Segala sesuatu yang baru saja dilakukan adalah awal dari tahap perkembangan yang harus dilalui oleh si anak dengan bimbingan yang didasari cinta tanpa syarat

Seringkali ketika anak baru saja melakukan sesuatu yang berbeda (lihat kenegatifan anak, halaman 2), kita melihatnya sebagai ‘monster cilik’ yang tidak dapat dimengerti datangnya dari mana.

Seringkali kita melihat lingkungan, baik rumah, sekolah, atau media massa sebagai tempat asal monster tersebut.

Ingatkah ketika anak Anda berusia 0 – 1 tahun yang begitu lucunya. Hal yang paling menakutkan pada masa itu “Apakah anakku dapat berjalan tanpa jatuh/”. Begitu mereka menginjak usia 1 tahun dan mulai belajar berjalan dengan seimbang, anak Anda menjadi tidak terkontrol. Berlari kian kemari, memanjat segala sesuatu yang terlihat tinggi. Kekhawatiran kemudian bertambah dengan “Mengapa anakku belum dapat bicara?”

Saat mereka mulai dapat berbicara sepatah dua patah kata, di awal usia 2 tahun, Anda akan merasa lucu mendengar pelafalannya dan struktur kalimatnya yang kacau. Tetapi begitu ia mulai lancar bicara, Anda akan dipusingkan dengan ungkapan “Tidak” dan “Tidak”, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang yang terdekatnya. “Tidak boleh bicara” “Tidak boleh tertawa” “Tidak mau mandi” “Tidak mau makan”

Bagi Anda, hal tersebut sangat memusingkan karena alasan-alasan yang diungkapkannya tidak jelas, tidak masuk akal, dan berakhir dengan ‘amukan’ yang juga tidak jelas alasannya. Namun, saat anak Anda berusia 3 tahun, ia akan memiliki perbendaharaan kata yang semakin banyak. Kata-kata tidak yang tidak beralasan sudah jarang diungkapkan, yang ada adalah “Jika …. maka …. Jadi aku tidak/akan …” Kita sebagai orang tua atau pengasuh akan kesulitan berargumentasi dengannya karena semua alasan yang diungkapkan si anak sepertinya benar.
Saat argumentasi anak sudah dapat ‘dikalahkan’, ia akan mulai menggunakan cara lain. Berbohong dan berbual untuk mendapatkan keinginannya. Setelah itu apa lagi?

Hal yang ingin ditekankan di sini adalah setiap anak berbeda dan masing-masing punya kepribadian yang unik. Hanya saja, secara garis besar, ada benang merah yang menghubungkan seluruh perbedaan itu, yaitu tahap perkembangan. Semakin banyak pemahaman dan pengertian Anda mengenai benang merah tersebut, Anda akan menjadi lebih tenang dalam mendampingi anak dan menjalani kehidupan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: