HATI

Satu-satu aku SAYANG ibu.
Dua-dua aku SAYANG ayah,
Tiga-tiga SAYANG adik kakak
Satu, dua, tiga SAYANG semuanya.

Betapa seringnya kita mendengar lagu ini, bahkan mungkin sebelum anak kita bisa bicara kita sering memperdengarkan lagu ini.

Apa yang sebetulnya ingin kita tanamkan di dalam hati anak-anak kita?

RASA SAYANG di dalam hatinya.

Kepada siapa?
Kepada ibu, ayah, adik, dan kakak.
Kepada anggota keluarga kita.
Bahkan pada tahap berikutnya, pada lingkungan dan masyarakatnya kelak.

Dialog yang seperti di bawah ini, apakah kita pernah mendengarnya?

Ibu : Nina sayang mama?
Nina : Sayang

Ibu : Sayangnya sampai di mana?
Nina : Sampai di hati
More...
“Sayang” sampai di hati. Sayang dirasakan di dalam hati, tidak di kepala, tidak dari pikiran, tetapi terasa getarannya di hati.

Kasih sayang di dalam keluarga, membuat anggota keluarga merasa nyaman di dalamnya.

Kasih yang mengikat akan membuat semua anggota keluarga selalu ‘ingin pulang’ sesudah aktivitas di luar rumah selesai.

“Rumah yang diliputi kasih sayang” (a love-fillet home) merupakan tampat ‘berlabuh’ bagi penghuninya.

Selelah apa pun sesudah beraktivitas di sekolah, seberat apa pun sesudah bekerja di kantor, semuanya akan menjadi lebih ringan dan melegakan bila akan pulang ke “rumah yang diliputi kasih sayang”.

Semua beban yang dipikul bisa diletakkan sejenak atau bahkan menjadi hilang sama sekali.

Mengapa demikian?

Kasih sayang mempunyai ‘daya’

‘Daya’ yang bisa menyembuhkan
‘Daya’ yang melegakan
‘Daya’ yang menguatkan
‘Daya’ yang memampukan
‘Daya’ yang mencerdaskan
‘Daya’ yang menerima
Menerima keberadaan orang lain
Tanpa ada tuntutan
Tanpa ada harapan
Tanpa syarat
Yang ada hanya Cinta

Dengan hati kita HADIR dalam kehidupan anak.
Dengan hati kita ADA dalam kehidupan anak.

Kita hadir dengan hati yang penuh kasih sayang

Dengan hati, kita terima keberadaan, anak kita
Dengan hati, kita menerima PERASAAN anak kita, yang seringkali tak terduga arahnya.

Anak-anak mengungkapkan perasaannya secara spontan. Apa yang dirasakannya, langsung ‘diletupkan’nya. Langsung! Begitu dia merasakannya. Tak ada ‘rem’ baginya. Belum mampu dia menahan ledakan di dadanya.
Begitu dia sedih, langsung air matanya mengalir.
Begitu dia marah, langsung dia berteriak atau memukul.

Apa yang harus kita lakukan bila kita ada di dekatnya?

Untuk mendampingi anak dengan baik, ibu yang lebih dulu membekali diri.

Seperti pemakaian masker oksigen di pesawat, ibu yang membawa anak kecil, harus memakai masker oksigen untuk dirinya dulu, baru memakaikan anaknya.

Apa dasar pemikirannya?
Ibu menolong dirinya dulu, kemudian ibu menolong anaknya.
Ibu sendiri perlu oksigen, kemudian itu memberikan oksigen pada anaknya.

Seorang ibu yang memahami tentang perasaannya sendiri, akan lebih mudah untuk memahami perasaan anaknya.
Seorang ibu yan peka terhadap perasaannya sendiri, akan lebih peka terhadap perasaan anaknya.

Seorang anak yang sedang emosi, akan mengungkapkan perasaannya secara demonstratif.

Apa yang perlu kita pahami sebagai orang tua bila anak sedang mendemonstrasikan ledakan perasaannya?

Kita perlu membantu anak-anak untuk klarifikasi.

Kita perlu membantu anak-anak kita untuk mengenali perasaannya. Bagaimana caranya? Beri nama pada perasaannya.

Seperti :

  • Didi sebel sama semuanya ya?
  • Didi marah sama mama?
  • Rudi kaget liat mobil datangnya ya?
  • Rudi takut ketabrak mobil?

Dialog orangtua dan anak sangat diperlukan.

Dialog dan hati yang mampu menangkap perasaan anak, sehingga anak merasa dimengerti, akan membuat anak merasa diterima perasaannya, dimengerti dan akhirnya anak akan merasa dicintai.

Yanti D.P.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: