Domestic violance

Domestic violence occurs when one partner uses abusive behavior to control and dominate the other.
Baker, Jaffe, Moore in Understanding the Effects of Domestic Violence

Ulasan

Waduh, apalagi ini?

Domestic violance, atau Kekerasan dalam Rumah Tangga, menurut UU NOMOR 23 TAHUN 2004, adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

UU 23 2004 juga menjelaskan bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara :
a. kekerasan fisik; perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat
b. kekerasan psikis; perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang
c. kekerasan seksual; pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut
d. penelantaran rumah tangga; melalaikan perawatan, atau pemeliharaan dan atau mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

Hmm …

Saya tidak akan membahas isi undang-undang secara mendalam, apalagi sampai pada konsekuensi hukum. Bukan kapasitas saya untuk menjabarkannya.

Artikel ini saya tulis untuk mengingatkan orang tua ataupun guru yang kebetulan pernah mengalami atau mendampingi korban kekerasan ini akan konsekuensi yang harus ditanggung oleh anak seumur hidupnya, jika tidak ditangani dengan tepat.

Sekali hubungan buruk berkembang dalam keluarga, baik itu antara ayah dengan ibu, atau antara salah satu orang tua dengan anak, maka hubungan tersebut akan bertahan dan cenderung semakin memburuk jika tidak ada yang berusaha untuk mengharmoniskannya kembali. Hal ini biasanya disebabkan oleh ”terbiasanya” anggota keluarga untuk bereaksi terhadap anggota keluarga yang lain dengan cara yang diwarnai perselisihan.

Perselisihan atau keributan dalam rumah tangga memang wajar. Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini bukan?

Namun jika perselisihan telah menjadi cara berkomunikasi, maka semakin lama pengertian akan semakin mengikis. Dialog yang selayaknya terjadi dengan penuh kehangatan akan terasa sangat panas dan semakin lama akan semakin dihindari.

Anak, yang daya berpikirnya masih sangat praktis dan konkret, akan sangat terganggu dengan kondisi tersebut.

Jika tidak segera disadari, anak akan tumbuh menjadi pencemas karena merasa tidak aman, tidak dicintai dan pada akhirnya akan memberontak untuk dapat lepas dari ”panas”nya suasana dalam rumah atau justru ”menyembunyikan” dirinya agar tidak menjadi salah satu sumber perselisihan.

Kecemasan sudah tentu tidak akan menjadi pendorong yang baik untuk perkembangan anak. Ia akan selalu dalam keadaan khawatir, tidak berani mengambil keputusan, atau justru ikut arus tanpa mempedulikan kebenarannya. Ia akan individu yang tidak terampil bersosialisasi. Biasanya, anak yang teraniaya (walaupun tidak secara langsung) akan mengembangkan sikap yang tidak sehat terhadap pernikahan dan peran orang tua, yang bila persiten akan mewarnai sikap sebagai orang dwasa yang merugikan.

Selain kecemasan, salah satu konsekuensi yang paling dihindari adalah anak mengadaptasi cara penyelesaian konflik dan atau mendominasi orang lain dengan menggunakan kekerasan. Artinya, anak akan menggunakan kekerasan untuk menguasai teman-temannya.

Anak yang menyaksikan atau mengalami kekerasan juga akan menunjukkan :

  • Hilangnya keterampilan atau kemampuan yang sebenarnya sudah dikuasainya, misalnya jadi ngompol, lupa warna, tidak bisa berhitung, dan lain sebagainya
  • Kesulitan tidur, mimpi buruk, takut jika tertidur, gelisah saat tidur
  • Sakit kepala, sakit perut, atau keluhan sakit yang tidak jelas
  • Kecemasan berpisah/sendiri yang sangat tinggi, jauh di atas normal
  • Mudah marah dan mengekspresikan secara agresif

Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjalani kehidupan yang pahit bukan?

Yanti D.P.
19 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: