Konsultasi Belajar

Kali ini saya tidak akan membahas petikan artikel, tetapi mencoba membahas mengenai konsultasi belajar. Hal ini cukup menarik perhatian saya untuk dituliskan mengingat tahun ajaran akan segera berakhir.

Anak-anak TK akan sibuk mencari SD, yang SD mencari SMP, yang SMP mencari SMA, dan yang SMA mencari perguruan tinggi.

Anak-anak yang sedang tidak mencari sekolah akan menghadapi kenaikan kelas atau penjurusan.

Mereka akan segera memasuki dunia baru.

Beberapa di antara mereka tidak terlihat adanya perubahan perilaku, tetapi ada di antara mereka yang terlihat berubah, menjadi pemurung atau pemarah.

Ada beberapa orang tua yang tidak khawatir dengan kondisi anak mereka dalam memasuki dunia yang baru.

Ada pula orang tua yang sangat mengkhawatirkan keberhasilan anaknya.

Orang tua yang khawatir dengan prestasi belajar anaknya yang tidak memuaskan, berbondong-bondong mendaftarkan anak ke berbagai kursus atau bimbingan belajar.

Orang tua yang khawatir dengan perilaku anak, mencoba mengkonsultasikannya pada pihak yang dianggapnya berkompeten. Entah itu guru, tutor, mentor, terapis, maupun psikolog.

Dari hasil konsultasi, ada orang tua yang mengirimkan anaknya untuk kursus tambahan, bahkan ada juga yang mengirimkannya untuk terapi.

Pertanyaannya adalah, apakah apa yang direkomendasikan oleh orang-orang yang dianggap kompeten itu memang sudah benar?

Jawabannya, belum tentu.

Kalau Anda ingat tulisan saya mengenai lapisan-lapisan yang mempengaruhi perkembangan anak, maka Anda tahu bahwa hanya Anda-lah yang benar-benar memahami anak Anda, selain anak Anda sendiri.

Kalau naluri Anda mengatakan bahwa apa yang direkomendasikan oleh orang-orang tersebut adalah benar, maka ikuti anjurannya. Namun jika ada rasa tidak nyaman, walaupun hanya sedikit, carilah orang lain dan atau metode lainnya sebagai referensi tambahan.

Metode triangulasi, demikian namanya, pencarian kesimpulan yang valid, benar dan dapat dipecaya, dengan menggunakan beberapa metode sekaligus. Biasanya istilah ini ditemukan dalam metode penelitian kualitatif.

Referensi silang, sangat diperlukan jika Anda tidak ingin anak Anda terluka jiwanya dan berkembangan dengan konsep yang salah mengenai diri, orang tua, dan lingkungannya.

Anda dapat baca teorinya dari buku, membaca tulisan-tulisan pengalaman (seperti yang saya tuliskan ini), berbagi dengan sesama orang tua, konsultasi pada gurunya, menjalani psikotes pada lembaga pemeriksaan psikologi, dan konsultasi pada psikolog.

Membaca maupun sharing saja tidak cukup, karena kenyataan yang dialami oleh masing-masing individu sangatlah unik. Apa yang dialami oleh anak lain, keluarga lain, bangsa lain, mungkin tidak dialami oleh anak anda. Sebaliknya juga demikian. Sangat subjektif.

Konsultasi pada guru juga tidak cukup karena metode mengajar dan proses belajar mengajar sangat subjektif, berbeda dengan kurikulum yang memang dimaksudkan untuk bersifat objektif. Pandangan seorang guru terhadap seorang murid, mungkin akan berbeda dengan pandangan guru lain terhadap murid yang sama. Sama-sama subjektif.

Menjalani psikotes dan memperoleh hasilnya, walaupun objektif, tetap tidak cukup. Mengapa? Interpretasi hasil tes bersifat subjektif, tergantung pada tingkat pemahaman dan pengalaman psikolognya.

Interpretasi psikolog yang baru saja lulus dan tidak berpengalaman kerja selama kuliahnya akan berbeda dengan psikolog lain yang telah menjadi asisten psikolog selama masa kuliahnya. Psikolog yang baru saja praktek akan berbeda penyampaiannya dengan psikolog yang telah berpengalaman selama bertahun-tahun.

Nah …

Jika Anda mengolah kesimpulan-kesimpulan yang subjektif tadi, mengambil benar merah yang menghubungkan semuanya, Anda akan memperoleh kesimpulan yang objektif dan valid. Benar dan terpercaya.

Anda akan memperoleh jawaban Anda sendiri. Apakah anak memang perlu untuk mengikuti kursus tambahan, atau justru perlu berekreasi untuk mengurangi kepenatan belajarnya. Apakah anak memang perlu menjalani terapi, atau justru membutuhkan kehangatan keluarganya.

Anda sendiri yang tahu jawabannya.

Saya perlu menekankan hal ini mengingat guru, mentor, tutor, terapis, maupun psikolog tetaplah manusia biasa yang mempunyai kepentingannya masing-masing. Jangan sampai Anda terjebak dan anak Anda menjadi korban keputusan yang salah.

Yanti D.P.
13 April 2008

Satu Tanggapan

  1. blog na bagus banget…sangat berguna… trims mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: