Salah siapa?

Kali ini saya tidak mengutip kalimat, melainkan diagram yang menggambarkan proses terbentuknya nilai/ values pada anak, seperti yang tergambar di sebelah kanan ini.

Ulasan

Hari ini saya memprotes diri saya sendiri karena dalam beberapa artikel renungan sebelumnya ada kesan bahwa saya selalu memposisikan orang tua di sudut yang menyulitkan. Mungkin jadi terkesan menyalahkan orang tua atas perilaku anaknya sendiri.

Sebenarnya tidak demikian.

Jika melihat gambar yang saya cantumkan di awal artikel, terlihat bahwa anak dipengaruhi oleh 4 lapisan lingkungan yang melingkupinya dan juga oleh interaksinya dengan ketiga aspek yang membentuk karakter pribadinya yang unik.

Ketiga aspek itu adalah aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek perilaku atau sering juga disebut dengan aspek konatif. Ketiga aspek ini tidak akan saya bahas secara terperinci di sini, akan saya bahas di artikel-artikel selanjutnya. Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa ketiga aspek tersebut selalu berkembang seiring usianya. Perkembangan anak selalu bersifat unik pada masing-masing individu walaupun secara garis besar dapat ditarik benang merah persamaannya. Benang merah inilah yang biasanya dijelaskan oleh masing-masing ahli dalam Teori Psikologi Perkembangan.

Benang merah yang menunjukkan karakteristik masing-masing usia, contohnya, anak usia dua tahun terkenal dengan temper tantrum-nya (emosi yang meledak-ledak), anak usia tiga tahun terkenal dengan celotehnya yang panjang tapi tidak jelas maksudnya, anak usia empat tahun terkenal dengan gaya bos-nya, anak usia lima tahun dengan kebohongannya, dan seterusnya.

Keunikan yang menunjukkan karakteristik masing-masing anak, contohnya, temper tantrum pada A ditunjukkan dengan menangis sambil menjerit-jerit, si B menunjukkannya dengan memukul-mukulkan tangannya ke kepala, sementara si C dengan dramatisnya memukulkan kepalanya ke lantai berulang kali. Baik A,B, maupun C baru akan mereda jika keinginannya dipenuhi. Di sisi lain, ada si D yang menunjukkan temper tantrumnya dengan tangisan yang menyayat hati. Bedanya dengan si A, B, dan C yang baru reda jika diberikan apa yang mereka mau, si D dapat mereda tangisnya setelah dipeluk dan diajak berdialog.

Nah, keunikan masing-masing anak tersebut yang sangat terpengaruh oleh lapisan-lapisan lingkungan di sekitarnya. Lapisan tersebut, di mulai dari yang paling dekat adalah orang-orang yang berada di keluarganya. Baik itu keluarga inti maupun anggota keluarga lainnya yang tinggal di rumah yang sama.
Setelah anak menginjakkan kakinya untuk bersekolah, maka sedikit demi sedikit pengaruh keluarga mulai tercampur dengan nilai-nilai yang berlaku di sekolahnya. Jika anak tetap tidak bersekolah sampai ia berusia 6 tahun, atau langsung masuk ke bangku sekolah dasar, maka lapisan ke dua tergantikan oleh lingkungan sosial terdekat yang tidak tinggal dalam satu rumah. Tetangga, kalau si anak diijinkan bermain di rumah tetangga. Kakek nenek, jika si anak secara rutin lebih sering berada di rumah kakek neneknya dibandingkan dengan bermain di rumah tetangga.

Dikatakan bercampur karena bagaimanapun anak tetap tinggal bersama orang tuanya. Lain halnya jika anak terpisah secara drastis, misalnya pindah ke rumah keluarga yang lain atau justru diasramakan. Semakin muda ia terpisah dari keluarga aslinya, maka akan semakin mudah pula nilai-nilai yang pernah ditanamkan di awal usianya oleh orang tua asli akan terkikis, apalagi jika komunikasi antara orang tua dan anak sangat terbatas. Pada kondisi seperti ini, maka lapisan pertama sudah berganti dengan lingkungannya yang baru.

Selanjutnya, di lapisan yang ke dua, anak akan juga akan mulai sedikit demi sedikit mengenal nilai-nilai budaya lokalnya. Jika ia dibesarkan di Jawa, walaupun aslinya dari Kalimantan, maka nilai-nilai Jawa akan mempengaruhi proses dalam dirinya. Bagaimana ia berpikir, bermain emosi, dan juga berperilaku. Demikian pula jika anak asli Indonesia yang dibesarkan di Australia, maka nilai-nilai budaya Australia-lah yang akan mempengaruhi si anak.

Ketika anak sudah semakin mampu berinteraksi dan mulai berkenalan dengan orang-orang yang berada di luar lapisan ke dua, atau dengan kata lain ia mulai memasuki lapisan ke tiga, maka secara tidak sadar mulai akan muncul nilai-nilai yang bersifat global. Nilai-nilai yang mulai dipilah pilihnya agar dapat diterima oleh lingkungan yang baru. Jika diperhatikan, akan sangat berbeda pola pikir, ekspresi emosi, dan perilaku individu yang belum pernah menginjakkan kakinya di luar daerah tempat dilahirkannya dengan yang sudah melanglang buana. Individu yang lahir, besar, dan menjadi tua di Sibolga (Sumatra Utara) tentu akan mengambil sikap yang berbeda dengan individu kelahiran Sibolga namun dibesarkan di Papua (Irian Barat) dan sekarang sedang melanjutkan studinya di Amsterdam (Belanda).

Selain berkenalan secara langsung melalui hubungan antar manusia, interaksi dengan ”dunia luar” juga diperoleh dari berbagai sumber lainnya. Mulai dari buku, lagu, televisi, film, sampai dengan internet.

Kesimpulannya, tidak ada yang bisa menjamin bahwa anak akan menjadi ”baik” jika mengingat banyaknya pihak yang berpengaruh pada karakteristik pribadinya. Namun, bagaimanapun lapisan pertama adalah yang paling dekat dengan inti kepribadian seseorang. Lapisan terdalam yang melandasi pola maupun ekspresi emosinya, pola berpikir, dan perilakunya. Anda, sebagai orang tua, adalah lapisan terdalam itu.

Anda akan buat seperti apa lapisan itu?

Yanti D.P.
7 April 2008

4 Tanggapan

  1. […] keluarga adalah pendidik utama. Penjelasan mengenai hal ini dapat Anda baca pada artikel “Salah siapa?”. Tidak perlu saya jelas di […]

  2. […] Anda ingat tulisan saya mengenai lapisan-lapisan yang mempengaruhi perkembangan anak, maka Anda tahu bahwa hanya Anda-lah yang benar-benar memahami […]

  3. […] keluarga adalah pendidik utama. Penjelasan mengenai hal ini dapat Anda baca pada artikel “Salah siapa?”. Tidak perlu saya jelas di […]

  4. […] Anda ingat tulisan saya mengenai lapisan-lapisan yang mempengaruhi perkembangan anak, maka Anda tahu bahwa hanya Anda-lah yang benar-benar memahami […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: