Konsultasi Psikologi 1

Tanya 1
Saya seorang ibu dari anak perempuan (usia 14 bulan). Anak saya sangat sulit makan, dia selalu mengulum/mengemut makanannya, sehingga makanannya tidak habis-habis. Kadang bila dipaksa makan dia nangis atau berteriak. Memang sejak mulai makan (umur 5 bulan), dia sulit makan sehingga sering dipaksakan makan oleh neneknya dan makanannya bisa habis tertelan. Tapi sekarang dia sudah pintar mengulum makanan, bahkan bisa sampai sejam makanan tidak juga ditelannya. Sehingga bila sedang makan, saya selalu sedia minum, agar makanannya bisa ikut tertelan. Bagaimana cara
mengatasinya? Terima kasih atas jawabannya.
FA, Jakarta Pusat

Jawab 1
Ibu Ferra,
Ibu tak sendirian… banyak orang tua mengeluhkan hal yang sama, si kecil sulit makan. Memang persoalan makan umum dijumpai pada anak-anak, tidak saja yang berusia batita, tak jarang anak usia sekolah pun masih sulit makan. Melewati usia satu tahun, anak seringkali menunjukkan sikap tidak kooperatif. Ada saja ulahnya. Dari yang selalu menutup rapat mulutnya, mengemut, hingga menyembur-nyemburkan atau melepeh kembali makanan yang sudah berhasil masuk ke mulutnya. Tak mengherankan jika hal ini mencemaskan orang tuanya.
Kebiasaan mengemut ini harus diatasi segera karena bisa berpengaruh buruk pada perkembangan anak. Dengan mengemut anak hanya mampu menghabiskan sebagian kecil makanan dalam waktu lama. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi gizi anak akan memburuk dan giginya mengalami kerusakan.
Pada prinsipnya, kita harus bisa menciptakan suasana yang menyenangkan pada saat si kecil makan. Dan tidak perlu memaksa anak untuk makan. Semakin dipaksa, akan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan baginya. Tidak perlu juga memelototi, berkata keras, atau bahkan mencubit. Anak justru makin ketakutan dan secara psikis malah akan membuat makanan yang dimakan tidak terkunyah dengan baik.
Ibu dapat mengevaluasi terlebih dahulu, apakah si kecil betul-betul sudah merasa lapar, apakah jarak pemberian susu dengan makan terlalu dekat. Sebaiknya hindari juga memberikan camilan atau makanan lain yang mengenyangkan sebelum waktu makan.
Jangan bosan melakukan pencarian untuk mengetahui makanan yang disukainya dengan membuat variasi jenis, bentuk, dan rasa makanan. Untuk mencukupi kebutuhan karbohidrat, ada baiknya tidak hanya terpatok pada “nasi”. Boleh saja memberikan variasi dengan menggantinya dengan jagung, kentang, macaroni, dsb.
Cobalah untuk mencicipi makanan yang akan diberikan, … jika kita saja tidak menyukai rasanya, tak aneh bukan jika si kecil pun menolaknya?
Di usianya saat ini, pada umumnya anak mulai tertarik meniru kegiatan yang dilakukan orang dewasa. Nah, tidak ada salahnya memberikan kesempatan untuk makan sendiri. Namun jangan lupa memperhatikan kemampuan mengunyah dan menelannya. Potong kecil-kecil lauk pauknya agar mudah masuk ke mulut mungilnya sehingga ia tak kesulitan mengunyah dan menelan makanannya.
Ibu dapat berkonsultasi ke dokter untuk mendapat masukan-masukan lain terutama untuk mengetahui besarnya asupan gizi dan vitamin yang paling tepat untuk anak.
Yang juga tak kalah penting adalah bagaimana kita senantiasa berupaya untuk sabar, kreatif, dan terampil dalam menghadapi ulah si kecil saat menjalani rutinitas makan setiap harinya. Semoga Ibu segera berhasil mengatasi permasalahan.

Irma Sukma Dewi, Psi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: