Mengapa Sekolah Bintang Bangsaku tidak punya Sudut Kegiatan?

Perabot dan alat-alat Kelengkapan Bermain Bebas di Dalam Kelas :
Rak tempat mainan
Tikar/karpet
Lemari kaca
Tempat sampah
Sapu
Meja kursi anak
Meja untuk menempatkan alat di sudut kegiatan Ketuhanan, Keluarga, Pembangunan, Kebudayaan, Alam Sekitar dan Pengetahuan.
Alat-alat kelengkapan untuk setiap sudut kegiatan
Papan/meja lukis
(Panduan untuk Lomba – Taman Kanak-Kanak)

Ulasan

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti rapat persiapan lomba TK tingkat nasional karena kebetulan gugus kami menjadi wakil untuk wilayah DKI Jakarta. Walaupun tidak menjadi TK yang ikut serta dalam lomba tersebut, sebagai salah satu TK imbas maka SBB juga wajib mempersiapkan diri, baik secara administratif maupun program akademis, yang tentu saja berkaitan dengan sarana dan prasarana sekolah.

Daftar perabot dan alat-alat kelengkapan bermain bebas yang saya cantumkan di atas adalah salah satu dari banyak ”kewajiban” yang harus dipenuhi. Dari beberapa perabot ”wajib” tersebut, SBB tidak memenuhi kewajiban untuk :
menyediakan tikar/karpet karena seluruh ruangan sudah beralaskan karpet (yang memang sengaja digunakan untuk menghindari anak terluka jika jatuh),
menyediakan lemari kaca pajangan karena keberadaan kaca di dalam kelas relatif riskan jika mengingat keaktifan dan keberadaan anak khusus di dalam setiap kelas,
menyediakan sapu karena keberadaan kayu panjang di dalam kelas juga relatif riskan dengan alasan yang sama dengan tidak tersedianya lemari kaca pajangan,
menyediakan sudut kegiatan karena berbagai alasan yang akan saya ungkapkan dalam artikel ini.

Baiklah, saya akan mulai membahas mengenai sudut kegiatan.

Jika membaca judul perabot wajib, tersirat bahwa perabot tersebut digunakan untuk sarana anak dalam bermain bebas di kelasnya masing-masing.

Bermain bebas. Apa maksudnya?

Bermain bebas dan spontan merupakan bentuk bermain aktif yang merupakan wadah bagi anak untuk melakukan apa, kapan, dan bagaimana mereka ingin melakukannya. Rangsangan yang membangkitkan bermain bebas dan spontan adalah segala sesuatu yang baru dan berbeda dalam lingkungan atau mainan yang terutama dirancang untuk eksplorasi. (Hurlock, Perkembangan Anak, Penerbit Erlangga)

Sudut-sudut yang dicantumkan dalam daftar perabot dimaksudkan agar anak dapat bermain bebas dengan perlengkapan yang disediakan di masing-masing area. Selain perlengkapan konstruksi, atau yang disebut dengan pembangunan dalam daftar perabot, semua perlengkapan sudut berupa replika dari benda yang ada atau peristiwa yang terjadi di kehidupan nyata. Anak dapat bermain, memperoleh pengetahuan, dan melatih keterampilan yang berguna bagi kehidupannya di luar kelas.

Nah, kalau tujuan dari keberadaan sudut itu demikian mulianya, mengapa SBB tidak menyediakan sudut-sudut tersebut?

Sederhana saja, alasannya :

Ruang kelas di SBB relatif kecil, hanya 4 x 6, atau 24 m2. Sementara jumlah anak dalam kelas adalah 8-10 anak dengan 1 – 3 orang pembimbing. Jika dihitung dengan matematika sederhana, ruang gerak setiap orang dalam kelas berkisar antara 1.8 – 2.5 m2. Jika hanya orang dewasa yang bisa duduk tenang selama 90 – 150 menit, ruang gerak yang kecil tidak akan menjadi masalah. Namun jika ruang itu terisi oleh anak yang rentang konsentrasinya berkisar antara 5 – 30 menit, maka ruangan akan terasa sesak oleh keaktifan gerak mereka. Anak akan menjadi gelisah dan tidak nyaman.
Jam ”sekolah” yang hanya 150 menit setiap harinya membuat terbatasnya waktu bagi pembimbing untuk memfasilitasi 8 – 10 anak. Padahal, jika sistem sudut dilaksanakan di dalam kelas, maka pembimbing harus dapat memfasilitasi setiap anak dalam mengeksplorasi setiap alat permainan yang sedang dimainkannya. Sistem sudut belajar yang benar dapat berlangsung jika anak dapat mengajukan dan menjawab pertanyaan ”apa”, ”siapa”, ”di mana”, ”mengapa”, dan ”bagaimana”. Tanpa adanya proses eksplorasi tersebut, bermain di sudut kegiatan hanyalah sekedar menjadi hiburan tanpa adanya proses belajar yang bermakna. Hal ini sering saya temukan pada sekolah-sekolah yang menyediakan sudut kegiatan tanpa memastikan ketersediaan pembimbing di masing-masing sudut. Anak-anak sibuk bermain tanpa bimbingan untuk mengeksplorasi permainannya.

Nah, untuk memastikan bahwa anak tetap dapat bermain, memperoleh pengetahuan, dan melatih keterampilan yang berguna bagi kehidupannya di luar kelas, maka SBB menggunakan metode pembelajaran terpadu yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak (Depdikbud, 1996, dalam Prabowo, 2000).

Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan baik secara spontan maupun direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar anak, maka pembelajaran lebih bermakna.

Dikatakan bermakna karena dalam pengajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman dan pengamatan langsung serta menghubungkannya dengan konsep lain yang mereka pahami (Trianto, 2007).

Penjelasan mengenai pendekatan yang dilakukan SBB mungkin akan menghabiskan waktu Anda untuk membacanya, namun sepintas dapat dikatakan bahwa aktivitas harian, yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan anak, akan mengacu pada tema tertentu yang secara sistematis telah dipersiapkan. Anak akan dibimbing mengekplorasi tema dari sudut pandang sains, bahasa, matematika, teknologi, dan agama.

Dalam masing-masing sudut pandang itu pun, semua perincian kegiatan, mulai dari motorik kasar, motorik halus, kognitif, emosi, sosial, sampai dengan rutinitas akan dikaitkan dengan tema tersebut. Konskuensinya, seluruh sarana dan prasarana yang digunakan untuk melakukan masing-masing kegiatan akan mengacu pada tema tersebut. Artinya, saat tema “semua tentang tubuhku” maka replika, buku, kostum, dan media pembelajaran lain yang berkaitan erat dengan tubuh akan disajikan, sementara saat tema “cita-citaku” maka media pembelajaran yang disiapkan adalah benda-benda yang berkaitan dengan berbagai profesi.

Biasanya, bermain bebas dengan memanfaatkan berbagai media pembelajaran yang disiapkan boleh dilakukan oleh anak jika ia telah menyelesaikan tugas yang diminta oleh pembimbing, misalnya sudah menempel, sudah berlari, sudah bernyanyi, dan lain sebagainya. Bermain bebas juga dilaksanakan di akhir jam belajar saat pembimbing utama mengajak masing-masing anak untuk mengulas kegiatannya hari ini.

Penyediaan alat permainan yang ”hanya” mengacu pada tema akan memudahkan pembimbing dan anak untuk saling berbagi pengetahuan. Dikatakan berbagi karena pembimbing hanya menjadi fasilitator, bukan menjadi nara sumber. Dikatakan berbagi karena anak akan saling bertukar cerita dengan temannya saat melakukan permainan-permainan yang serupa, sementara sistem sudut bermain yang tanpa bimbingan akan cenderung menyebabkan anak bermain sendiri, tergantung pada keinginan masing-masing.

Yanti D.P.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: