum tahu salah-benar (kecuali dari informasi orang dewasa baik langsung maupun tak langsung), bisa saja melakukan hal-hal yang bertentangan dengan permintaan orangtua tanpa disengaja. Maka jika anda kini memahami bahwa mereka tak berniat melakukan sesuatu untuk melukai hati orangtua/guru, setidaknya anda bisa berusaha meredam emosi jika anda mendapati si anak berbuat hal yang tak anda setujui.

Tehnik Melarang Anak Yang Belum Mumayyiz

Seringkali orang menyebut anak-anak yang masih balita dengan cap Nakal, padahal sebenarnya mereka adalah anak-anak yang sedang dalam masa mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Dalam buku Positive Discipline The First Three Yeras, From Infant to toddler ada sebuah kisah nyata. Seorang anak memecahkan sebuah piala yang membuat si ibu menangis tersendu-sendu. Si anak dengan polosnya bertanya, “Mama, apakah mama akan menangis seperti itu jika piala yang pecah itu saya ?”

Itu karena si anak tak pernah merasa sengaja memecahkan piala mamanya. Sebaliknya dia justru merasa heran mengapa sang mama menangisi piala yang pecah, seolah-olah sang mama justru lebih menyayangi sang piala daripada si anak itu sendiri.

Sebenarnya tak pernah sedetikpun terlintas di pikiran anak-anak yang belum mumayyiz, untuk sengaja melukai hati orangtuanya. Maka kata-kata “Jangan” sebenarnya kurang tepat jika ditujukan pada anak-anak ini. Anak-anak yang belum bisa memberi alasan (khususnya usia 2,5 tahun kebawah) malah tak bisa diberi larangan dengan kata “JANGAN”. Mereka belum benar-benar memahami maksudnya. Sebaiknya anda melakukan tindakan bukan kata-kata agar dimengerti anak-anak usia ini. Rudolf Dreikurs mengatakan “Tutup Mulut Anda dan Bertindaklah”.

Beberapa Teknik Melarang Anak Yang Masih Sangat Kecil :

1. Alihkan perhatiannya :

Jika si kecil merangkak ke arah benda yang berbahaya, angkatlah dia dan beri dia alternatif benda yang lebih aman; biarpun ini berarti anda berkali-kali mengangkat dia. Lama-lama dia akan tahu, bahwa dia tak boleh ke benda berbahaya tersebut.

Jika dia menangis, cobalah pancing dengan hal lainnya “Lho lihat diatas langit banyak sekali burung-burung yang terbang. Yuk lihat burung-burung terbang yuk”.

2. Hentikan Pekerjaan Anda

Gabriel, berumur 9 bulan, mulai menggigit mamanya saat menyusu. Sang Mama segera melepas mulut si Gabriel dan menaruh anak tersebut di tempat tidurnya, lalu sang mama keluar. Semenit kemudian sang mama kembali menyusui. Setiap kali Gabriel mulai menggigit, setiap kali pula sang mama meninggalkannya. Akhirnya Gabriel berhenti menggigiti mamanya lagi.

3. Katakan Langsung Tanpa Kata “Jangan”

Seorang anak mulai melempar-lempar mobil-mobilannya. Sang mama hanya berkata “Mainan bukan untuk dilempar. Mobil untuk diatas tanah” Atau, “Sepertinya kamu lagi ingin lempar-lempar ya Nak ? Ayo, kalo mau lempar, pake bola ya. Ini bolanya, main lempar-lemparan sama mama ya. Mobil-mobilannya kita taruh disini”.

4. Katakan Iya/Boleh

Ini jika yang ia lakukan tidak berbahaya dan anda justru melihatnya sebagai kesempatan untuk menikmati kehadiran anak anda. Misalnya si anak ingin main air saat anda cuci piring. Daripada melulu melarang anak, segera selesaikan cuci piringnya lalu biarkan dia main air bersama anda. Dengan cara itu anda bisa mengajarkan pada dia bagaimana mencegah air tidak kemana-mana, anda bisa mendorong rasa ingin tahunya menjadi lebih positif (sehingga kelak dia tak akan malas membantu anda mencuci piring jika usia dia bertambah) dan anda bersenang-senang dengan anak anda. Saya sendiri selalu mengatakan pada anak saya ” Oke, sekarang giliran mama dulu setelah itu giliran Salma” pada banyak hal yang saya izinkan dia lakukan hanya bersama saya (jika tanpa saya bisa berbahaya misalnya). Sekarang dia suka mendahului, “Mama dulu baru Salma” jika dia tahu saya tak akan mengizinkan dia melakukan sesuatu tanpa saya.

5. Ganti kata-kata yang lebih positif

Daripada mengatakan “Jangan membuang makanan ke atas meja/lantai” katakan “Yuk kita jaga agar lantai/meja tetap bersih”

6. Pelukan “Jangan”

Ada sebuah kartun bagus yang menggambarkan si Mama berkata pada anaknya yang berusia 2 tahun “Jangan” dan si kecil membalas “Iya”, mama makin meninggikan suaranya “Jangan” dan si kecil ikut menjerit “Iya” lalu si mama teringat harus tegas namun baik secara bersamaan dan dia pun berjongkok sambil memberi si kecil pelukan lalu berkata lembut “Jangan”. Maka si kecil pun berkata “Oke”.

Teknik berjongkok ini perlu anda lakukan untuk menarik perhatian anak yang masih kecil, karena jika anda memberi instruksi saat berdiri anak harus menengadahkan kepalanya untuk memperhatikan anda. Jika ia terlalu sibuk bermain, ia tak akan memperhatikan anda sama sekali. Jadi jangan kaget jika si kecil seolah-olah mencueki anda.

Sekali lagi jika sudah dilarang mereka tetap melakukan, bukan berarti mereka sengaja melawan anda. Sebaliknya jika diperintah tetapi mereka tidak mau mengerjakan, bukan berarti mereka tidak patuh pada orang tua. Hal ini penting anda pegang, agar anda jangan berkecil hati jika buah hati anda disebut nakal oleh orang lain; dan tentu anda sendiri jadi sadar bahwa tak ada gunanya memberi cap nakal pada anak anda yang masih belum berdosa jika anda kewalahan mengontrolnya. Jangan pula merasa malu karena orang lain menyebut anak anda nakal atau tak tahu aturan akibat si anak suka “merusak” barang sembarangan padahal sebetulnya anak anda adalah tipe anak yang lincah dan suka belajar lewat sentuhan. Untuk memahami perbedaan gaya belajar ini bisa anda klik disini.

Motivasi Besar Sang Anak

< : adalah Adler Alfred menurut yang tindakannya segala dalam besar motivasi punya manapun anak bahwa memahami anda baiknya ada « nakal », menjadi mengapa >Sebelum>

– Terimalah aku (dengan kata lain Sayangi aku apa adanya)

– Aku ingin berarti bagimu. </FONT>

Sebenarnya kedua hal ini terbawa hingga dewasa, tetapi memahami bahwa anak-anak pun memiliki kedua tujuan tersebut dalam tindakannya (tentu tanpa mereka sadari) akan membantu kita untuk memahami mengapa mereka tiba-tiba menjadi nakal dan yang lebih penting lagi, membuat kita bisa menahan emosi serta memfokuskan diri pada solusi.

John Gray Ph D malah menyebutkan (dan kita sering lupa) bahwa kebutuhan terbesar seorang anak adalah cinta orang tuanya. Anthony E. Wolf juga menyebutkan bahwa anak mengharapkan orangtuanya mencintai dia sepenuhnya dan hanya mencintai dia saja. Itu sebabnya anak-anak gampang cemburu pada saudaranya dan mereka sering menyimpan rasa kecewa bila tidak bisa mewujudkan harapan orangtuanya yang menganggap anak lain itu hebat.

Karena itu sebenarnya hadiah paling berharga bagi seorang anak adalah perhatian orangtuanya. Biarpun anak diberi uang banyak, hadiah mahal-mahal sekalipun tetapi orangtuanya tak menyempatkan diri untuk memberikan waktu khusus bagi anaknya, anak-anak akan kecewa. Jangan kaget jika hal ini banyak terjadi pada anak-anak orang kaya. Mereka tumbuh menjadi manja karena terbiasa mendapat apapun secara mudah, tetapi hati mereka haus akan perhatian orangtuanya. Padahal di mata orang tua, hadiah-hadiah mahal itu adalah bentuk perhatian juga, namun nyatanya perhatian yang dibutuhkan anak bukanlah berbentuk materi.

Kencan Dengan Anak

Jika anda ingin “menundukkan” anak yang sedang tak menurut, salah satu caranya adalah menjanjikan waktu khusus anda untuk dia saja. Lebih bagus lagi jika anda selalu mempunyai jadwal khusus dengan si anak biarpun cuma 30-60 menit perhari, tetapi dalam hitungan menit itu dia merasa istimewa di mata anda jika anda menunjukkannya dengan sengaja. Matikan handpone anda jika anda jalan-jalan dengannya; tak usah menjawab dering telepon dirumah anda jika anda menghabiskan waktu berdua dengan sang anak, dirumah sendiri; tunda semua rencana jika anda sudah berjanji untuk menghabiskan waktu anda bagi dia pada jam sekian dan hari tertentu.

Sifat Pemaaf Anak

Yang menarik menurut John Gray, anak-anak sangat mudah memaafkan orangtuanya dan tak ingin menghukum orangtuanya yang pernah salah. Bahkan anak yang di-abuse sekalipun akan mudah memaafkan orangtuanya (yang seringkali ditandai bahwa anak tersebut merasa rendah diri, merasa bukan anak yang baik sehingga layak di-abuse oleh orangtua yang sangat dicintainya). Inilah nilai yang indah dalam diri seorang anak. Begitu besarnya rasa cinta anak pada orangtuanya sehingga mereka sangat pemaaf. Anehnya kadangkala orangtua justru tak gampang memaafkan (paling tidak saat si anak bertingkah nakal), sehingga orangtua akan marah bahkan banyak yang menghukum anak baik verbal (diomeli, diceramahi), emotional (dicap nakal, dibandingkan dengan anak lain, dijatuhkan harga dirinya) maupun fisik (dipukul, dijewer, dsb).Kalau setiap tindakan anak itu dimaksudkan untuk mendapat perhatian, diterima dan disayangi, lantas mengapa anak jadi nakal ?

Maka jangan gengsi untuk meminta maaf pada anak, jika anda memang merasa bersalah. Harga diri anda tidak akan jatuh di mata anak, tetapi justru inilah kesempatan besar untuk mengajarkan pada anak bahwa anda adalah manusia biasa yang bisa saja berbuat salah, dan jika sudah berbuat salah anda harus meminta maaf serta berusaha memperbaiki diri.

Belajar Dari Kesalahan

Karena orangtua/guru adalah manusia yang tak lepas dari kesalahan, sudah selayaknya jika kita menghindari diri untuk merasa yang paling benar. Anehnya memang banyak orang yang takut jika mengakui dirinya salah atau tak sempurna, akan menjatuhkan derajatnya di mata anak; padahal justru sebaliknya.

Jangan kuatir, tak ada orang yang sempurna. Hanya Allah SWT saja Yang Maha Sempurna. Jadi jika anda merasa salah langkah dalam mendidik anak, itu bukan berarti anda bukan orang yang baik. Justru jadikan kesalahan itu sebagai cambuk memperbaiki diri. Andaikan kita tak pernah salah, bagaimana bisa belajar lebih baik ? Rudolf Dreikurs menyebutnya sebagai Keberanian Menjadi Orang Yang Tak Sempurna. Karena itu, jika anda mampu mengenali kesalahan anda, mau mengakui dan meminta maaf pada anak anda, anda akan mengajarkan padanya untuk selalu tumbuh menjadi orang yang berani belajar dari kesalahan dengan mencari solusi untuk mengatasi kesalahan tersebut.

3 langkah Memperbaiki Diri dari Kesalahan :

1. Kenali : “Wow, aku berbuat salah”

2. Berdamai : “Maafkan saya”

3. Perbaiki : “Ayo kita cari solusinya bersama”

Jika Anak Tak Menurut

Berangkat dari pemahaman bahwa anak-anak bertingkah bagus atau buruk sebenarnya hanya karena ingin diterima, disayangi dan mendapat pengakuan yang berarti, akan membantu kita untuk setidaknya bisa meredam emosi ketika anak tiba-tiba jadi nakal. Daripada marah-marah sendiri (dan akhirnya menyesal belakangan apalagi ketika melihat si anak sedang tidur), lebih baik cobalah mencari tahu apa yang hendak disampaikan oleh anak lewat tindakan “nakal”-nya tersebut.

Dalam buku Positive Discipline, Jane Nelsen Ed. D menulis, bahwa anak akan bertingkah yang tak sesuai aturan (yang sering kita cap nakal), karena beberapa sebab. Cobalah pahami satu persatu karena jika anda memahaminya, anda bisa memecahkan kode mengapa mereka tiba-tiba menjadi nakal. Dengan memahami mengapa si anak tiba-tiba nakal, kita jadi bisa menahan emosi dan malah memfokuskan diri untuk mengambil tindakan yang tepat, artinya langsung ke masalahnya. Jika kita marah-marah, otak logik kita akan kesulitan untuk berkonsentrasi karena otak emosilah yang berbicara (mengenai hal ini bisa dibaca di buku Emotional Intelligence).

Selidiki Dulu Sebabnya

Sekarang anda tidak dalam keadaan emosi, sehingga anda bisa membaca tulisan ini dengan serius dan penuh rasa ingin tahu. Karena itu mari kita telusuri mengapa anak bisa tiba-tiba jadi nakal.

Pertama, cobalah pahami bahwa mungkin dia mengira tindakannya itu akan anda sukai sehingga dia makin disayang, tetapi karena otak dia masih berkembang dan dia tidak tahu salah dan benar, maka dia salah langkah.

Kedua, mungkin dia justru merasa tidak anda pahami atau kasih sayang anda mulai berkurang sehingga dia justru bertingkah “ nakal” (yang sekali lagi salah langkah) untuk mendapatkan cinta dan perhatian anda lagi. Misalnya pada anak yang cemburu pada saudaranya karena merasa disaingi oleh saudaranya.

Ketiga, jangan-jangan justru apa yang ia lakukan itu memang wajar dilakukan oleh anak seusianya atau mungkin sesuai dengan bawaannya. Tapi karena ia belum tahu batas mana yang benar dan salah, dia melakukan hal yang salah dan tidak anda setujui. Misalnya anak yang aktif mungkin saja tak mau berhenti lompat-lompat diatas kasur sementara anak lain yang sebaya langsung menurut ketika dilarang. Kalau demikian, tinggal teknik saja yang harus diubah agar anak jadi menurut. Untuk memahami karakter bawaan anak, bisa anda baca disini

Keempat, ada empat kesalahpahaman yang dimiliki anak sehingga mereka punya empat tujuan yang salah dalam bertingkah laku (yang akhirnya kerap disebut nakal). Hal ini diteliti oleh Rudolf Dreikurs dan ada baiknya kita pahami.

Empat Tujuan dan Salah Paham dibalik tingkah laku anak yang sedang “nakal” menurut Rudolf Dreikurs tersebut adalah :

1. Ingin diperhatikan : “Aku akan diterima jika aku diperhatikan”

2. Ingin merasa berkuasa : “Aku jadi berarti jika aku menang atau setidaknya ketika orang dewasa tak bisa menguasai aku”

3. Ingin membalas dendam : “Aku tak berarti dan tak diterima, tapi setidaknya aku masih bisa balas dendam”

4. Hilang Rasa Percaya diri : “Nggak mungkin aku diterima atau aku tidak akan mungkin bisa berarti bagi orangtuaku. Aku menyerah. Mereka tak pernah menyayangiku”

Untuk menebak kira-kira anak bertingkah nakal karena sebab yang bagaimana menurut keempat salah faham dan salah tujuan diatas, cobalah tengok salah satu atau kedua hal dibawah ini :

a. Apa tindakan anak atau

b. Bagaimana reaksi anda

Anda bisa membacanya dari tabel di attachement.

Pertanyaan Jitu

Ya, jika anda cuma menebak tanpa basic informasi diatas, anda mungkin kebingungan sendiri dan makin emosi saja. Sekarang dengan bekal pengetahuan diatas anda bisa mulai ke arah yang jelas, tinggal tanya saja ke si anak dengan pertanyaan pancingan. Sebab jika anda tanya langsung kenapa si anak tiba-tiba berbuat begini begitu, mereka biasanya juga tidak tahu. Nah jika sudah pegang basic diatas, anda mudah bertanya dan anak bisa mudah menjawabnya.

Seorang anak suka sekali keliling di kelas saat pelajaran. Sang guru pun memanggilnya saat istirahat. “Mary, kamu tahu kenapa kamu suka keliling di kelas saat pelajaran. Kan jika pelajaran sudah dimulai semua murid harus duduk rapi”, tanya si guru. Biasanya si anak akan menjawab tidak tahu dan ini tidak bohong karena mereka melakukannya tanpa sadar bahwa mereka punya salah satu tujuan tersembunyi yang tak disadari. Tetapi jika si anak memberikan alasannya, biasanya bukan alasan utama. Alangkah leganya si anak jika anda bisa mengajukan pertanyaan lanjutan yang memancing dia untuk berpikir dan memberikan jawaban yang tepat.

Pada kasus Mary diatas, si guru pun berkata, “Saya punya ide. Bagaimana kalau saya tebak dan kamu kasih tahu jika tebakan saya benar atau salah. Keberatan nggak ?” Si Mary setuju. Maka sang guru pun mulai mengajukan pertanyaan :

– Apakah mungkin alasan kamu untuk keliling di dalam kelas supaya kamu mendapat perhatian saya ? Apakah kamu ingin saya jadi sibuk ngurusin kamu dengan selalu menyuruh kamu duduk di kursimu ? (Jika iya, berarti dia ingin perhatian)

– Apakah mungkin kamu keliling di dalam kelas itu karena kamu ingin menunjukkan bahwa kamu bisa berbuat semaumu ? (Jika iya berarti dia ingin merasa sok kuasa)

– Apa mungkin kamu suka keliling dalam kelas itu karena kamu pernah tersinggung atau sakit hati oleh perkataan dan perbuatan saya sehingga kamu ingin membalasnya dengan membuat saya kesal karena kamu tak bisa duduk diam ? (Jika iya berarti dia memang ingin membalas dendam)

– Apa kamu keliling di kelas itu karena kamu merasa gak akan mungkin bisa berhasil dalam pelajaran sehingga kamu sama sekali gak peduli lagi untuk belajar serius seperti teman-teman sekelasmu ? (Jika iya berarti dia tak percaya diri).

Contoh diatas dilakukan oleh guru pada muridnya, tetapi di rumah pun bisa dilakukan oleh orangtua pada anaknya. Setelah memberikan pertanyaan yang lebih terarah, anda akan lebih mudah mencari cara untuk menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.

Untuk mengarahkan anak tanpa membuat dia bersikap defensive, lakukan semua tahap secara ramah, tidak dengan nada suara yang tinggi, sikap menuduh dan menyudutkan. Jangan lupa bahwa ada 4 langkah yang sangat membantu untuk membuat anak mau menerima nasehat anda tanpa merasa diceramahi. Keempat langkah ini bisa anda lakukan hingga anak menjadi remaja sekalipun sehingga anak akan merasa dekat dengan anda dan tak akan ragu untuk menjadikan anda sebagai tempat curhat, dibanding kawan-kawannya kelak. Karena orangtua bukan lagi sebagai pusat pemberi perhatian bagi anak remaja (ada pesaing berat : teman-teman pergaulan mereka), jangan kaget jika orangtua banyak sekali yang merasa tak bisa lagi mengontrol anak remaja mereka. Jadi jika anda tahu 4 langkah berikut ini apalagi jika anda terapkan sejak anak-anak masih belum memasuki usia remaja, paling tidak anda akan mudah memenangkan hati anak anda sebagai tempat curhat dan mencari nasehat.

4 Langkah Untuk Memancing Kerjasama Anak adalah :

1. Cobalah memahami perasaan anak, tanyakan padanya apakah perkiraan anda itu benar atau salah.

2. Tunjukkan empati anda, tetapi tak berarti anda setuju pada tindakan anak yang dilakukan akibat emosi tertentu. Empati hanyalah menunjukkan pada anak bahwa anda mengerti apa yang ia persepsikan. Adalah menarik jika anda menceritakan pengalaman anda atau orang yang anda tahu, yang serupa tapi tak sama, agar anak tak merasa disalahkan (biarpun ia memang salah). Karena jika ia merasa disalahkan, dia akan berada pada posisi defensive. Dia akan mempertahankan diri dan tak akan mau menuruti perintah anda.

3. Tunjukkan perasaan dan persepsi anda akan tindakan dia, misalnya anda kecewa dan anda bermaksud begini dan begitu bukan seperti yang ia kira. Biasanya jika cara no.1 dan 2 sudah anda lakukan dengan cara yang ramah (tidak marah-marah, tidak menyalahkan/menyudutkan), anak biasanya akan mulai mendengarkan anda. Disinilah dia akan menerima pendapat anda.

4. Pancing anak untuk memfokuskan diri mencari solusi. Tanyakan padanya apakah dia punya ide untuk menyelesaikan masalah tersebut dan bagaimana mencegah masalah yang sama di kemudian hari. Jika dia tak tahu, tawarkan beberapa saran dan pancinglah dia agar setuju pada saran anda (dengan kata lain anak tak merasa terlalu dinasehati, biarpun nasehat biasanya baik).

Mrs. Martinez menceritakan pengalaman pribadinya pada si penulis buku Positive Discipline.

Suatu hari anaknya, Linda, pulang sekolah sambil merengut. Katanya dia sempat dibentak gurunya di depan teman-teman sekelasnya. Sambil berkecak pinggang Mrs. Martinez bertanya dengan nada curiga dan menuduh “Gak mungkin kamu dibentak kalo kamu gak salah. Emang tadi di kelas kamu sampe ngapain kok dibentak bu guru ?” Si Linda pun tersinggung dan marah, “Nggak ngapa-ngapain kok”.

“Halah gak mungkin. Ayo bilang, kamu ngapain tadi di kelas sampe bikin gurumu marah ?”tanya Mrs. Martinez lagi. Linda cuma menatap ibunya dengan pandangan marah dan wajahnya tampak makin muram saja. Ditanya ibunya apa yang akan Linda lakukan untuk menyelesaikan masalah, si Linda Cuma bilang “Gak ada yang perlu diselesaikan”.

Saat itu Mrs Martinez teringat keempat langkah yang disarankan Parenting Class. Dia pun mulai merubah nada suaranya lebih lembut.

“Pasti kamu malu sekali ya dibentak di dpena kelas” (langkah 1)

Linda menatap ibunya dengan curiga.

“Mama ingat waktu masih kelas 4 SD pernah dibentak pak guru gara-gara waktu ulangan mama berdiri pinjam penghapus teman sekelas. Mama malu sekali” (langkah 2)

Linda mulai tertarik pada cerita mamanya,”Oh ya ?”tanyanya. Lalu ikut bercerita’Tadi aku Cuma pinjam pensil kok Ma. Jahat banget bu guru kok sampe bentak begitu”, tambahnya.

“Ya tentu saja kamu malu, mama faham banget kamu jadi jengkel pada gurumu. (langkah3). Bagaimana menurutmu agar hal itu nggak terulang lagi?” (langkah 4).

“Ya, lain kali Linda bakalan bawa pensil lebih dari 1 Ma, biar gak harus pinjam lagi”, jawab si Linda.

“Nah itu ide yang bagus sekali nak” jawab Mrs. Martinez

Dari perubahan sikap dan metode saja Mrs. Martinez bisa memancing anaknya untuk berpikir dan bersikap lebih positif. Linda jadi merasa tenang untuk menceritakan apa yang terjadi pada mamanya, ketika mamanya berubah metode. Andaikan sang mama selalu marah-marah duluan, mungkin lain kali Linda tak akan mau menceritakan apapun pada sang mama. Itu baru masalah di sekolah. Bagaimana jika Linda justru tak menurut perintah mamanya ?

Satu Tanggapan

  1. Tulisannya bagus😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: