Mengatur Uang Saku

Uang saku bukanlah suatu hadiah untuk kelakuan baik. Bukan pula upah untuk sesuatu pekerjaan yang dilakukan anak untuk kepentingan keluarga. Uang saku merupakan suatu sarana mendidik anak. Manfaatnya ialah : memberikan kepada anak pengalaman menggunakan uang untuk tujuan-tujuan tertentu yang dipilihnya sendiri dan atas tanggung jawabnya sendiri. Dengan itu anak belajar memikul tanggung jawab.
(Dr. Haim G. Ginott, Memesrakan Hubungan Anda dan Anak Anda, P.T. Gramedia, 1977)

Ulasan

Tulisan di atas diterbitkan pada tahun 1977, dan sebenarnya ditulis oleh Ginott pada tahun 1965. Artinya, anjuran untuk melatih anak dalam hal tanggung jawab finansial sudah ada sejak … hmmm… berapa tahun yang lalu? Yah, kalau Ginott orang pertama yang mengungkapnya berarti sudah 43 tahun lamanya. Mungkin kalau telaah pustaka dilakukan lebih serius, mungkin akan ditemukan anjuran yang sama, dengan tata bahasa dan nama yang berbeda, di tahun yang lebih tua lagi.

Sementara itu, di era 2000-an, kemampuan untuk menggunakan atau mengelola uang untuk tujuan tertentu dan atas tanggung jawabnya sendiri, disebut dengan Financial Quotient, alias FQ. Kecerdasan Finansial kalau bahasa Indonesia-nya.

Jauh sebelum FQ, ada IQ, EQ, SQ, dan Q-Q yang lainnya. Kalau iseng-iseng ingin mencari Q-Q itu, kita bisa mencari tes yang dapat menunjukkan Q-Q itu. Tinggal googling, menyempatkan diri ke toko buku, atau bahkan ke psikolog.

OK.

Kembali ke masalah uang saku.

Kenapa uang saku dikaitkan dengan FQ, IQ, EQ, SQ, dan Q-Q lainnya? Karena memang berkaitan sangat erat.

Ketika anak sudah dilatih untuk mengelola uang sakunya dengan benar (FQ), misalnya dengan membagi uangnya sekian persen untuk digunakan (IQ), sekian persen untuk ditabung (EQ), dan sekian persen untuk berbagi (SQ), maka tidak ada lagi masalah keuangan di saat ia dewasa kelak. Berapa pun uang yang dihasilkannya dari bekerja akan cukup membuatnya hidup layak dan terjamin.

Masalahnya adalah, kita sebagai orang tua, seringkali memberikan uang saku dalam jumlah yang ”tepat” atau justru sangat berlebih. Kita tidak mengajarkan pada anak untuk menggunakan, menabung, dan berbagi sekaligus. Tidak heran jika ada orang dewasa yang hanya bisa menggunakan tetapi tidak bisa menabung. Ada juga yang asyik menabung tetapi enggan untuk menggunakan. Bahkan ada yang sangat pemurah karena asyik berbagi apa yang dimiliki tanpa memikirkan masa depannya.

Contoh nyata kesalahan kita. Uang saku diberikan harian dalam jumlah yang tepat, sesuai dengan kebutuhan pengeluaran anak.

Tanpa bekal makan dan minum, si XYZ diberi uang Rp. 5000,00 dengan berpesan ongkos naik bemo Rp. 2000, beli roti untuk bekal makan Rp. 1500, dan air gelas mineral Rp. 500.

Ketika pulang, pilihannya adalah, anak kehabisan uang karena digunakan semua, atau pulang dengan membawa sisa uang karena mengorbankan salah satu kebutuhannya. Entah pulang berjalan kaki, tidak membeli roti, atau tidak membeli teh botol.

Apakah itu yang kita inginkan? Ia menghabiskan uang? Atau ia kelelahan berjalan kaki? Atau ia harus menahan lapar demi uang Rp. 1.500? Atau ia menahan haus demi Rp. 500?
Atau … atau … atau?

Contoh lain kesalahan kita. Uang saku diberikan berlebih dan tidak jelas penggunaannya.

Berbekal makanan dan minuman, si XYZ diberi uang Rp. 5000,00 dengan berpesan ongkos naik bemo Rp. 2.000, sisanya boleh dipakai, kalau tidak dipakai ditabung supaya bisa beli sepeda.

Ketika pulang, pilihannya adalah anak menghabiskan uang karena membeli makanan, minuman, atau mainan. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.

Atau pilihan lainnya adalah, anak menyisakan uangnya setelah membeli mainan di sekolah.

Atau pilihan lainnya adalah, anak menyisakan uangnya sebesar Rp. 3.000,00 untuk ditabung.

Apakah itu yang kita inginkan? Anak membelanjakan uang tidak semestinya? Anak tidak mengalokasikan uang untuk ditabung secara tepat? Anak memaksakan diri untuk menabung sebanyak-banyaknya untuk membeli barang yang diinginkannya?

Lantas, seperti apa yang benar?

Ajarkan anak untuk mengelola uang. Menggunakan, menabung, dan berbagi sekaligus agar anak menjadi bijak Bukan boros, bukan pelit. Bukan pula hemat pangkal kaya. Bijak.

Praktisnya?

Pastikan terlebih dahulu bahwa anak dibiasakan untuk membeli yang diinginkannya dengan menggunakan uang tabungannya. Tidak dengan meminta atau merengek pada siapa pun.
Pastikan bahwa uang yang diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, cukup untuk disisihkan sebagai tabungan, dan cukup untuk berbagi.

Pastikan bahwa uang saku tersebut tidak melebihi anggaran keuangan bulanan.

Kalimat pengantar uang saku ”Ini uang sejumlah XXX buat uang sakumu selama …hari. Ini sudah ibu/bapak hitung. Sejumlah Rp 1 kamu gunakan untuk naik bemo, jajan, atau beli mainan. Sejumlah Rp 2 kamu masukkan ke tabungan supaya bisa beli ABC yang kamu inginkan kemarin. Kalau bisa menabung dalam jumlah lebih, kamu bisa lebih cepat membeli ABC itu. Tetapi, ingat, sejumlah Rp. 3 harus kamu gunakan juga untuk orang lain. Ibu/bapak lebih suka kalau kamu berikan uang yang Rp. 3 pada orang yang lapar dan tidak punya uang.”

Yanti D.P.
4 April 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: