Rekomendasi untuk usia 3 – 4 th (agresif)

Kasus : XYZ, usia 3 tahun 6 bulan, yang dikeluhkan akan perilaku agresif dan keterampilan motorik halusnya.

Rekomendasi

Selama beberapa bulan terakhir XYZ terlihat semakin mampu melakukan tugas-tugas sederhana tanpa bantuan, misalnya saja melepas alas kaki, melepas celana, memmbuka dan menutup tas, dsb.

XYZ relatif menonjol pada kegiatan motorik kasar, terutama yang membutuhkan koordinasi dan kekuatan tangan, sementara koordinasi gerakan tubuh masih membutuhkan pengembangan. XYZ juga masih membutuhkan dukungan untuk meningkatkan keterampilannya dalam melakukan kegiatan motorik halus. Bapak Ibu dapat membantu XYZ melatih kemampuan motoriknya dengan mengajaknya bermain lempar bola bersama, memberikan kesempatan untuk mengurus diri sendiri seperti mengancingkan baju dan menyisir rambut, juga melakukan kegiatan olah raga atau rekreasi seperti berenang.

Secara umum XYZ masih membutuhkan dukungan untuk mengembangkan kemampuannya dalam melakukan identifikasi, klasifikasi, juga seriasi. XYZ juga masih membutuhkan dukungan untuk mengembangkan kemampuannya dalam memahami urutan, konsep, dan symbol khususnya berkaitan dengan angka maupun huruf. Bapak Ibu dapat mengenalkan huruf dan angka kepadanya dengan cara yang menyenangkan dan menarik, misalnya dengan nyanyian, sajak, membaca, tebak-tebakan, dan lain sebagainya.

Terkait dengan perkembangan bahasa, sejauh ini XYZ mampu menyampaikan dan berkomunikasi dengan cukup baik secara verbal. Kendati demikian ia masih membutuhkan latihan dan bimbingan untuk pelafalannya karena masih banyak banyak kata-kata yang diucapkan XYZ masih sulit dipahami karena artikulasi (pengucapannya) masih belum baik. Biasanya kendala ini akan hilang dengan bertambah usia anak atau bila kita melatihnya dengan membiasakan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Harapan kami, XYZ dapat mengoptimalkan perkembangannya karena bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya.

Untuk anak yang sekarang berusia 3 – 4 tahun, perlu dipahami bahwa anak di usia itu ada pada tahap perkembangan pembangkangan (negativisme). Berkembangnya tingkah laku membangkang di usia ini merupakan hal yang wajar dan bagian dari proses perkembangan yang akan dilalui. Anak sedang belajar mengembangkan sikap kemandirian. Sikap ini akan menurun setelah usia empat tahun.

Tampaknya, XYZ mengidolakan tokoh dari jenis tontonan laga. Hal ini terlihat dari seringnya ia bermain peran secara spontan yang menirukan adegan-adegan perkelahian. Hal ini wajar karena jenis film-film laga kepahlawanan (hero) selalu menarik perhatian dan disenangi anak-anak, termasuk balita, sehingga mereka tahan berjam-jam duduk di depan layar kaca. Diduga, selain menghibur, yang terutama bikin “kecanduan” ialah unsur thrill, suasana tegang saat menunggu adegan apa yang bakal terjadi kemudian. Tanpa itu, film cenderung datar dan membosankan.

Dan karena perilaku negativisme itulah mengapa anak kadang tidak mau ketika disuruh untuk dapat belajar dengan tenang dan mengikuti instruksi pembimbing di kelas. Kami menyarankan pembimbing dan orang tua menghadapi hal itu dengan wajar dan sabar. Pahami bahwa ini memang negativisme anak dan rasa egosentris anak masih tinggi. Harap diingat, kendati disebut perilaku negativisme, orang tua hendaknya tidak memandangnya negatif atau buruk.

Untuk mengatasi masalah ini, orang tua dan pembimbing sebaiknya tidak menekankan pengajaran dengan metode yang kaku dan serius. Lakukanlah sambil bermain sehingga anak tak sadar, sebenarnya ia diajak belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan tokoh idola mereka masing-masing. Hanya saja, perilaku “baik” sang idola yang harus ditekankan oleh pembimbing dan orang tua. Menanamkan rasa kepedulian kepada anak-anak adalah cara yang baik untuk menghilangkan masalah perilaku pada anak-anak yang cenderung agresif pada usia dini

Salah satu alternatif pemecahannya adalah dengan berupaya melatih XYZ untuk menunda keinginannya. Pada permulaannya, kita dapat menegosiasikan ”pada hitungan ke berapa” XYZ baru memperoleh keinginannya. Beberapa permainan meja (misalnya ular tangga) juga dapat dilakukan untuk memfasilitasi hal ini. Melalui permainan-permainan tersebut XYZ akan belajar konsep ”menunggu” dan ”bergilir”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: