Buku pelajaran dan Sains

“Buku pelajaran yang berkualitas menjadi utama peningkatan mutu pendidikan”, kata Alan Cunningworth, pakar pendidikan Inggris (Kompas, 18 Februari 2008). Ini berarti di era globalisasi ini, buku teks pelajaran masih merupakan sumber belajar dan media yang penting untuk mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran. Hal ini diperkuat dengan pendapat Drs. Agus Lukman Hakim MSc., Kepala Bagian Pengendalian Mutu Buku di Pusat Perbukuan yang menyatakan bahwa buku merupakan alat penyampaian kurikulum kepada siswa (Supendi, 2004).

Dapat disimpulkan bahwa agar kurikulum bisa diaplikasikan kepada siswa, buku ajarnya harus relevan dengan kurikulum. Sulit membayangkan bagaimana proses belajar mengajar bisa berjalan lancar tanda ada buku. Jadi akan seperti apa kalau materi ajar dalam buku tidak sesuai dengan kurikulum?

Berkaitan dengan pembelajaran sains, ada pendapat bahwa model pembelajaran sains berbasis buku teks ini sesuatu yang tidak dapat dihindari karena kita memang melakukan adopsi isi kurikulum dari negara maju untuk dijadikan lebih kontekstual dengan kondisi dan situasi belajar dimana siswa berada (Sumintono, 2007). Sesuai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) tingkat sekolah dasar disebutkan bahwa pada hakikatnya pelajaran sains bukan hanya menguasaan kumpulan pengetahun secara fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan proses penemuan.

Proses pembelajaran sains menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains juga diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan serta sikap ilmiah (BNSP; 2007).

Apakah buku-buku teks pelajaran sains sudah mencerminkan hal-hal tersebut?

Pada kenyatannya, karena keterbatasan kemampuan atau memang tidak bisa mengintegrasikan materi dengan kurikulum, akhirnya berkesan materi pokok itu dangkal dan materi disusun berdasarkan pola pikir penulis, bukan pola pikir anak”, Dr. Felicia N. Utorodewo, M. Hum, dosen Universitas Indonesia.

Hasil penilaian dari guru-guru SD, ahli pembelajaran, dan ahli materi ajar, didapatkan kesimpulan bahwa soal-soal latihan atau evaluasi yang terdapat dalam buku teks pelajaran, selain mengabaikan gradasi kerumitan, juga mengabaikan mana yang berbentuk pemahaman, pengetahuan, analisis, atau sintesis. Belum lagi logika bahasa dan kalimat yang tidak tuntas dan ilustrasi yang tidak relevan dengan wacana atau mutu gambar yang jelek (Supendi, 2004).

Sungguh dibutuhkan buku teks pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran sehingga isi buku dapat dipahami oleh guru maupun siswa. Buku teks pelajaran yang berkualitas rendah jelas tidak akan dapat dijadikan tempat penyimpanan dan menyebarluaskan khasanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi.

Seyogyanya buku juga menerapkan 4 pilar pendidikan dari UNESCO agar anak dapat belajar untuk mendapatkan pengetahuan, belajar untuk menguasai keterampilan, belajar hidup bersama, dan belajar untuk menjadi diri sendiri.

Mari, kita telaah kembali buku-buku pelajaran yang kini beredar dan dijadikan pegangan oleh anak-anak kita di sekolahnya masing-masing.  Apakah Anda dapat menemukan buku yang benar-benar dapat dipercaya?

Sri Bono Widyandani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: