Bersekolah di usia yang masih sangat muda

Anak-anak usia dini dapat saja diberikan materi pelajaran, diajari membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan bukan hanya itu saja, mereka bisa saja diajari tentang sejarah, geografi, dan lain-lainnya. Jerome Bruner menyatakan, setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain (Supriadi, 2002: 40).
Supriadi, D. (2001). Kreativitas Kebudayaan & Perkembangan Iptek. Bandung: Alfabeta.

Ulasan

Pagi ini di meja saya tergeletak selembar selebaran dari salah satu Sekolah Dasar yang terbilang favorit di Jakarta Pusat. Saya tidak akan sebutkan nama sekolah tersebut di sini. Tidak perlu.

Salah satu persyaratan untuk dapat mendaftar sebagai siswa baru di SD favorit tersebut adalah : Usia minimum 6 tahun tertanggal 14 Juli 2002 yang dibuktikan dengan akte kelahiran

Masalah usia minimum ini yang seringkali menjadi kendala bagi orang tua, terutama yang anaknya belum cukup umur pada tanggal yang ditentukan. Banyak cara yang ditempuh, bail yang legal maupun tidak legal. Orang tua yang menempuh cara legal sudah mulai dari berkeliling dari satu SD ke SD lainnya untuk mencari SD yang mau menerima anak di bawah umur, mencari rekomendasi mengenai kesiapan sekolah si anak dari psikolog, dan melatih si anak agar benar-benar siap saat menghadapi tes seleksi masuk SD yang dituju. Sementara cara tidak legal yang ditempuh adalah memalsukan tanggal lahir di akte, menggunakan koneksi orang dalam, bahkan sampai dengan penyerahan amplop di bawah meja.

Ada suatu kebanggaan tersendiri, memang, jika anak bersekolah di usia yang sangat muda. Apalagi kalau diterima di SD yang terbilang favorit. Tidak akan ada yang akan mengatakan bahwa anak Anda bodoh, hampir semua orang akan mengakui kecerdasan anak Anda. Kecerdasan si anak adalah kecerdasan orang tua pula bukan?

Baiklah, kita tidak perlu bahas cara-cara yang ditempuh tersebut, sekarang kita coba pahami pendapat Supriadi dan Bruner yang saya cantumkan di awal artikel dan mengkaitkannya dengan syarat usia untuk masuk SD.

Ada beberapa orang tua murid yang mengatakan pada saya bahwa kepala sekolah di SD yang dituju keberatan dengan usia anak yang masih sangat muda. Mereka, para kepala sekolah tersebut, khawatir dengan kesiapan anak untuk belajar formal. Menurut pengalaman mereka, anak-anak yang di bawah umur akan menyulitkan guru karena masih meminta perhatian dan mulai kelas 3 SD prestasi anak-anak tersebut cenderung menurun.

Apakah benar seperti itu?

Saya tidak akan menjawab secara langsung, tetapi mari coba direnungkan bersama berdasarkan kutipan pendapat yang saya cantumkan di awal artikel.

Supriadi dan Bruner, pada intinya, menyebutkan bahwa anak dapat diberi berbagai macam materi pelajaran selama tetap menggunakan metode bermain dan berdasarkan pada tahap perkembangan si anak.

Nah, jadi tidak masalah jika si anak diberikan pelajaran IPA, IPS, Bahasa, Matematika, Agama, dan pelajaran-pelajaran lain yang telah ditetapkan. Anak-anak akan dapat dengan mudah menyerapnya, seperti menyerap iklan yang dilihatnya di televisi, jika pelajaran diberikan dalam bentuk permainan dan disajikan dengan bahasa yang mudah dimengertinya.

Permainan, kuncinya ada di kata ”menyenangkan”.Anak-anak akan senang dan tidak akan bosan belajar.

Bahasa, kuncinya ada di kata ”mudah dipahami” sehingga anak akan dengan mudah menyerap ilmu yang baru. Tidak akan pernah ada istilah patah semangat..

Masalahnya adalah, apakah sekolah yang dituju sudah dapat membawakan pelajaran dengan menyenangkan dan mudah dipahami? Apakah guru benar-benar menguasai psikologi perkembangan anak? Jika jawabannya iya, anak tidak akan mengalami kesulitan untuk belajar, bahkan di usia yang sangat muda sekalipun.

Sayangnya, jarang sekali saya menemukan sekolah yang benar-benar dapat menerapkan metode bermain dalam menyajikan materi pelajarannya, terutama untuk tingkat SD ke atas. Kalau pun ada, biaya sekolahnya jauh di atas rata-rata, jauh dari jangkauan masyarakat kelas menengah. Hal ini wajar saja, mengingat kapasitas kelas sekolah-sekolah tersebut memang sangat kecil jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah konvensional. Biasanya sekolah-sekolah tersebut hanya dapat menerima, maksimal, 20 siswa dalam satu kelas. Otomatis, dengan jumlah siswa yang hanya sedikit maka penghasilan sekolah tidak akan mencukupi untuk menutup biaya operasional jika biaya yang ditetapkan sama dengan sekolah yang kapasitas kelasnya mencapai 40 orang dalam satu kelas.

Sebagai sesama guru, saya dapat memaklumi jika suasana proses belajar mengajar tidak akan maksimal pada kelas yang sedemikian banyak siswanya. Wajar saja jika tidak semua anak akan terladeni secara khusus dan metode pengajaran yang teacher oriented adalah yang paling mudah dilakukan. Konsekuensinya, anak-anak yang masih memerlukan perhatian terpaksa harus belajar secara lebih mandiri.

Terpaksa. Adanya kata ”terpaksa” sudah mengindikasikan adanya suasana yang tidak menyenangkan. Artinya, sekolah dengan kapasitas besar tidak akan cocok untuk anak-anak yang usianya masih sangat muda maupun anak yang usianya sudah cukup tetapi masih menunjukkan kelekatan yang tinggi pada orang tua atau pengasuhnya.

Selain masalah kelekatan, yang biasanya sudah teratasi jika anak bersekolah di Taman Kanak-Kanak, ada juga aspek perkembangan lain yang perlu dipertimbangkan jika ingin memasukkan anak ke SD. Aspek yang paling utama adalah kemampuan motorik halus dan kognitifnya.

Kemampuan motorik halus yang dimaksud di sini adalah kemampuan anak dalam menulis.

(Saya pribadi sebenarnya tidak setuju dengan kewajiban dalam penguasaan keterampilan menulis di usia yang sangat muda, apalagi dengan pelajaran menulis halus. Namun, ketidaksetujuan ini akan saya bahas di lain waktu.)

Mengapa menulis? Karena praktek di lapangan, hampir semua SD yang saya tahu, sudah mewajibkan siswa kelas 1 untuk dapat menulis secara cepat (dan rapi). Bahkan ada beberapa SD yang dalam pelaksanaan seleksi penerimaan murid barunya sudah meminta anak untuk menulis.

Jika anak memang senang menulis dan tidak masalah baginya jika diminta untuk dapat menulis dengan cepat, maka anak sudah siap masuk SD. Namun, jika ia masih harus dibujuk (atau bahkan dimarahin) agar mau menulis, tampaknya harus dipikirkan ulang jika akan memasukkannya ke SD yang berkapasitas 40 orang.

Selain menulis, aspek lain yang paling penting adalah kemampuan berpikir anak, atau kemampuan kognitifnya. Baca, berhitung, pengetahuan, dan logika.

Walaupun pemerintah, seperti yang diberitakan di berbagai surat kabar maupun yang dicantumkan dalam kurikulum, tidak mewajibkan anak-anak TK untuk belajar baca, namun kenyataan di lapangan berkata lain. Hampir semua SD, selain SD reguler yang kriteria seleksi masuk hanya sebatas usia, mewajibkan calon siswa untuk menjalani tes seleksi masuk yang secara tidak langsung mengharuskan si anak dapat membaca soal-soal yang diberikan. Salah satu contoh soalnya adalah : warnai lingkaran dengan warna merah, segi tiga dengan warna biru.

Jika anak memang senang membaca dan tidak masalah baginya untuk diminta membaca tanpa dampingan orang tua atau guru, maka anak sudah siap masuk SD. Namun, jika ia masih dibimbing dalam membaca, tampaknya harus dipikirkan ulang jika akan memasukkannya ke SD yang berkapasitas 40 orang.

Terus terang, jika Anda bertanya pada saya, apakah anak sebaiknya masuk SD di usia yang sangat muda, maka jawaban saya adalah, kalau memang sekolah itu memang bersedia dan mampu untuk benar-benar membimbing anak Bapak/Ibu dengan cara yang menyenangkan silakan saja karena jatah bermain anak yang sebenarnya sampai usia 8 tahun tidak akan berkurang kualitasnya. Tetapi, jika SD yang dituju tidak dapat menjanjikan situasi yang menyenangkan untuk anak Bapak/Ibu, saya khawatir. Memang benar bahwa si anak akan lolos tes seleksi masuk, tetapi apa gunanya jika sepanjang tahun berikutnya ia terbebani dengan rasa terpaksa? Saya tidak akan heran jika suatu saat nanti dia menunjukkan pemberontakannya.

Yanti D.P.
9 April 2008

Satu Tanggapan

  1. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://infogue.com/pengetahuan_umum/bersekolah_di_usia_yang_masih_sangat_muda/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: