Konsultasi Psikologi 2

Tanya :
Putra saya berusia 6,5 tahun dan baru saja masuk di kelas 1 SD. Dia sejak di TK memang memiliki banyak teman dan sering mengajak teman-temannya untuk bermain di rumah. Sejak awal di sekolah dasar, dia memiliki satu kawan dekat yang memang duduk berdekatan dengannya di kelas. Temannya ini sering diajak main ke rumah dan saya perhatikan mereka memang sangat asik bermain. Anak saya sering meminjamkan beberapa mainan miliknya yang biasanya dia simpan saat ada temannya yang bermain ke rumah. Hal ini berlangsung cukup lama. Dan saya biarkan saja karena selain saya pastikan temannya sudah izin kepada mamanya, saya rasa baik untuk anak saya memiliki sahabat. Namun saya perhatikan belakangan temannya sangat jarang main kerumah. Saat saya tanyakan kepada anak saya apakah mereka bertengkar
dijawab dengan tidak. Karena penasaran, saya coba tanyakan ke temannya. Jawabannya sunguh sangat mengejutkan saya. Menurut temannya, dia tidak lagi bermain ke rumah karena tidak memiliki uang. Rupanya setiap kali main, anak saya memintanya untuk memberikan uang. Apa yang harus saya lakukan. Saya khawatir hal ini bisa berlanjut menjadi kebiasaan yang negatif. Namun saya juga tidak langsung mempercayai begitu saja perkataan temannya. Bagaimana cara yang tepat untuk menanyakan hal ini dan kalau memang benar itu yang dilakukannya, apa tindakan yang harus saya ambil. Mohon sarannya. Terima kasih.

SK, Jakarta Barat.

Jawab :

Ibu Suzanna yang sedang agak resah, …
Dengan semakin terlibatnya anak-anak dengan lingkungannya salah satu yang muncul adalah munculnya konflik dengan teman, sering kali muncul akibat perasaan bersaing di antara mereka. Apalagi di usia putra ibu saat ini hubungan yang terbentuk biasanya didorong oleh adanya berbagai kesamaan dengannya. Namun bisa juga persahabatan dijalin untuk menentramkan dan menutupi kekurangan masing-masing, misalnya si A memiliki banyak mainan sementara si B sebaliknya. Tak mengherankan jika hubungan dengan teman pun menjadi rawan konflik
Wajar saja ibu resah dalam hal ini, apalagi barang kali ibu sering mendengar mengenai bullying yang marak di antara anak-anak SD. Sekalipun Ibu sangat memperhatikan perkembangan anak, usahakan tidak segera mencampuri hubungan persahabatannya, namun coba amati dulu. Sebab, pandangan kita seringkali cenderung memihak. Namun demikian cobalah untuk mencari tahu. Sumbernya yang akurat salah satunya anak Anda, sahabatnya, bisa juga melalui gurunya di sekolah. Banyak informasi penting tentang anak yang umumnya dimiliki oleh guru, namun perlu diperhatikan bahwa sebelum menemui guru perlu kiranya ibu bertanya pada anak terlebih dahulu tentang permasalah tersebut sehingga anak senantiasa merasa orang tua senantiasa berada di pihaknya dan bersedia menolongnya.

Untuk dapat berkomunikasi yang efektif, Ibu dapat memilih waktu yang tepat untuk berbincang. Berikan perhatian penuh saat berbincang dengannya serta gunakan bahasa yang gampang dipahami. Keseriusan kita dalam mendengarkan akan mendorongnya berbicara terus, namun tunda memberikan pertanyaan yang memojokkan pada awal perbincangan. Perhatikan juga bahasa tubuhnya agar Anda tahu kapan perilaku, sikap, atau ekspresinya mengatakan sesuatu tanpa kata.

Jika kekhawatiran Anda terbukti mengenai perilaku bully (sikap mendominasi yang tidak sehat, memaksa, menggertak) yang dilakukan oleh anak, upaya yang dapat kita lakukan adalah mencoba memahami masalah yang melatarbelakanginya dan bersikap bijaksana. Cobalah membuat kesepakatan dengannya. Buatlah aturan yang jelas tentang perilaku sosialyang Anda inginkan. Pujilah jika ia berhasil mengendalikan diri atau melakukan sikap positif untuk menyadarkan anak bahwa orang tuanya memperhatikan perilaku baiknya. Penting untuk menekankan tentang hak orang lain dan membangkitkan empati anak dengan mengajaknya membayangkan jika ia dalam posisi sebaliknya. Selain itu, akan lebih menyenangkan jika kelebihan energinya dapat disalurkan melalui kegiatan yang positif, misalnya bergabung dalam klub olah raga atau klub olah raga atau kesenian.

Penanganan terhadap bullying perlu dilakukan segera mungkin untuk menghindari masalah yang lebih serius di masa mendatang. Bila perlu konsultasikan pada pihak ketiga (guru atau psikolog) guna mencari pemecahan yang paling efektif. Semoga jawaban kami dapat membantu Ibu.

Irma Sukma Dewi, Psi.

Satu Tanggapan

  1. saya atlit bulutangkis umur saya 13 tahun,kadang say malu dan bertanya knp umur saya 13 tahun knp ga 14 tahun ja?
    karna smua org ngga percaya umur saya,kadang saya berbohong.bagaimana saya bisa percaya diri dengan umur saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: