Konsultasi Psikologi 3

Tanya :

Salahkah Memukul Anak?

Anak saya laki-laki berusia 2 tahun sedang aktif-aktifnya, rasa ingin tahunya besar sekali dan belum tahu akan bahaya. Begitu aktifnya, ketika dilarang dia suka melawan dan tidak peduli dengan larangan tersebut. Apabila sudah kelewatan, saya pun suka menyentil atau memukul tangannya pelan-pelan. Tetapi akhirnya dia akan membalas memukul saya. Apakah salah tindakan menyentil/memukul tangan anak saya? Apa yang harus saya lakukan jika larangan saya tidak didengar meskipun larangan tersebut saya sampaikan secara baik?
B C, Cengkareng, Jakarta Barat

Jawab

Ibu dan Ayah ….

Memiliki putra atau putri berusia dua tahun memang boleh dibilang masa-masanya banyak orang tua mulai sering kehilangan kesabaran. Bagaimana tidak, mulai tumbuh rasa ingin tahu sehingga segala sesuatu disentuh, maunya serba dituruti sementara kemampuan mereka mengungkapkan keinginan masih sangat terbatas, beberapa dari mereka bahkan mulai menentang. Nah, hati-hati… si dua tahun adalah peniru yang ulung. Ibu sudah mengalaminya sendiri bukan, balas dipukul? Di usia ini anak cenderung meniru orang dewasa. Jika melihat orang dewasa memukul, dia ikut memukul tanpa tahu alasannya.

Boleh-boleh saja marah, tapi sebaiknya hindari melakukan kekerasan fisik pada anak. Memang, banyak di antara kita yang masih berpikir, hukuman fisik merupakan cara efektif untuk mendisiplinkan anak. Memukul, menjewer, atau mencubit menjadi “favorit”. Sayangnya pesan yang sesungguhnya ingin kita sampaikan tidak akan sampai ke anak. Yang terekam hanyalah pukulan, jeweran, atau cubitan yang mereka terima, bukan alasan yang melatarbelakanginya.

Anak-anak yang sering mendapat pukulan banyak yang kemudian menggunakan cara yang sama untuk menyelesaikan persoalan, ada pula memilih menghindar ketika berada dalam situasi yang kurang nyaman karena merasa kurang PD, sulit untuk percaya pada orang lain sehingga kesulitan dalam menjalin hubungan, dan di usia sekolah banyak pula yang prestasi belajar

(1) Coba untuk “mengalihkan” ketika ia mencoba melakukan sesuatu yang berbahaya dengan mengajaknya melakukan hal lain yang menyenangkan.

(2) Untuk anak yang cukup besar, ajak berdiskusi dan jelaskan kenapa ia tidak boleh melakukan suatu perbuatan. Perlihatkan akibat dari tindakannya.

3) Jika merasa benar-benar sangat marah dan nyaris tidak bisa “mengontrol diri”, tenangkan diri dan menjauhlah sementara dari anak. Atur napas, cuci muka, atau kerjakan sesuatu yang membuat sejenak melupakan kemarahan. Tapi, segera tangani kembali persoalan jika telah berhasil menenangkan diri supaya tidak kehilangan moment. Bisa dengan diskusi, membaca bersamanya buku yang menyiratkan hal senada, dst.

(4) Tolong diri sendiri dengan menyelesaikan segera persoalan yang membebani , misalnya masalah pekerjaan atau hubungan dengan pasangan. Mengurus anak memang menguras energi, apalagi ditambah persoalan diri sendiri bukan?

(5) Kalau terlanjur memukul… belum terlambat untuk memulai komunikasi aktif dan terbuka pada anak. Tidak ada yang salah jika kita mampu dan mau mengakui kesalahan dan

dan meminta maaf, apalagi pada buah hati kita. Minta ia mengingatkan jika ia melihat ayah atau ibunya melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.

Ibu dan Ayah, banyak hal yang dipelajari anak selama masa tumbuh kembangnya. Namun, orang tua pun perlu belajar. Diantaranya belajar menjadi orang tua yang lebih baik. Jadi, wajar-wajar saja kalau sebagai orang tua kita pernah merasa kesal, marah, bahkan frustrasi… namanya juga sedang belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: