Konsep Diri

Rosenberg (dalam Partosuwido, 1992) memberikan batasan konsep diri sebagai struktur mental, suatu totalitas pikiran dan perasaan dalam hubungannya dengan diri sendiri. Diri atau konsep diri tersebut merupakan bentuk konseptual yang tetap, teratur dan koheren yang terbentuk oleh persepsi-persepsi tentang kekhasan dari “aku” dan persepsi-persepsi tentang hubungan aku dengan yang lain, dengan beberapa aspek dalam hidup bersama dengan penilaian atas persepsi-persepsi ini (Rogers, 1961).
Lebih lengkapnya, Rogers (1961) mengemukakan bahwa self atau diri merupakan bagian yang terpisah dari medan phenomenal dan berisi pola pengamatan dan penilaian yang sadar dari pengalaman subjek. Diri terbentuk dari hasil interaksi antara organisme dengan medan phenomenal baik orang tersebut sebagai subjek maupun sebagai objek. Sebagian dari nilai-nilai yang menyertai pengalaman dan yang menjadi bagian dari struktur diri merupakan nilai yang dialami langsung oleh organisme, dan sebagian lagi diperoleh melalui introyeksi dari nilai orang lain.
Sejalan dengan definisi tersebut, Grinder (1978) mengungkapkan bahwa konsep diri adalah persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun moral. Konsep diri merupakan kesan individu terhadap diri secara keseluruhan, mencakup pendapatnya tentang diri sendiri, pendapat tentang gambaran diri di mata orang lain, dan pendapat tentang hal-hal yang dapat dicapai (Burns, 1979).
Konsep diri bukan sekedar sekumpulan persepsi atau gambaran seseorang terhadap dirinya, tetapi juga penilaian terhadap diri sendiri. Hal ini terungkap dalam pernyataan Shavelson bahwa konsep diri bersifat evaluatif (Grinder, 1978). Individu tidak hanya mendeskripsikan gambaran tentang dirinya tetapi juga mengevaluasi dirinya dalam berbagai macam situasi. Penilaian ini berdasarkan pada standar ideal yang ingin dicapai, norma teman sebaya, dan standar yang diinginkan oleh orang-orang penting dalam kehidupan individu.
Berdasarkan pengertian tersebut, terlihat bahwa konsep diri memiliki tiga dimensi pokok, yaitu :
1. dimensi pengetahuan, yaitu segala pengetahuan atau informasi yang kita ketahui tentang diri, seperti umur, jenis kelamin, penampilan, dan sebagainya,
2. dimensi harapan, yaitu suatu pandangan tentang kemungkinan menjadi apa kita di masa mendatang, dan
3. dimensi penilaian, yaitu penilaian individu tentang gambaran siapakah dirinya dan gamabaran menganai seharusnya bisa menjadi seperti apa.
Terdapat pembedaan antara persepsi diri real, diri ideal yang diharapkan, dan diri orang lain sehingga bisa saling diperbandingkan nilainya, dengan demikian, menurut Rogers (1961) diri ideal adalah persepsi individu tentang dirinya sebagaimana yang diinginkan individu. Sedangkan diri real adalah persepsi individu tentang dirinya atau persepsi diri sebagaimana dialami individu tersebut. Jika ada perbedaan yang sangat mendasar antara diri senyatanya dengan diri yang diinginkan maka individu akan mengalami ketidakbahagiaan, gangguan kepribadian, dan penyesuaian sosial yang kurang baik.
Pembedaan antara gambaran diri ideal dan gambaran diri real juga diungkapkan oleh Hurlock (1973). Ideal self-image didefinisikan sebagai sebuah gambaran diri yang diinginkan oleh individu, baik secara fisik maupun psikologis. Gambaran ini merupakan standar harapan dan aspirasi yang sudah terinternalisasikan dalam diri individu. Real self-image adalah cermin diri dari apa yang dipercaya individu bagaimana orang-orang penting dalam hidupnya, seperti orang tua, saudara, guru, dan teman-teman sebaya, melihat diri individu baik secara fisik maupun psikologis.
Singkatnya, bisa dikatakan bahwa secara umum konsep diri merupakan sebuah struktur mental, suatu totalitas dari persepsi, yang merupakan dasar bagi pengetahuan terhadap diri, pengharapan, yang menunjukkan gagasan tentang kemungkinan menjadi apa kelak, dan penilaian, yang merupakan pengukuran individu tentang keadaannya dibandingkan dengan apa yang menurut individu dapat dan seharusnya terjadi. Sedangkan secara khusus, bisa disimpulkan bahwa konsep diri bisa dibedakan menjadi konsep diri real dan konsep diri ideal. Konsep diri real adalah persepsi individu tentang dirinya sebagaimana yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Konsep diri ideal adalah persepsi individu tentang dirinya sebagaimana individu tersebut menginginkannya. Bisa jadi apa yang menjadi ideal self concept dengan real self concept tidak jauh berbeda atau sebaliknya, perbedaan antara konsep diri real dengan konsep diri ideal inilah yang disebut dengan kesenjangan dalam konsep diri.

Yanti D.P.

Iklan

5 Tanggapan

  1. Salam Kenal….

    Saya Rosi. Buku-buku yang dijadikan referensi tulisan diatas apa saja? karena saya juga sedang menulis skripsi yg berhubungan tentang teori self-discrepancy Carl Rogers namun kesulitan mencari referensinya.

    Terima Kasih.

    yang pasti, buku on becoming a person, tapi lebih lengkapnya nanti saya carikan arsipnya dulu ya, karena artikel ini sudah 8 tahun umurnya …

  2. Salam Kenal….

    Saya Purnama. mahasiswa upi semester akhir. barangkali anda punya literatur tentang self-esteem dan selukbeluknya?saya sedang menulis skripsi self-esteem remaja di panti asuhan, tapi kesulitan mencari referensinya. di gramedia, dll sudah dicari cukup susah. barangkali anda memiliki dan kopiannya bisa saya beli lewat pos?tlg balez ke e-mail saya ya.

    Terima Kasih.

  3. oya nomor saya 081322525244. baragkali bisa kontak lansung?kerna saya harus sidang tanggal 4 agustus 2008

    Maaf baru baca … semoga belum terlambat ya … silakan Purnama main ke sekolahan saja karena semua buku pribadi saya sudah ada di perpustakaan sekolah, alamatnya ada di atas.

  4. Saya sudah membaca sedikit terjemahan dari on becoming a person di buku antara engkau dan aku terbitan gramedia tapi hanya sekilas membahas self discrepancy. selain dari buku antara engkau dan aku, saya juga sedikit mendapat tambahan dari buku theories of personality (Feist n Feist, 2008), buku personality (Pervin, 2005) namun tidak menyeluruh bahasannya makanya saya juga kesulitan mencari referensi lain. ada masukan referensi lain?

    Thanks y.

    Baru sedikit ya? Hmm … Rosi kesulitan untuk download atau tidak? Kalau tidak kesulitan, link download yang sudah saya cantumkan itu biasanya ada update ebook-ebook psikologi. Tapi kalau kesulitan, saya bisa copy ke dvd seluruh koleksi ebook berbahasa Inggris yang sudah saya download dari berbagai sumber di internet. Kalau Rosi di jakarta, main ke sekolah saja ya. Tetapi kalau di luar Jakarta, silakan email ke bintangbangsaku@yahoo.com.

  5. Maaf baru buka lagi….berhubung teori Rogers tentang kesenjangan diri yang saya cari kemarin lumayan langka dan tidak terlalu detail dalam pembahasannya, maka kemarin akhirnya memutuskan untuk mengganti pakai teori E. Tory Higgins tentang kesenjangan diri juga dan Rogers tetap dimasukkan sebagai pelengkap.

    saya di Jakarta selatan mba’ dan kemungkinan saya akan coba ke sekolah mba’. klo boleh tanya, mba’ punya beberapa jurnal tentang kesenjangan diri dari Higgins g?

    o iya buku tentang Pernikahan ada g karangan Kephart, Blood & Blood, dll?

    klo nanti saya ke sekolah, saya bertemu dengan siapa?

    Terima Kasih.

    Judul jurnalnya ada? akan saya coba carikan. Buku-buku tentang pernikahan saya tidak ada. Kalau ke sekolahan bisa bertemu dengan siapa saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: