Teknik Meredakan Emosi Anak

Jka emosinya sedang bergejolak,seorang anak tidak dapat menerima nasehat, hiburan, atau kritik dari siapa pun juga. Ia hanya ingin kita memahami situasinya. Ia hanya menghendaki kita mengerti apa yang sedang mendidih dalam hatinya.
(Dr. Haim G. Ginott, Memesrakan hubungan Anda dengan Anak Anda, P.T. Gramedia, 1977)

Ulasan

Sangat tidak mudah memang, menunggu emosi anak mereda karena kita, orang dewasa, terkadang ikut terseret arus emosi si anak. Sementara di sini lain seolah-olah kita sudah mengetahui bagaimana penyelesaian masalah yang terbaik bagi si anak.

Anak yang melonjak-lonjak gembira akan membuat kita senang. Padahal kita tahu bahwa jika tidak hati-hati, lonjakan-lonjakan tersebut akan membahayakan si anak yang sedang berdiri di dekat vas bunga.

Anak yang menangis menyayat hati akan membuat kita seperti teriris-iris. Padahal kita tahu bahwa tangisan tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh si anak.

Anak yang berteriak-teriak marah akan membuat kita pun terpancing untuk menggunakan nada yang lebih tinggi agar si anak mendengar. Padahal kita tahu persis bahwa teriakan-teriakan tersebut justru membuat suasana menjadi tambah keruh.

Sangat tidak mudah, memang, untuk menahan emosi yang sedang bergejolak.

Namun, jika kita, orang yang dikatakan telah dewasa, berhasil menahan diri dan menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi, masalah apa pun yang dihadapi si anak, kita akan tetap menyayangi dan menerima mereka apa adanya, maka emosi anak akan mereda dengan sendirinya.

Bagaimana caranya? Menahan diri dan menunjukkan cinta yang tak bersyarat itu? Mudah saja, jika kita sudah terbiasa. Kami akan berbagi mengenai proses yang dilakukan oleh para pembimbing di Bintang Bangsaku jika menghadapi anak yang sedang dilanda turbulensi emosi, terutama marah maupun sedih.

Pertama, ambil posisi di mana mata kita sejajar dengan mata mereka. Lebih baik jika kita duduk, bukannya mengangkat si anak. Dengan duduk, kita masih memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya. Sementara dengan mengangkatnya, kita “memenjarakan” si anak.

Ke dua, ketika anak masih meluap-luap emosinya, pandang dengan lembut sembari menarik nafas untuk menenangkan diri sendiri. Usahakan agar terjadi kontak mata, tanpa memaksa si anak untuk memandang kita. Katakan kalimat berikut berulangkali dengan lembut “Kakak tahu, kamu marah/sedih, karena …………………… Kakak juga akan marah/sedih kalau mengalami hal yang sama”

Katakan kalimat yang sama terus menerus. Sesekali tambahkan “Kakak sedih kalau lihat kamu marah/sedih”

Jika anak marah/sedih karena menuntut sesuatu, tambahkan “Kakak tahu kamu marah/sedih karena tidak dapat ……………………. Tetapi, walaupun kamu marah/sedih, kamu tidak akan dapat ………………………. karena menurut kakak jika …………………… (sebutkan alasan mengapa si anak tidak memperoleh keinginannya)

Hitung dalam hati, 1 sampai dengan 10, lalu katakan “Kalau kamu sudah tidak marah/sedih, kita akan bicara. Kita cari penyelesaiannya. Kita tidak bisa bicara kalau kamu masih marah/sedih.”

Hitung kembali dalam hati, setiap di hitungan ke 10, katakan hal yang sama. Jangan lupa untuk selalu melakukan kontak mata.

Jika ia sudah tampak mereda, posisikan tangan seolah-olah meminta si anak mendekat. Sembari berkata “Kakak sedih lihat kamu marah/sedih. Kakak akan tunggu sampai kamu tidak lagi marah/sedih. Kita akan bicara”.

Jika proses di atas dilakukan dengan benar, anak akan mendekat dengan sendirinya dan meminta untuk dipangku. Pada saat inilah kita berdiskusi.

Selama proses peredaan emosi tersebut, kakak pembimbing sama sekali tidak melakukan perlawanan dan menghindar jika digigit/dipukul/dicubit/dijambak/ditendang oleh si anak. Hanya mengatakan “Sakit kalau dipukul/dicubit/dijambak/ditendang”. Jika memang gigitan/pukulan/cubitan/jambakan/tendangan terasa membahayakan, biasanya pembimbing tidak gerakan menghindar, tetapi bertahan.

Selama proses tersebut, pembimbing juga tidak pernah menggunakan intonasi yang tinggi. Justru intonasi yang datar dengan suara yang lirih, seolah-olah hanya dapat didengar oleh 2 orang.

Proses anak meluapkan emosinya sampai reda terkadang menghabiskan waktu yang lama, bisa lebih dari 15 menit. Proses yang sebenarnya melelahkan bagi kedua belah pihak, sehingga terkadang anak tertidur ketika kemarahan atau kesedihannya mereda dan membuat kita lemas.

Proses yang harus ditempuh, jika kita menginginkan yang terbaik untuk anak. Selamat mencoba.

Yanti D.P.

2 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: