Anak berselisih

Konflik yang seringkali terjadi dalam hubungan pertemanan anak sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat wajar. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah belajar untuk menahan diri, mengetahui dengan persis berbagai etika, menguasai kosa kata yang berjuta-juta jumlahnya, seorang anak masih sangat labil emosinya, masih belajar untuk mengetahui etika, dan perbendaharaan katanya masih terbatas.

Kadang-kadang, permasalahan yang kesannya sederhana, menjadi terkesan rumit dan menghebohkan, hanya karena anak-anak saling memukul, berteriak, atau bahkan meraung-raung. Padahal, jika ditelusuri, biasanya yang menjadi pemicu perselisihan adalah kesalahpahaman atas perilaku teman.

Misalnya, si A sedang berlari-lari, si B yang tahu bahwa berlari-lari di dalam kelas akan mengganggu teman-teman yang lain akan berusaha menahan si A untuk tidak terus berlari. Si A yang sedang larinya menabrak si B sehingga akhirnya mereka jatuh bersama. Pada kasus ini si A tidak mengetahui cara yang tidak melibatkan fisik untuk menghentikan temannya. Si A tidak tahu bahwa ia cukup memanggil nama si B dan memintanya untuk berhenti. Sementara si B juga tidak dapat menahan kekagetannya akibat harus berhenti mendadak saat berlari.

Pada kasus yang lain, si C masuk ke kelas yang lain untuk mencari temannya. Si D yang melihat kehadiran si C berusaha menghalangi karena pelajaran masih berlangsung. Proses adu argumentasi menjadi semakin naik grafiknya karena si D mendorong si C agar keluar dari ruangan. Pada kasus ini, si C belum memahami bahwa kehadirannya dapat mengganggu proses pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas si D. Sementara si D juga belum memahami bahwa cara ia menghadang si C juga merupakan gangguan dalam proses pembelajaran di kelasnya.

Kami di SBB selalu membiasakan anak-anak yang berkonflik untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, kami sebagai pembimbing hanya berperan sebagai fasilitator. Kami biasakan anak-anak untuk memahami duduk pekara dan berbagai alternatif pemecahannya. Kadang-kadang, proses diskusi tersebut juga melibatkan saksi-saksi, yatu teman-teman lain yang kebetulan melihat atau berada di sekitar lokasi konflik.

Konsekuensi dari konflik, yaitu sanksi, juga kami serahkan kepada mereka, walaupun tetap dibimbing untuk memilih konsekuensi yang terbaik untuk semua pihak. Biasanya, karena di SBB tidak pernah diberlakukan hukuman, anak-anak juga cukup mengajukan tangan, meminta maaf, dan berjanji untuk tidak mengulangi, maka semua masalah telah terselesaikan.

Yanti D.P.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: