Mengajarkan Matematika

Mengajarkan matematika ternyata mudah sekali, bahkan Anda dapat mengajarkannya sampai tingkat yang tinggi – bila Anda memahami cara-cara melakukannya. (Glenn Doman dalam buku Mengajar Bayi Anda Matematika, Gaya Favorit Press, 1991)

Ulasan

Dalam bukunya tersebut, Doman juga mengatakan bahwa semakin muda usia anak, akan semakin mudah baginya untuk belajar matematika. Kali ini, saya akan batasi pada usia 2 tahun sampai 6 tahun, yang jika melihatnya dari teori kognitif yang diajukan oleh Jean Piaget, termasuk disebut dengan masa Pra-operasional konkret, di mana anak mampu menggunakan bahasa dan pemikiran simbolik.

Matematika adalah salah satu bentuk bahasa, di mana angka digunakan sebagai simbol atas fakta-fakta yang diuraikannya. Kesimpulannya, benar apa yang dikatakan oleh Doman, bahwa mengajarkan matematika ternyata mudah.

Saat mengajarkan matematika, ada beberapa hal penting yang harus dipahami :

  1. Angka adalah simbol yang mewakili jumlah, untuk dapat menguasainya maka anak harus mengingat bentuk dari masing-masing simbol. Hanya ada sepuluh simbol dasar, yaitu ; 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 0
  2. Bilangan adalah jumlah yang menunjukkan banyaknya benda/peristiwa saat dihitung, untuk dapat menguasainya, maka anak harus memahami konsep dari masing-masing jumlah. Mulai dari * = satu bintang, ** = dua bintang, *** = tiga bintang, dan seterusnya.
  3. Di dalam angka maupun bilangan, ada struktur dasar yang berupa urutan atau pola.

Angka adalah simbol, artinya 1 = satu atau 2 = dua, sama bobotnya dengan mengatakan O = lingkaran dan ∆ = segi tiga, sama bobotnya dengan gambar apel, gambar bintang, atau gambar-gambar lainnya. Simbol.

Semakin sering dikenalkan akan semakin ingat akan simbol tersebut.

Mulailah dengan angka 1. Perkenalkan angka 1 pada anak. Tunjukkan bentuknya. Ajak mencarinya di berbagai tempat, dalam berbagai media, dan pada setiap kesempatan yang memungkinkan. Di buku, di majalah, di papan nama, di plat motor, di plat mobil, di iklan televisi, di bajunya. Di mana saja. Ajak anak bermain dengan angka 1.

”Dek … dek … tuh ada angka satu di mobil yang di depan.”
”Dek … dek … ada angka satu tuh di bajunya adek”
”Hayo tebak … mana angka satu di gambar ini?”

Konsentrasikan pada angka 1. Hanya angka 1, sampai Anda benar-benar yakin bahwa anak telah mengingat simbol tersebut. Jika Anda sudah yakin, mulai kenalkan pada angka 2. Demikian seterusnya sampai ia dapat mengingat angka dari 1 sampai 10.

Jika ia sudah mengingat simbol angkanya, perkenalkan konsepnya.
• * = simbol 1 = satu (lisan, bukan tulisan)
• ** = simbol 2 = dua (lisan, bukan tulisan)
• *** = simbol 3 = tiga (lisan, bukan tulisan)

Ajak anak menghitung hidung, mulut, pusar, mata, telinga, tangan, kaki, jari, kemudian beranjak ke mainan, pakaian, sepatu. Tapi ingat, fokus hanya pada satu bilangan pada setiap periode. Jika anak sudah memahami konsep satu, baru berkembang ke dua, demikian seterusnya.

”Dek, ayah hanya punya 1 hidung. Punya adek ada berapa?”
”Dek, itu di depan ada 1 buah mobil”
”Dek, kita masukkan 1 buah bola ke keranjang ya…”

Setelah itu …

”Wah, mata ibu ada dua. Kita hitung ya … Satu (tunjuk)… Dua (tunjuk) … Wah benar, ada dua. Mata adek ada berapa? Hitung yuk, … Satu (tunjuk) … Dua (tunjuk) … Wah sama, ada dua”
”Dek, sekarang kita masukkan 2 mobil-mobilan ke kotak mainan yang merah yuk. Hitung ya … Satu (masukkan) … Dua (masukkan) … Coba sekarang ke kotak yang biru ya … Masukkan lagi ya … Satu (masukkan) … Dua … (masukkan)”

Jika anak sudah berhasil mengingat simbol dan memahami bilangannya, Anda dapat lebih mudah mengajarkan konsep operasi matematika. Mulai dari penambahan, pengurangan, perkalian, sampai pembagian.

Konsep, bukan hapalan.
Logika, bukan hapalan.

Artinya, anak tidak diajarkan untuk menghapalkan 1 + 1 = 2, tetapi memahami bilangan yang dihasilkan jika satu buah benda ditambah dengan satu buah benda maka akan ada dua buah benda.

Mengapa? Bukankah lebih mudah mengajarkan anak menghapal dibandingkan dengan membimbingnya untuk memahami?

Hmm …

Matematika adalah bahasa. Bahasa adalah uraian fakta dengan menggunakan simbol-simbol.

Uraian fakta dengan simbol menunjukkan keberadaan logika.

Logika berpikir bukanlah hapalan. Logika berpikir adalah pemahaman.

Jadi jika Anda mengajarkan anak untuk menghapal, berarti Anda tidak mengajarkan logika berpikir.

Jika Anda tidak mengajarkan logika berpikir, berarti Anda tidak mengajarkan matematika.

Jika Anda tidak mengajarkan logika, jangan salahkan jika anak mengalami kesulitan setiap ada pengetahuan baru yang diperkenalkan padanya.

Yanti D.P.
12 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: