Perlukah Anak Masuk TK?

Jika menjawab judul artikel ini dengan “Ya, anak perlu masuk TK”, saya akan disangka mempromosikan SBB, yang pada kenyataannya adalah sebuah lembaga pendidikan prasekolah.

Namun, jika menjawab dengan “Tidak, anak tidak perlu masuk TK”, saya akan disangka tidak mempercayai institusi tempat saya berkarya.

Buah simalakama bukan? Jadi, jawabannya, seperti biasa, saya serahkan pada Anda, sebagai orang tua.

Namun, sebelum Anda menjawab, saya akan mencoba menjabarkan beberapa hal.

Pertama, proses belajar berlangsung seumur hidup, setiap detik, setiap menit. Semenjak janin sampai dengan terputusnya nafas. Kita, manusia, selalu dalam kondisi belajar.

Belajar, menurut menurut para ahli, dapat didefinisikan sebagai berikut :

  1. suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif (Skinner, dalam Barlow 1985)
  2. perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman, dan merupakan proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus (Chaplin, 1991)
  3. perubahan yang terjadi dalam diri individu yang disebabkan oleh adanya pengalaman yang mempengaruhi tingkah laku individu tersebut (Hintzman, dalam Syah 2000)
  4. suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas (Winkel, 2005)

Ke dua, bagi anak prasekolah, keluarga adalah pendidik utama. Penjelasan mengenai hal ini dapat Anda baca pada artikel “Salah siapa?”. Tidak perlu saya jelas di sini.

Berdasarkan pada fakta bahwa “belajar” berlangsung seumur hidup dan keluarga adalah pendidik utama bagi anak, maka dapat dikatakan bahwa “Anak tidak perlu masuk TK untuk belajar”.

Apakah jawaban itu benar?

Belum tentu.
Anak tidak perlu masuk TK, jika :

  1. Orang tua meluangkan waktu untuk belajar dan bermain bersama anaknya secara rutin. Tidak perlu bersamanya selama 24 jam dalam sehari. Cukup 1.5 jam saja materi-materi pembelajaran disajikan dalam bentuk permainan yang menyenangkan.
  2. Orang tua memahami tahapan-tahapan perkembangan anak secara keseluruhan. Tidak menyajikan materi secara acak, tidak terlambat diberikan, dan tidak terlalu cepat diajarkan untuk usianya, karena kita tidak dapat memaksa anak untuk mempercepat atau memperlambat proses pertumbuhkembangannya.
  3. Orang tua dapat mendidik anaknya dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran yang mengarahkan kita untuk membantu anak sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Nah, jika semua persyaratan tersebut sudah terpenuhi, tidak ada salahnya jika anak tidak dikirim untuk belajar di TK. Bahkan tidak salah jika anak tidak dikirim belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Homeschooling, itu istilah yang sedang menjamur saat ini.

Namun, jika persyaratan tersebut tidak terpenuhi, alangkah baiknya jika anak belajar secara formal di institusi-institusi pendidikan yang dapat dipercaya.

Tidak mudah untuk menemukan sekolah yang memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut, karena tidak semua sekolah dapat memenuhi persyaratan nomor 2 dan 3.

Jika sekolah memahami perkembangan, tidak akan ada pelajaran menulis halus di TK, karena pertumbuhkembangan motorik halus anak belum mencapai tahap tersebut. Pemaksaan akan hal ini hanya akan membuat anak menjadi lebih mudah merasa tertekan saat belajar.

Jika sekolah memahami model pembelajaran, tidak akan ada siswa yang asyik bermain dengan berbagai alat permainan di sudut-sudut kelasnya tanpa ada bimbingan yang tepat untuk dapat memaknai apa yang dilakukan si siswa.

Jadi, baik pilihan untuk homeschooling maupun TK/PAUD formal, sama beratnya.

Sekolah formal, terutama untuk anak-anak prasekolah, sifatnya hanya membantu orang tua dalam membimbing anak untuk belajar. Namun jika bantuan yang diberikan tidak tepat, tidak akan berguna bagi optimalisasi pertumbuhkembangan anak.

Fasilitas sekolah yang mewah, tidak menjamin keberhasilan pembelajaran, jika syarat nomor 2 & 3 tidak terpenuhi.

Guru yang berkualitas, tidak akan berdaya tanpa dukungan manajemen sekolah untuk menerapkan persyaratan nomor 3.

Sementara Anda, jika Anda memang sudah memahami perkembangan anak dan menguasai model pembelajaran yang tepat, mungkin persyaratan nomor 1 yang tidak mudah dipenuhi.

Pilihan kembali pada Anda, sebagai orang tua.

Yanti D.P.
15 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: