Outbound Training? Mengapa menggunakan tanda tanya?

Metode kegiatan di alam terbuka ini menggunakan pendekatan belajar melalui pengalaman, yang menurut David A Kolb, memerlukan tahapan, yaitu mengalami, merefleksi, membentuk konsep, dan menguji konsep yang telah ditemukan.

Ulasan

Jika membaca tahapan David A Kolb tersebut, apakah benar otbon (anak-anak menyebutnya seperti ini) yang ditawarkan oleh banyak pihak itu benar-benar sudah melaksanakan proses pembelajar dengan benar?

Pengalaman seru. Hanya itu yang berhasil dikenang oleh anak.

Sayang sekali … momen pembelajaran yang baik terlewatkan begitu saja, hanya karena fasilitator yang pada kenyataannya sekedar menjadi operator alat permainan.

Mengapa saya katakan hanya menjadi operator? Keterbatasan waktu, banyaknya permainan, dan kelompok besar, serta keterbatasan pemahaman fasilitator membuat tahap-tahap pembelajaran terlewatkan, tanpa adanya pendalaman.

Apa yang dialami oleh anak seharusnya digali secara keseluruhan, baik dari sensasi fisik, rasa yang terusik, dan pikiran yang berkecamuk. Fasilitator yang baik dapat membuat cermin agar anak-anak dapat merasakan memikirkan kembali apa yang baru saja mereka lakukan.

Kemudian, berbekal cerminan perasaan dan pemikiran tersebut, anak diajak untuk dapat merangkainya, menggabung-gabungkan kepingan-kepingan menjadi sebuah gambaran konsep yang utuh.

Terakhir, gambaran konsep yang utuh tadi diuji, atau dijadikan bekal dalam menyelesaikan permainan berikutnya.

Namanya juga belajar, selalu berawal dari yang paling mudah bukan? Kalau belum mengenali huruf, bagaimana bisa belajar membaca? Kalau belum mengenali angka, bagaimana bisa belajar algoritma?

Nah, apa yang terjadi di lapangan?

Berbagai permainan digelar, tanpa memperhitungkan bobotnya secara terperinci.

Buktinya?

Berikut saya sampaikan pengalaman terakhir SBB, sebelum akhirnya, kami memutuskan untuk tidak lagi menggunakan tim fasilitator dari luar, hanya sekedar menyewa mereka untuk menjadi operator alat/permainan.

Siswa SBB yang berjumlah 30 orang, dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 memulai petualangan dari atas pohon. Mereka memanjat, menyeberangi jembatan tali (jembatan elvis), dan meluncur (flying fox). Sementara kelompok 2 memulai petualangannya dengan permainan teka-teki (puzzle) dan kelompok 3 merangkak dari terowongan satu ke terowongan lainnya.

Setelah selesai, masing-masing kelompok saling bertukar permainan. Kadang-kadang ada kelompok yang harus mengisi waktunya dengan bernyanyi-nyanyi sembari menunggu kelompok yang lain selesai. Begitu terus sampai seluruh permainan dirasakan oleh semua anak.

Apakah ada proses refleksi? Di mana? Kalau tahap refleksi saja tidak terpenuhi, pelajaran apa yang dapat mereka ambil hikmahnya?

”Aku tadi terbang lho!” kata si A
”Aku tadi manjat pohon, tinggi sekali” kata si B
”Tadi khan helm-ku mau lepas” kata si C
”Terowongannya gelap. Nggak enak. Enak pas terbang” kata si D

Pengalaman yang seru!

Hanya itu yang tertanam pada anak-anak.

Yanti D.P.
10 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: