Memahami anak

A number of rules or principles of development have been drawn up:
1.Children differ greatly in their rates of development; one may develop rapidly, another much more slowly.
2.A child may vary in its own rate of growth; at some time during its childhood it may grow rapidly; at others it may be making little progress.
3.Different aspects of growth may proceed at different rates; for example, mental growth may not be as rapid as physical.
4.Despite the different rates of growth, each child passes through the same stages in the same order; for example, each crawls before it walks, speaks before it reads.
(LAWES & EDDY, Understanding Children, George Allen & Unwin Ltd, 1966)

Ulasan

Setiap anak unik di dalam setiap tahap perkembangannya, namun ada persamaan tahap yang dialami oleh hampir semua anak. Tentu saja persamaan ini tidak akan berlaku jika anak termasuk yang membutuhkan perhatian khusus karena ketebatasan fisiknya.

Keunikan masing-masing anak terletak pada kecepatan pertumbuhan dan perkembangannya. Konsekuensi dari keunikan ini, kita tidak bisa begitu saja membandingkan satu anak dengan lainnya.

Tidak bisa kita katakan bahwa si A bodoh karena belum bisa membaca sementara si B pintar karena sudah bisa membaca koran. A dan B harus dilihat secara utuh dalam periode waktu tertentu.

Utuh dalam arti berbagai elemen kecerdasannya dan lingkungan terdekatnya.

Mungkin saja A memang belum dapat membaca tetapi sangat mahir berhitung dan bisa menghitungnya di luar kepala, sementara si B masing harus menghitung jari jika diberi soal-soal matematika sederhana. Atau, mungkin saja si A dapat menggambar dengan sangat indahnya sementara si B masih belepotan krayon di sana sini.

Mungkin saja si A memang tidak memiliki berbagai alat yang mendukungnya untuk belajar membaca, sementara si B ternyata mengikuti kursus membaca dan mempunyai segudang buku yang satu demi satu dibacakan oleh orang tuanya.

Dalam periode waktu, tidak hanya penilaian sepintas, karena percepatan pertumbuhan dan perkembangan anak tidaklah sama. Beberapa faktor yang mempengaruhinya adalah kondisi fisik, asupan gizi, stimulasi-stimulasi yang merangsang perkembangannya, dan situasi keluarga.

Si C mungkin sudah dapat berdiri di usia 8 bulan, sementara si D baru bisa di umur 18 bulan.

Si D mungkin sudah dapat melafalkan do’a di usia 2 tahun sementara si E belum dapat berbicara dengan jelas.

Si F mungkin sudah dapat merapikan mainannya tanpa diminta, sementara si G masih harus dibimbing untuk memasukkan mainannya ke tempat yang benar.

Hmm …

Jika membandingkan satu anak dengan anak yang lain begitu saja, maka kita tidak akan pernah puas karena selalu ada yang lebih bisa berhitung, atau menggambar, atau menulis, atau membaca, atau bernyanyi, atau atau atau yang lainnya.

Kadang-kadang … kita menuntut anak untuk lebih cerdas dari kita dan memperoleh semua hal terbaik yang dulu tidak kita dapatkan di saat seusia mereka. Kita lupa bahwa mereka bukan kita. Anak-anak mempunyai karakternya sendiri. Anak-anak mempunyai keinginannya sendiri.

Seringkali mereka menjadi korban atas harapan-harapan orang tua atau gurunya. Harapan yang mungkin berdasarkan apa yang sudah atau belum dicapai oleh orang tua dan atau gurunya atau anak lain yang seusia.

Contohnya.

Seorang ayah, yang merasa kemampuan Bahasa Inggrisnya tidak memadai sehingga seringkali terhambat laju karirnya, mencarikan sekolah yang berbasis bahasa asing untuk anaknya yang berusia 2 tahun. Mengetahui bahwa salah satu keponakannya yang bersekolah di X terdengar berbahasa inggris, sang ayah bergegas memasukkannya ke sekolah X. Namun setelah beberapa waktu, si anak yang tadinya bisa berkomunikasi secara lisan sekarang justru hanya menggunakan bahasa isyarat untuk menyampaikan keinginannya.

Seorang guru yang pernah merasakan kegembiraan saat si A, muridnya beberapa waktu yang lalu, memperoleh kemenangan di lomba menggambar, memaksakan si B, muridnya yang gambarnya paling bagus saat ini, untuk berlatih giat (bahkan menambah jam pelajaran) agar memenangkan lomba yang sama sehingga piala bergilir tidak berpindah tangan. Si guru bahkan mengajari si anak untuk menggambar dengan metode tertentu, lebih tepatnya mencontoh apa yang digambar oleh gurunya. Hasilnya sangat berbeda dengan si A dan si B terlihat bermalas-malasan untuk menggambar.

Kasihan anak-anak kalau terbebani dengan harapan orang lain, yang mungkin tidak sesuai dengan kondisinya.

Satu hal penting untuk memahami anak, bukan dengan membandingkannya, namun dengan melihat berbagai sisinya secara jujur. Tidak dengan memuja kelebihannya dan juga tidak dengan menyesalkan kekurangannya.

Yanti D.P.
29 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: