Konsultasi Psikologi 4

Tanya :
Anak saya berusia 6 tahun. Sejak kecil dia sangat takut pada serangga. Saya mencoba menghentikan ketakutannya tersebut dengan memberikan mainan berbentuk serangga dan juga buku-buku mengenai serangga. Dia memang tidak terlalu takut dengan mainan serangga yang saya berikan meski tidak mau memegangnya terlalu lama. yang ingin
saya tanyukan, apakah cara yang saya lakukan untuk menghentikan ketakutannya tersebut tepat? Mohon sarannya?

TY, Jakarta Barat.

Ibu Tantri,…
Sungguh bijaksana ibu menyikapi dengan serius ketakutan yang ananda alami terhadap serangga. Tentunya jika tidak diantisipasi tidak tertutup kemungkinan ketakutan tersebut dapat berkembang menjadi takut yang berlebihan dan dalam banyak hal akan menghambat aktivitas ananda. Serangga ada dimana-mana bukan?
Sesungguhnya setiap jenjang perkembangan anak “membawa” ketakutan-ketakutan khas bagi mereka. Kesadaran diri dan daya khayal yang berkembang pesat berperan mengembangkan fantasi mereka, termasuk ketakutan-ketakutan mereka pada benda, peristiwa, dsb. Misalnya saja setelah melihat film monster di televisi, tiba-tiba ia ketakutan melihat cicak karena dalam fantasinya cicak tersebut berubah menjadi monster yang siap menerkamnya, dst. Ketakutan ini biasanya memudar setelah usia sekolah, kendati kesiapan emosional satu anak dengan yang lain berbeda (dan kurang bijaksana membanding-bandingkan mereka).
Untuk mengatasi ketakutan ananda, dibutuhkan proses dan latihan. Apa yang ibu lakukan sudah tepat, yakni membangun sikap positif, asalkan tetap memperhatikan kondisi ananda…
Ibu dapat mencoba menggali dan memahami perasaan atau hal-hal yang membuat ananda takut tanpa memberikan penilaian agar ia merasa lebih nyaman. Kenali pula perasaan Ibu (atau suami),… bisa jadi sumbernya dari orang tua yang juga menyisakan “ketakutan” akan sesuatu hal dan tak sengaja mengekspresikan rasa takut dengan agak berlebihan. Orang terdekat anak adalah “model” baginya, jadi jika Ibu menemukan hal yang sama pada anggota keluarga yang lain akan lebih baik jika tidak hanya ananda yang belajar mengatasinya.

Yang juga harus dipastikan adalah lingkungan bermain dan belajar di sekitar ananda tidak “memperparah”, misalnya mengolok-olok, menggoda dengan menyodorkan serangga , dsb.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga dapat membantu. Salam.

Irma Sukma Dewi, Psi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: