Menanamkan Kedisiplinan pada Anak

diskusi

Seringkali disiplin diidentikkan dengan hukuman. Apabila orang tua yang menghukum anak ditanyakan alasannya, maka orang tua cenderung menjawab karena anaknya itu melakukan suatu perilaku yang salah atau tidak semestinya.
(Miranda D. Zarfiel dalam Kapita Selekta Psikologi Perkembangan)

Ulasan

Lebih cepat dan lebih mudah rasanya jika “menyelesaikan” masalah perilaku anak dengan hukuman, minimal menakut-nakutinya dengan suatu konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Bermacam cara yang termasuk dalam kategori hukuman ini. Menegur dengan suara yang tinggi, memukul, mencubit, memasukkan anak ke dalam ruangan gelap, dan terkunci.

Bermacam cara juga yang termasuk dalam kategori “menakut-nakuti”, misalnya dengan mengangkat tangan sambil berkata “Kalau kamu …. maka ayah/ibu akan …”, atau menarik anak yang ingin bermain sesuatu sembari berteriak “Awas … kotor”, atau “Panggilin Polisi lho …”.

Jika diperhatikan, paragraf pertama menggunakan tanda kutip untuk kata “menyelesaikan”. Mengapa? Karena penyelesaian yang diperoleh bersifat temporer, hanya sementara, hanya dalam hitungan minggu, atau hari, atau bahkan jam, perilaku negatif anak akan berulang kembali.

Mengapa? Karena jangankan untuk mengingat perilaku negatif mereka, anak-anak bahkan tidak dapat menerima informasi jika mereka tidak membutuhkannya. Mereka akan menerima informasi yang memang mereka perlukan, misalnya kenapa pintu lemari bisa dibuka dan ditutup, atau kenapa api lilin itu seperti bergoyang-goyang. Anak tidak merasa perlu mendapatkan informasi bahwa bermain pintu ataupun api itu berbahaya.

Ancaman dan hukuman bukanlah sesuatu yang dibutuhkan oleh anak. Kesenangan bermain dan memperoleh pengetahuan dari berbagai macam bentuk permainan itu lah yang dibutuhkan oleh anak.

Sama halnya dengan membereskan mainan, bangun di pagi hari, mandi, makan, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan rutin yang membuat orang tua dapat mengambil kesimpulan bahwa anaknya sulit diatur dan tidak disiplin. Ketika diminta membereskan mainan, anak justru melanjutkan permaianan atau mengambil mainan yang lain. Ketika diminta bangun di pagi hari, akan membuat anak bete sepanjang pagi. Ketika diminta untuk mandi, anak justru asyik bermain dengan peralatan mandinya. Ketika diminta untuk makan, anak justru asyik mengaduk-aduk makanannya atau justru sama sekali tidak mengindahkan panggilan untuk makan.

Semakin orang tua memaksa, justru semakin ramai pergulatan yang terjadi. Semakin tinggi atau keras hukuman orang tua maka akan bertambah tinggi pula tingkat stress di kedua belah pihak, baik orang tua maupun anak.

Salah satu cara yang sebenarnya paling jitu untuk melatih kedisiplinan anak adalah mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak, menjadikannya suatu reward dalam kontrak kerja sama antara orang tua dan anak, serta secara konsisten menegakkan aturan main yang berlaku dalam kontrak tersebut.

Kontrak kerja diberlakukan pada anak? Kesannya memang sulit, padahal sebenarnya sangat mudah asalkan orang tua maupun orang dewasa di sekitar anak tetap menjaga kekonsistenannya. Orang tua dan anak tinggal mendiskusikan apa yang sangat diinginkan oleh anak. Jika yang diinginkannya tidak masuk akal, orang tua sebaiknya bernegosiasi sampai mendapatkan suatu bentuk reward yang memang masuk akal. Reward di sini tidak selalu berupa barang (mainan, sepeda, baju, dlsb), tetapi bisa juga kesempatan untuk menonton film, televisi, main ke mall atau tempat rekreasi. Pada tahap ini, anak dikenalkan pada konsep tujuan.

Setelah reward berhasil diputuskan bersama, sekarang giliran orang tua yang menegosiasikan keinginan mereka untuk merubah perilaku anak. Misalnya, anak mau membereskan mainannya sendiri, atau bangun di pagi hari, atau perubahan perilaku yang lainnya. Sebaiknya satu perilaku untuk setiap reward agar anak lebih mudah mengingat syaratnya. Pada tahap ini anak akan mulai mengenal syarat dalam memenuhi keinginannya. Syarat yang akan selalu ditemuinya di seluruh waktu hidupnya kelak. Misalnya, Anda mau membeli baju? Anda harus punya uang.Anda mau uang? Anda harus bekerja.

Jika reward dan target perilaku telah berhasil diputuskan, masih ada beberapa tahap lagi. Pertama, menegosiasikan jangka waktu kontrak, bisa mulai dari 1 hari sampai 3 bulan, tergantung dari tingkat kesulitan perubahan perilaku. Waktu yang terlalu singkat tidak akan merubah perilaku anak secara permanen, namun waktu yang terlalu lama akan membuat kedua belah pihak akan bosan dan kehilangan momen. Jangka waktu yang tepat akan sangat berguna untuk melatih anak dalam menunda keinginan dan melatih orang tua untuk bersabar.

Tahap berikutnya adalah membuat bukti tertulis dari kontrak tersebut. Siapkan saja kertas yang bertuliskan semua tahap di atas (bisa juga dengan gambar jika anak masih belum bisa membaca) dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Jangan lupa untuk menyertakan kolom bukti perilaku, yang nantinya akan berisi simbol keberhasilan setiap perilaku yang sesuai dengan kontrak. Simbol ini dapat berupa stempel atau stiker yang ditempelkan setiap kali anak menunjukkan perilaku yang ditargetkan. Letakkan di tempat yang mudah dilihat oleh semua orang.

Tahap yang berikutnya, yaitu tahap pelaksanaan, adalah tahap yang paling berat. Baik bagi orang tua maupun anak. Berat bagi orang tua karena tidak boleh menghukum atau mengancam, hanya mengingatkan anak atas reward yang diinginkan anak jika kontrak berhasil. Alih-alih mengatakan “Awas … kalau kamu … maka ayah/ibu akan …” maka dengan sistem kontrak orang tua hanya boleh mengatakan “Kamu mau … khan? Masih ingat janjinya? Hayo, kalau kamu mau …. maka kamu harus …”

Berat, karena kadang-kadang anak berubah pikiran mereka mengenai apa yang diinginkan. Berat, karena kadang-kadang benda atau moment yang diinginkan anak sebagai reward tidak mudah diperoleh, sehingga orang tua “terpaksa” harus membelinya terlebih dahulu sebelum kehabisan.

Jangan pernah memberikan reward pada anak sebelum waktunya karena anak tidak akan belajar apa pun. Untuk menghindari hal ini lah maka tahap pertama, yaitu tahap reward, yang paling penting dan harus dipastikan pemerolehannya.

Berat bagi anak karena seringkali perilaku yang ditargetkan adalah perilaku yang tidak mereka sukai atau memang sulit dilakukannya. Untuk mengatasi hal ini lah maka pada tahap ke dua, yaitu tahap syarat, orang tua harus benar-benar memahami kemampuan anak dalam kaitannya dengan perubahan perilaku yang diharapkan. Suasana selama pelaksanaan kontrak pun tetap harus dijaga keasyikan-nya, agar tidak terjebak dalam situasi yang membosankan atau justru situasi yang membuat “panas”.

Tahap terakhir adalah tahap yang paling menyenangkan, di mana perilaku anak berubah dan ia bahagia karena mendapatkan reward. Pujilah keberhasilannya dan diskusikan situasi-situasi sulit yang mungkin pernah terjadi dengan tetap mengingatkan …bahwa si anak akhirnya berhasil. Misalnya dengan mengatakan “Tu … waktu itu kamu marah-marah, terus kamu nangis, terus kamu bilang kalau nggak bisa, nah, ini buktinya kamu dapat hadiahnya. Berarti bisa khan? Anak ibu/ayah khan hebat!”

Yanti D.P.
1 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: