PERKEMBANGAN SEKSUALITAS

Kata “sex” seringkali berkonotasi negatif sebagai sesuatu yang kotor, jorok, sesuatu yang tidak pantas dibicarakan, mengerikan dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena:
1) Seks selalu dikonotasikan dengan hubungan kelamin
2) Dianggap tabu sehingga tidak boleh didiskusikan secara bebas sehingga konsep seks yang benar tidak tersampaikan.
3) Seks dianggap sebagai konsumsi orang dewasa saja sedangkan remaja atau siapapun yang belum menikah tidak boleh membicarakannya.

Padahal menurut kamus bahasa, “seks” selalu diartikan dengan jenis kelamin, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan alat kelamin disebut dengan seksualitas. Seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi biologis, dimensi psikologis, dimansi sosial, dimensi perilaku, dan dimensi kultural (Masters, Jhonson, dan Kolodny, 1992)
Dari sudut pandang biologis, seksualitas berkaitan dengan ‘peralatan’ reproduksi, termasuk bagaimana menjaga kesehatannya dari gangguan penyakit menular seksual, bagaimana memfungsikannya secara optimal.
Dari dimensi psikologis, seksualitas berhubungan erat dengan bagaimana kita menjalankan fungsi kita sebagai mahluk seksual, identitas peran jenis, dan bagaimana perasaan kita terhadap seksualitas kita sendiri. Misalnya bagaiman kita bersikap sebagai seorang pria atau wanita.
Dimensi sosial menyoroti bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia, bagaimana lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan pandangan kita mengenai seksualitas dan pada akhirnya perilaku seks kita.
Dimensi perilaku menunjukkan bagaimana seksualitas itu muncul dalam perilaku. Perilaku seksual adalah segala bentuk perilaku yang muncul berkaitan dengan dorongan seksual, mulai dari bergandengan tangan, masturbasi, sampai dengan berhubungan seksual.
Dimensi kultural menunjukkan bagaimana perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di setiap masyarakat. Hal ini tergantung nilai moral dan adab.

PERKEMBANGAN SEKSUALITAS
Seksualitas merupakan sebuah proses yang terjadi sepanjang rentang kehidupan, mulai dari bayi sampai dengan meninggal dunia.
Secara fisik perkembangan seksualitas ditandai dengan perkembangan alat kelamin bayi pada usia 7 minggu. Reflek-reflek seksual juga telah berfungsi ketika bayi lahir. Bayi laki-laki mengalami ereksi pada menit-menit pertama ia dilahirkan. Sedangkan bayi wanita banyak yang mengalami ereksi klitoral dan lubrikasi vagina dalam kurun waktu 24 jam setelah dilahirkan.
Organ seksual kita memiliki fungsi reproduksi untuk melanjutkan keturunan, dan fungsi rekreasi yang maksudnya melalui organ seksual kita dapat merasakan kesenangan.
Ketika memasuki masa pubertas remaja mengalami perubahan. Tanda-tanda umum bagi remaja yang mengalami pubertas adalah perubahan bentuk tubuh menjadi lebih berlekuk-lekuk, keringat dan bau badan yang berlebihan, jerawat tumbuh di daerah-daerah tertentu, dll.
Secara khusus anak perempuan mengalami menstruasi pertama kali sebagai tanda siklus reproduksi telah terjadi dalam dirinya, sedangkan anak laki-laki mengalami mimpi basah. Mimpi basah bukan merupakan tanda yang pasti mulai diproduksinya sperma. Kadang kala testes sudah berfungsi walaupun anak laki-laki itu belum mengalami mimpi basah. Anak laki-laki juga mengalami perubahan suara.
Anak perempuan mengalami pertumbuhan satu sampai dua tahun lebih cepat daripada anak laki-laki. Badan mereka menjadi lebih besar lebih dulu daripada anak laki-laki, tetapi pada perkembangan selanjutnya anak laki-laki akan kelihatan lebih besar daripada anak perempuan.
Abad ini, anak perempuan mengalami pertumbuhan tubuh pada usia rata-rata 8-9 tahun, dan mengalami menarche pada usia 12 tahun. Anak laki-laki menunjukkan perubahan tubuh pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi sekitar usia 13 tahun. Pertumbuhan anak-anak menjadi lebih cepat karena faktor sosioekonomi, iklim, jumlah anggota keluarga, dan gizi yang lebih baik.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh hormon seksual yang telah berfungsi yaitu testosteron untuk laki-laki dan estrogen untuk perempuan. Hormon ini juga yang mengakibatkan seseorang memiliki dorongan seksual seperti ketertarikan pada orang lain, keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual.
Hormon testosteron pada laki-laki mengakibatkan ereksi (menegangnya penis) sehingga ia menyadari sensasi seksual dan lebih sensitif terhadap stimulasi seksual dan mengaktifkan dorongan seks.
Pada perempuan, hormon estrogen meningkatkan dorongan seksual pada masa subur dan mengatur ovulasi (pematangan sel telur) dan memerintahkan rahim untuk menebalkan dinding luarnya (endometrium)
Sperma akan terus diproduksi sampai kurun waktu yang tidak terbatas. Kesuburan laki-laki dipengaruhi oleh pola hidup, seperti gizi dan olahraga. Tidak diketahui batasan kapan laki-laki berhenti kemampuannya untuk membuahi.
Pada perempuan ada batasan masa subur yaitu ketika perempuan tidak lagi mengalami menstruasi, disebut dengan menopause.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: