Dasar-dasar Menjadi Orang Tua Efektif

Pernahkah Anda pergi ke toko buku dan menghitung jumlah buku yang berisi tips dan trik menangani anak? Mulai dari cara penanganan kesehatannya, kedisplinan, perkembangan bahasanya, perilaku negatif, sampai dengan buku-buku mengenai autis, hiperaktif, dan down syndrom?

Ketika melihat adanya sederetan buku tentang anak terpampang di rak pamer tersebut, apakah Anda sempat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana caranya memilih buku yang paling tepat?. Buku mana yang paling banyak informasinya mengenai anak-anak?

Seorang teman mengatakan “Seingat saya, ketika saya masih kecil, ibu saya tidak pernah membaca buku mengenai mengasuh anak. Ia sibuk mencuci, memasak, memandikan anak-anaknya, membersihkan rumah. Hanya di sela-sela “kesibukannya” itu ia sempat membaca. Ia memang pembaca yang fanatik karena hampir semua bacaan, entah itu koran, majalah, cerpen, novel, buku-buku biografi, sampai dengan iklan baris di Pos Kota. Ia dapat mengingat semua yang dibacanya dengan baik. Sampai-sampai saya pernah mengatakan bahwa “Mama itu dari politik sampai harga onderdil tahu”. Tetapi sekali lagi, saya jarang sekali melihat ibu saya membaca buku tentang cara mengasuh anak. Tampaknya ia mengasuh kami seperti nenek mengasuhnya, menggunakan nalurinya.”

Pertanyaan selanjutnya, “Jadi bagaimana, apakah buku-buku itu dibuang saja?”

Tentu saja tidak. Membaca buku itu penting, sama pentingnya dengan bentuk-bentuk pencarian kebenaran yang lain, misalnya berdiskusi, berbicara dengan nara sumber, atau bahkan konseling dengan psikolog. Namun, bagaimanapun cara pencarian tersebut, adanya kebenaran yang hakiki ada di naluri untuk mencintai anak Anda sebagaimana adanya. Karena sebagaimana adanya dia itulah intan yang harus dikenali keindahannya.

Pertanyaan terakhir, “Bagaimana jika sebagaimana adanya itu buruk? Apakah harus saya biarkan?”

Anak dilahirkan dengan kesucian yang murni. Dalam perkembangannya, ia mengadopsi berbagai perilaku. Mungkin saja perilaku itu baik, dan mungkin juga tidak. Hanya saja, sebatas mana dia mengadopsi perilaku tersebut tergantung pada tahapan usianya.

Di awal usianya, mungkin saja dia hanya meniru perilaku di sekelilingnya tanpa memikirkan akibatnya pada diri sendiri maupun orang lain. Pada tahap berikutnya, ia sudah mulai meniru sambil merasakan akibatnya pada diri sendiri. Jika reaksi terhadap dirinya tidak menyenangkan, anak biasanya tidak mengulangi hal yang sama dua kali. Tetapi jika dengan perilaku yang buruk ternyata ia dapat mewujudkan keinginannya, ia tidak akan segan mengulanginya lagi, dan lagi, tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain.

Baru pada tahap perkembangan yang selanjutnya anak akan mulai merasakan akibat perilakunya terhadap dirinya sendiri sambil memikirkan akibatnya pada orang lain. Yang harus diingat adalah anak belum sampai pada tahap merasakan dan memikirkan sebelum berperilaku. Ia baru tahap mencoba, jadi biasanya perasaan dan pemikiran tersebut seiring sejalan dengan perilakunya, seperti kata pepatah “Nasi sudah menjadi bubur”

Orang tua dapat membiarkan dan tidak menganggap serius mengenai “kenegatifan” anak jika memang perilaku masih dapat digolongkan normal untuk usianya.

  • Bayi suka sekali memasukkan berbagai benda ke dalam mulutnya
  • Anak satu tahun seringkali terlibat masalah yang menurut Anda tidak akan terjadi
  • Anak dua tahun selalu berkata “TIDAK” walaupun sebenarnya ia “MAU”
  • Anak tiga tahun selalu membantah dengan argumentasi yang tidak terbantahkan
  • Anak empat tahun seringkali berbual dan berbohong tanpa disadarinya
  • Anak lima tahun suka sekali berganti baju tanpa alasan yang jelas
  • dan seterusnya …

Namun jika perilaku anak tersebut ternyata bermasalah besar bagi keselamatan anak dan orang lain di sekitarnya, maka orang tua harus segera bertindak. Jika perilakunya mengganggu orang tua maka biarkan saja perilakunya.

Putuskan tindakan yang sekiranya benar untuk :

  • Situasi tertentu
  • Pertumbuhkembangan usia anak
  • Perilaku yang diharapkan

Perlu diingat bahwa :

  • Kita tidak dapat memaksanya untuk mempercepat pertumbuhkembangannya
  • Anak akan mengulangi semua perilakunya yang mendapat perhatian.
  • Kita dapat membantu anak untuk bertumbuhkembang dengan menggunakan reaksi-reaksi positif, bukannya negatif.
  • Kita dapat merubah respon terhadap anak dan dapat membuat perubahan lingkungan yang menunjang pertumbuhkembangannya.

Satu Tanggapan

  1. Sis Bonbon..mana yah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: