TEORI BELAJAR SOSIAL

Menurut Skinner dan Bandura (dalam Haditono, Knoers, dan Monks 1992) mempunyai pandangan yang empiris dan mendasarkan diri pada teori belajar untuk menjelaskan perkembangan bahasa.

Pandangan ini, bertitik tolak pada pendapat bahwa anak dilahirkan dengan tidak membawa kemampuan apapun. Anak masih harus banyak belajar, termasuk juga belajar berbahasa yang dilakukannya melalui imitasi, belajar model, dan belajar dengan reinforcement (penguatan, bala bantuan).

Bandura mencoba menerangkannya dari sudut pandang teori belajar sosial. Ia berpendapat bahwa anak belajar bahasa menirukan suatu model.

Tingkah laku imitasi ini, tidak mesti harus menerima reinforcememnt sebab belajar model dalam prinsipnya lepas dari reinforcement luas.

Sosial adalah interaksi atau hubungan yang dilakukan dengan orang banyak yang ditemukannya disekelilingnya dalam menjalankan kehidupan individunya sehari-hari.

Sosial membantu tiap anak untuk merasa diterima di dalam kelompok, membantu anak belajar berkomunikasi, dan bergaul dengan orang lain, mendorong empati dan saling menghargai terhadap anak-anak maupun orang deewasa.

Lingkungan pembelajaran yang paling utama berasal dari keluarga, sekolah, dan teman sebaya.

Yang akan dibahas kali ini adalah lingkungan pembelajaran yang berasal dari teman sebaya, karena melalui teman sebaya, mendorong anak untuk meningkatkan kemampuannya, sekaligus memberikan dukungan sosial kepada anak berupa perhatian, persetujuan, penghargaan sekaligus hukuman, model perilaku yang akan ditiru oleh anak tersebut.

Atkinson Hilgard (1997), mengemukakan pendapatnya bahwa, anak akan mempelajari sebagian besar keterampilan sosialnya dri interaksi dengan sesamanya. Mereka akan belajar memberi memutuskan membagi pengalamannya bersama-sama.

Jika dilihat dari penambahan usia anak, maka permainan menguasi atau permainan yang menampilkan keunggulan akan berkembang menjadi permainan yang intelektual, seperti bermain dengan kata-kata dan ide. Memasuki usia 2 tahun, anaka tidak mampu bermain pura-pura dan meniru tingkah laku yang dilihatnya beberapa waktu sebelumnya, bahkan beberapa hari sebelumnya dengan imajinasi dan bahasa sesungguhnya yang merupakan cara berpikir dan bermain pada anak. Aspek-aspek social anak yang akan mulai terlihat adalah :anak akan mulai bermain sendiri (soliter),anak mulai bermain parallel (yaitu berada di dekat teman sekelas tetapi tanpa interaksi), anak mulai bermain social (mulai ada interaksi dengan teman di dekatnya ), anak mulai bermain asosiatif (secara berpasangan), anak mulai bermain kooperatif (dalam kelompok-kelompok kecil atau besar, ada peran masing-masing), dan anak mulai bermain kolaboratif (bersama orang tua, guru, asisten, atau orangg dewasa lain.

Membantu tiap anak agar merasa diterima di dalam kelompok, mengembangkan kompetensi social, membantu anak belajar berkomunikasi dan bergaul dengan orang lain, mengembangkan empati (merasakan perasaan orang lain) dan (saling) menghargai diri dan lingkungannya (sebaya, orang dewasa, aturan, barang, dan alam).

Fitri Nurjana, tugas magang SBB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: