Sehat dan normal, salah satu syarat masuk SD favorit

Materi Seleksi
Test tertulis meliputi :

  • Pengenalan bilangan,
  • pengenalan kata,
  • ketelitian gambar,
  • melengkapi gambar dengan membuat garis.

Test Wawancara, dengan materi :

  • Hal – hal yang dekat dengan lingkungan di rumah / asal TK (bila berasal dari TK), aspek akan dinilai : ketepatan menjawab, sikap dan keberanian
  • Penampilan Seni (menyanyi / puisi / memainkan alat musik), aspek yang dinilai : ekspresi dan vocal
  • Pengenalan Bahasa Inggris
  • Kesehatan pribadi (pendengaran, penglihatan, ucapan, kebersihan / kerapihan)

Dikutip dari salah satu selebaran SD mengenai Penerimaan Siswa Baru.

Ulasan

Ketika membaca materi seleksi tersebut, saya merasa sedih sekali, terutama di bagian Kesehatan yang meliputi pendengaran, penglihatan, ucapan, kebersihan, dan kerapihan.

Akan kemana beberapa siswa kami, yang kebetulan mengalami kekurangan fisik? Apa gunanya anjuran pemerintah untuk mengadakan pendidikan inklusi?

Sudahlah, tidak ada gunanya menghujat pemerintah dan sekolah lain. Tidak ada gunanya. Saya hanya ingin bercerita pengalaman SBB mengenai pendidikan inklusi itu sendiri.

Sejak Sekolah Bintang Bangsaku masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Cabang Penjernihan, sekitar 6 tahun yang lalu, kami selalu punya siswa yang ”khusus”, sampai seringkali singkatan SKB diplesetkan menjadi SLB (Sekolah Luar Biasa).

Kalau awalnya kami hanya diberi rejeki untuk mengasuh anak-anak yang speech delay (keterlambatan bicara), sekarang kami mengasuh beragam kekhususan. Mulai dari speech delay, dislexia, disgraphia, adhd, cp, autis, disphasi/aphasia, sampai dengan yang down syndrome.

Kami tidak tahu darimana datangnya anak-anak khusus tersebut sampai dapat singgah dan menjadi salah satu anggota keluarga kami. Kami tidak pernah berpromosi, dan juga tidak pernah menjanjikan ”kenormalan” mereka. Beberapa di antara mereka dapat berkembang dengan pesat, namun ada juga yang terkesan jalan di tempat.

Saat ini, perjuangan kami untuk dapat mengasuh anak-anak khusus tersebut tidaklah seberat tahun-tahun pertama. Pada saat itu, selain harus menghadapi si anak khusus, kami juga harus dapat menyakinkan orang tua siswa yang lain untuk juga dapat menerima anak-anak tersebut.

Pada saat itu, tidak jarang orang tua yang mendatangi saya dan mengancam mengeluarkan anaknya dari sekolah jika si khusus masih tetap ditempatkan di kelas yang sama. Tidak jarang juga orang tua yang mengajukan kekhawatirannya mengenai perilaku si khusus yang mungkin akan ”menular” pada anaknya. Menular di sini dalam arti ditiru oleh anak-anak lain.

Saya mengatakan pada mereka bahwa sekolah tidak pernah mengeluarkan siswa dengan alasan apa pun.

Saya jelaskan pada para orang tua bahwa dengan kehadiran si khusus, anak-anak justru belajar berempati dan mengasihi tanpa syarat. Mereka belajar membimbing. Mereka belajar berbagi. Mereka juga belajar mengalah.

Sementara untuk si khusus, keberadaan mereka bersama teman-teman sebaya akan sangat membantu motivasinya untuk belajar bersosialisasi agar dapat diterima oleh teman-temannya.

Keberadaan anak khusus di dalam kelas memang akan mengganggu proses belajar mengajar jika ia tidak ditangani secara tepat. Jumlah siswa yang terlalu banyak dan guru yang tidak terlatih cenderung menyulitkan proses inklusi. Untuk itulah, SBB membatasi jumlah siswa dalam kelas.

Dinamika yang terjadi di kelas menunjukkan bahwa rasa aman dan kehangatan sangat mewarnai suasana belajar. Si autis jadi bisa ikut bermain, si disphasi/aphasia mencoba untuk berkomunikasi dengan keterbatasan bahasanya, di speech delay dapat berbicara dengan normal, si ADHD/ADD dapat diingatkan untuk tidak sibuk, si down syndrome mulai belajar makan dan minum sendiri. Sementara anak-anak yang lain sibuk menjadi pengawal atau pembimbing si khusus. Saat si khusus memerlukan pertolongan, mereka dengan senang hati menawarkan bantuan.

Kadang-kadang lucu juga mengamati si A yang sibuk berceloteh sembari membantu si B (cp) yang kakinya lemah agar bisa berjalan dan mengambil sendiri botol minumnya. Sementara di kelas yang lain ada si C yang sibuk memanggil-manggil salah satu temannya, si D (autis) yang sedang ”hilang” dengan panggilan ”dek D … dek D … sini … main … ada pledo lo …”. Padahal si D yang dipanggil-panggil sedang sibuk flapping (menggerakkan kedua tangan secara konstan).

Kasih sayang pada sesama, itu yang kami latih di SBB. Dan kasih sayang mempunyai daya yang menyembuhkan.  Kami percaya itu.

Anda sebagai orang tua, anak Anda dilatih apa?

Yanti D.P.

9 April 2008

Satu Tanggapan

  1. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://www.infogue.com/pengetahuan_umum/sehat_dan_normal_salah_satu_syarat_masuk_sd_favorit/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: