Hati-hati memilih sekolah dan buku pelajaran …

Aduh … semakin hari … semakin was-was rasanya melepaskan anak-anak yang dalam bimbingan SBB untuk dilepas ke dunia luar.

Serius … tulisan ini dibuat karena keprihatinan yang mendalam tentang kualitas program pendidikan sekolah dan validitas/reliabilitas buku pelajaran yang dijadikan pegangan oleh anak-anak sekolah dasar.

Hanya SD yang memprihatinkan?   Tentu tidak, hanya saja, ibarat sedang membangun rumah, jika fondasi tidak dibuat dengan baik (atau justru salah) maka struktur bangunan yang berdiri di atasnya akan rapuh (atau justru tidak dapat berdiri dengan tegak).  Artinya, kesalahan yang terjadi dalam pembelajaran di tingkat pendidikan dasar akan sangat membahayakan masa depan si anak.

Beberapa kasus yang membuat saya mempertanyakan kualitas SD :

  1. Pembagian kelas berdasarkan IQ atau prestasi anak, bukankah sama saja dengan melegalkan adanya kasta atau kelas sosial?  padahal Unesco sudah menegaskan bahwa pendidikan adalah hak untuk semua orang, dari semua kalangan.  Pendidikan yang sama.  Akses yang sama.  Seharusnya dapat dinikmati oleh semuanya, tanpa adanya batasan apapun.  Tidak uang.  Tidak status sosial.  Tidak ras atau suku.  Tidak ada batasan mengenai hak memperoleh pendidikan dengan kualitas yang sama.
  2. Dilakukannya seleksi terhadap kemampuan intelektual, emosional, dan kondisi fisik anak saat pendaftaran siswa baru.  Bukankah praktek seperti ini adalah legalitas dari diskriminasi seperti kasus nomor 1 yang sudah saya sebutkan di atas?  Bukankah praktek seperti ini hanya untuk menaikkan kredibilitas sekolah?  Bayangkan jika 40 anak yang diterima adalah anak-anak ber-IQ superior, maka akan lebih menjamin keberhasilan ujian akhir nasional jika dibandingkan dengan sekolah yang membimbing anak-anak yang ber-IQ rata-rata.  Jadi sebenarnya, bukan sekolah yang terpercaya tetapi murid-murid yang superior itulah yang menjamin sekolahnya bisa dipercaya.
  3. Guru yang tidak memahami psikologi perkembangan anak, sehingga dengan mudahnya memberi label pada murid-muridnya tanpa memahami proses yang sebenarnya sedang terjadi dalam diri anak.  Tanpa memahami dinamika psikologis yang sedang dialami.  Memang lebih mudah dan lebih cepat me-label daripada berusaha memahami.  Padahal, labelling adalah salah satu dari sekian banyak hal yang diharamkan ketika berhadapan dengan anak-anak.  Labelling bisa dari mengatakan “Kamu malas” “Dasar bandel” sampai dengan “Seperti anak autis saja …”
  4. Guru yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah pembelajaran, termasuk di dalamnya taksonomi pembelajaran.  Akibatnya, tujuan pembelajaran saling tumpang tindih dan tidak sesuai dengan kapasitas berpikir siswa.
  5. Guru yang tidak memahami konsep dari materi-materi yang akan diajarkannya.  Hal ini biasanya terjadi di kelas 1 – 3, di mana guru wali adalah satu-satunya guru di semua bidang studi.  Akibatnya, materi disampaikan berdasarkan buku pelajaran yang dijadikan pegangan.  Tidak berarti bahwa satu guru tidak akan menguasai banyak bidang, tidak, bukan itu maksud saya.  Ada juga guru yang menguasai banyak bidang, karena ia mau menyempatkan diri untuk belajar.
  6. Buku pelajaran yang tidak berkualitas (bahkan banyak yang salah) dari sisi isi materinya.
  7. Bentuk evaluasi belajar yang hanya mengutamakan hapalan/ingatan, bukan pemahaman konsep.

Jika anak Anda belum memasuki jenjang sekolah dasar, ada baiknya Anda benar-benar hati-hati.

Jangan terjebak pada kemewahan fasilitas fisik, kurikulum yang hebat, pendidikan agama yang kuat, dsb.

Hmm ……….

Apakah SBB sudah ideal?  Belum …

SBB sendiri masih belajar untuk membimbing anak-anak dengan baik dan benar … (itulah sebabnya kami belum berani membuka sekolah dasar … berat konsekuensinya …)

Yanti D.P.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: