Ekspresi Emosi

Ekspresi adalah wujud emosi yang nampak.

Kemampuan mengekspresikan emosi pada manusia adalah kemampuan yang harus dipelajari, oleh karena itu stimulasi emosi yang tepat dan akurat terhadap konteks perlu diajarkan pada anak-anak agar mereka dapat mengekspresikan emosi secara tepat semasa berhubungan dengan dunia sekitarnya.

Adanya pengaruh faktor pematangan dan faktor belajar terhadap perkembangan emosi menyebabkan ekspresi emosi anak kecil seringkali sangat berbeda dari anak yang lebih tua atau orang dewasa.

Sangat tidak logis bila orang dewasa menuntut agar semua anak mempunyai pola emosi yang sama, walaupun memang ada beberapa ciri khas yang hanya dimiliki oleh anak balita :

  1. Bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun serius.
  2. Ekspresi emosi sering tampak meluap-luap.
  3. Ekspresi emosi bersifat sementara, karena ketidakpahaman akan situasi, pengalaman yang terbatas, dan rentang perhatian yang pendek
  4. Unik
  5. Berubah kekuatannya, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat menjadi berkurang, demikian sebaliknya. Hal ini disebabkan adanya perubahan kebutuhan, perkembangan intelektual, perubahan minat, dan pemahaman nilai.
  6. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku, biasanya melalui kegelisahan, lamunan, tangisan, kesulitan bicara, dan tingkah laku gugup (menggigit kuku, mengisap jempol, mengusap-usap telapak tangan, dll)

Cara anak belajar mematangkan keterampilan mengontrol dan mengekspresikan emosinya adalah dengan melakukan :

  1. Trial and error. Anak mencoba-coba ekspresi emosi tertentu yang sekiranya dapat memuaskan dirinya. Cara ini biasanya dilakukan oleh anak yang masih sangat muda, tetapi tidak pernah ditinggal sama sekali, bahkan oleh kita sekali pun.
  2. Meniru. Anak mengamati, bereaksi, dan berekspresi emosi seperti cara orang bereaksi dan berekspresi akan situasi atau benda tertentu.
  3. Mempersamakan Diri. Anak mencoba menempatkan dirinya menjadi “tokoh” yang sedang dikaguminya. Ia akan secara intens mengamati cara tokoh tersebut dan kemudian bereaksi dan berekspresi dengan cara yang sama.
  4. Pematangan diri. Jika dibimbing dengan benar, anak akan mulai belajar menganalisa apa yang dirasakannya dan mencoba melihat kaitannya dengan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: