<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Senang Bisa Jadi Bintang</title>
	<atom:link href="http://bawana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bawana.wordpress.com</link>
	<description>Bersinar Meraih Cita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Oct 2008 06:32:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bawana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Senang Bisa Jadi Bintang</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bawana.wordpress.com/osd.xml" title="Senang Bisa Jadi Bintang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bawana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>bagi waktu buat diri sendiri, anak, dan keluarga</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/10/17/bagi-waktu-buat-diri-sendiri-anak-dan-keluarga/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/10/17/bagi-waktu-buat-diri-sendiri-anak-dan-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 04:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[sebenarnya, yang paling penting itu adalah kesadaran dari kedua orang tua bahwa si anak adalah tanggung jawab dan &#8220;hadiah&#8221; buat kedua belah pihak &#8230; dengan adanya rasa tanggung jawab, maka &#8220;beban&#8221; mengasuh anak akan ditanggung oleh berdua, saling mengisi satu sama lain &#8230; apalagi kalau keduanya bekerja, tidak bisa lagi dikatakan bahwa peran domestik adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=501&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sebenarnya, yang paling penting itu adalah kesadaran dari kedua orang tua bahwa si anak adalah tanggung jawab dan &#8220;hadiah&#8221; buat kedua belah pihak &#8230;</p>
<p>dengan adanya rasa tanggung jawab, maka &#8220;beban&#8221; mengasuh anak akan ditanggung oleh berdua, saling mengisi satu sama lain &#8230; apalagi kalau keduanya bekerja, tidak bisa lagi dikatakan bahwa peran domestik adalah tanggung jawab perempuan (dalam hal ini adalah ibu) karena pada kenyataannya si ibu juga &#8220;harus&#8221; bekerja untuk menjamin terjaganya keamanan finansial keluarga &#8230;</p>
<p>sayangnya, budaya di kita masih saja membebankan tanggung jawab tersebut pada si Ibu sehingga dalam kondisi kepayahan sepulang kerja si Ibu masih harus menyiapkan segala sesuatu untuk suami dan juga merawat anaknya &#8230;</p>
<p>alangkah baiknya jika bisa berbagi &#8230;</p>
<p>itu tadi soal tanggung jawab &#8230; nah tentang &#8220;hadiah&#8221; &#8230;</p>
<p>coba kita bayangkan bahwa suatu hari tiba-tiba kita mendapat hadiah yang terbungkus sangat rapi, kita buka perlahan-lahan bungkusnya, eh ternyata ada bungkus lagi yang berbeda warna, corak, bahkan ada pesan-pesan khusus bagi kita yang tertulis di atas kertas kado di lapisan ke dua tersebut</p>
<p>selanjutnya, perlahan kita buka lagi lapisan kedua &#8230; eh masih ada lapisan lainnya &#8230; yang jauh lebih indah dan mengandung kata-kata yang jauh menyentuh ke hati &#8230;</p>
<p>demikian seterusnya sampai kita menemukan isi sebenarnya dari &#8220;hadiah&#8221; tersebut &#8230;</p>
<p>Nah &#8230; itulah ibaratnya kita dengan anak-anak &#8230; yang notabene adalah &#8220;hadiah&#8221; dari Tuhan &#8230;</p>
<p>setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari adalah saat bagi kita untuk membuka lapisan demi lapisan kertas kado &#8230; untuk mengetahui &#8230; hadiah apa yang kita dapat dari-Nya &#8230;</p>
<p>salam,</p>
<p>Yanti D.P.</p>
<br />Posted in Renungan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/501/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=501&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/10/17/bagi-waktu-buat-diri-sendiri-anak-dan-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/10/14/laskar-pelangi/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/10/14/laskar-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 08:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Ada hal yang menggelitik saya dengan booming Laskar Pelangi, salah satunya adalah komentar teman kuliah saya yang mengatakan &#8220;Bohong kalau Anda tidak punya uang, dan kalau Anda memang serius menjadi guru maka Anda harus menonton Laskar Pelangi, agar diingatkan kembali mengenai kewajiban sebagai guru.&#8221; Hmm &#8230; saya hanya tersenyum simpul ketika teman saya menyampaikan hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=498&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada hal yang menggelitik saya dengan booming Laskar Pelangi, salah satunya adalah komentar teman kuliah saya yang mengatakan &#8220;Bohong kalau Anda tidak punya uang, dan kalau Anda memang serius menjadi guru maka Anda harus menonton Laskar Pelangi, agar diingatkan kembali mengenai kewajiban sebagai guru.&#8221;</p>
<p>Hmm &#8230; saya hanya tersenyum simpul ketika teman saya menyampaikan hal tersebut.  Mungkin pengalaman saya yang sudah melanglang buana sampai di negeri seberang, kebiasaan saya yang membaca berbagai bahan dari internet dengan menggunakan pda phone, atau koleksi buku-buku psikologi berbahasa Inggris yang membuat teman saya berpikir bahwa saya memiliki banyak keuntungan dari sekolah ini.  Segala sesuatu yang sebenarnya merupakan sisa-sisa kejayaan finansial di masa lampau, jauh sebelum saya mendirikan sekolah ini.  Bedanya, saya memang suka membaca dan oprek komputer, jadi barang-barang tersebut selalu terlihat baru dan mengikuti perkembangan jaman.</p>
<p>Sayang sekali, masih saja ada orang yang melihat orang lain hanya dengan penampilan fisik.</p>
<p>Padahal, berbekal pengalaman selama kuliah beberapa belas tahun yang lalulah yang menarik saya untuk mendirikan sekolah ini dengan idealisme tinggi, memajukan pendidikan Indonesia, bukan memperkaya diri pribadi.</p>
<p>Sekolah ini, sudah seperti anak buat saya.  Apapun akan saya lakukan, asal halal lho ya, untuk membuat sekolah ini tetap hidup dan membantu orang tua yang tidak mampu membiayai anaknya sekolah di tempat-tempat bertarif internasional tetapi bertaraf lokal.  Sekolah ini juga membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang juga sangat memerlukan perhatian dan pendidikan dari hati yang tulus.</p>
<p>Kondisi pribadi saya jika dikaitkan dengan kenekadan saya mempertahankan sekolah yang membuat salah satu teman berkomentar &#8220;Kenapa nggak ditutup saja sekolahannya daripada Depe (nama panggilan saya) harus kehilangan satu demi satu asetnya.&#8221;</p>
<p>Komentar ini saya jawab &#8230; &#8220;Selama saya ikhlas, saya pasti akan dapat gantinya, bahkan lebih baik dari yang sudah saya lepaskan.  Sekolahan pun tidak ingin mengambil profit dari masyarakat yang diladeni, hanya mengambil yang selayaknya saja untuk keberlangsungan program dan kesejahteraan karyawan.  Saya dan teman-teman di sekolahan punya keyakinan yang sama, <em>Gusti Allah ora sare</em> &#8230;&#8221;</p>
<p>Ah &#8230; doakan saja sekolah ini akan terus ada dan berkembang tanpa melupakan idealisme kami.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Yanti D.P.</p>
<br />Posted in Serba-serbi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/498/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=498&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/10/14/laskar-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Online Learning</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/10/14/online-learning/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/10/14/online-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 07:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah tulisan saya berdasarkan pengalaman pribadi dalam belajar melalui fasilitas internet, pengalaman sebagai pemimpin di Bintang Bangsaku dan SKB Penjernihan, dan catatan kuliah saya di Pascasarjana UNJ Semoga bermanfaat Online Learning, Individu dan Organisasi Secara mendasar, belajar adalah suatu proses yang membuat seseorang memperoleh keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang dipengaruhi oleh interaksinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=496&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah tulisan saya berdasarkan pengalaman pribadi dalam belajar melalui fasilitas internet, pengalaman sebagai pemimpin di Bintang Bangsaku dan SKB Penjernihan, dan catatan kuliah saya di Pascasarjana UNJ</p>
<p>Semoga bermanfaat</p>
<p><strong>Online Learning, Individu dan Organisasi</p>
<p></strong>Secara mendasar, belajar adalah suatu proses yang membuat seseorang memperoleh keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang dipengaruhi oleh interaksinya dalam suatu rangkaian peristiwa maupun dengan orang lain.  Berbagai ahli telah mengemukakan pendapatnya mengenai apa dan bagaimana belajar tersebut, mulai dari Skinner dengan teori belajar perilaku (behaviouristik) sampai dengan teori konstruktivistik yang sekarang banyak dianut oleh para pemangku kebijakan pendidikan, salah satunya dengan menggunakan pendekatan problem based learning.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan proses belajar formal di sekolah, kursus, maupun di lembaga-lembaga pelatihan karyawan, terdapat perbedaan yang relatif signifikan antara proses belajar secara tradisional dengan proses belajar secara berjaringan walaupun sama-sama menggunakan prinsip belajar siswa aktif.  </p>
<p>Saat proses belajar secara formal tradional di lembaga pendidikan masih mengedepankan adanya proses tatap muka antara pembelajar dan guru (traditional classroom learning), maka sistem pembelajaran yang baru, baik yang jarak jauh (traditional distance learning) maupun menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (traditional e-learning) tidak lagi mengedepankan proses tatap muka tersebut. Sistem belajar secara berjaringan yang bersifat tertutup bahkan sudah mengedepankan kemandirian masing-masing pembelajar untuk mencari sendiri pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan-kemampuan yang baru walaupun masih berpanduan pada kurikulum yang berlaku tanpa adanya ketergantungan pada sosok nara sumber.</p>
<p>Secara khusus, jika diamati dari sisi pembelajar, sebenarnya ada 2 (dua) model pembelajar secara berjaringan, yaitu yang tertutup dan yang terbuka.  Pada model pembelajar yang tertutup, dapat dikatakan bahwa materi, aktivitas dan waktu belajar serta tingkat kompetensi yang diperoleh masih sangat tergantung pada paket kurikulum yang telah baku, walaupun proses pencarian informasi untuk masing-masing materi tersebut tidak tergantung pada proses tatap muda dengan seseorang  yang berperan sebagai nara sumber.  Model pembelajar seperti ini banyak ditemukan pada individu-individu yang mengikuti pendidikan formal jarak jauh  (istilah yang secara resmi ada dalam UU Sisdiknas) baik yang masih secara manual (paper based) maupun yang secara elektronik dengan memanfaatkan TIK.  </p>
<p>Sementara itu, pada model pembelajar terbuka, dapat dikatakan bahwa materi, aktivitas, dan waktu belajar maupun tingkat kompetensi yang akan diraih sangat tergantung pada minat, motivasi, kompetensi awal dari masing-masing pembelajar itu sendiri.  Individu-individu seperti ini melakukan proses pilah pilih materi secara mandiri dan sebagian besar menggunakan metode problem base learning, di mana kasus-kasus atau masalah-masalah yang menarik perhatiannya dikaji secara mendalam dengan menggunakan berbagai informasi yang diperolehnya dengan memanfaatkan teknologi jaringan, terutama internet   Waktu belajar maupun tingkat kesulitan materi juga ditentukan sendiri oleh masing-masing pembelajar, tergantung pada kesempatan dan kebutuhannya.</p>
<p>Karakteristik proses belajar seorang pembelajar yang memanfaatkan teknologi jaringan, baik pada model pembelajar tertutup maupun terbuka, sangat terkait dengan wadah (organisasi) tempat ia berada, entah itu di sekolah, di lingkungan kerja, maupun di rumah.  Oleh karena itu, wajar jika materi belajar, aktivitas yang dilakukan, waktu belajar, dan kompetensi yang diraih berbeda-beda, tergantung dari tujuan belajar masing-masing individu pembelajar tersebut.<br />
Namun, jika dikaitkan dengan proses belajar yang memanfaatkan teknologi jaringan, maka ada persamaan karakteristik yang sangat menonjol yaitu kemandirian dan motivasi yang kuat untuk memperoleh sutau keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang “mungkin” lebih baik dari kondisi awal dari masing-masing pembelajar dengan cara mencari informasi, berlatih memecahkan masalah, berkolaborasi dengan suatu komunitas, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam membentangkan cakrawala secara global.</p>
<p>Sayangnya, dalam lingkup sebuah organisasi, seorang pembelajar sendirian saja “mungkin” tidak akan berpengaruh banyak pada kehidupan organisasi itu sendiri.  Namun, jika mengingat bahwa adanya perubahan perilaku yang diakibatkan oleh interaksi antara individu dan organisasi, baik secara terpisah maupun bersama-sama dengan lingkungannya, maka bisa dikatakan bahwa  dengan adanya individu-individu pembelajar dalam sebuah organisasi maka organisasi itupun berkesempatan untuk belajar menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>Hal yang perlu diingat dalam kaitannya dengan proses belajar sebuah organisasi adalah tanpa adanya visi, nilai, dan tujuan yang diresapi bersama untuk menghadapi tantangan, baik yang internal maupun yang eksternal, maka keberadaan individu-individu pembelajar (bahkan yang bermodel belajar melalui jaringan sekali pun) di dalam organisasi tersebut tidaklah akan berarti bagi kemajuan organisasi maupun individu tersebut.  Tantangan internal yang dimaksud di sini adalah individu (hal-hal yang berkaitan dengan perannya sebagai sumber daya manusia), produk dan jasa yang menjadi inti dari bisnis organisasi tersebut, kondisi keuangan, fasilitas, dan pemasaran produk maupun jasanya.  Sementara tantangan eksternal dapat berupa kondisi ekonomi makro, lingkungan teknologi, kebijakan politis, budaya lokal maupun global.</p>
<p>Selain adanya visi yang jelas, nilai-nilai yang diresapi bersama, dan tujuan yang pasti, suatu dukungan dari manajemen puncak juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan organisasi dan individu-individu di dalamnya.  Karakteristik kemandirian yang menonjol dari seorang pembelajar melalui jaringan tidak akan banyak berguna jika manajemen puncak gagal menjadi model pembelajar yang dapat menunjukkan nilai, harapan, dan perilakunya secara tepat.  Motivasi untuk belajar menjadi lebih mampu, terampil, dan berpengetahuan pun akan gugur dengan sendirinya jika pihak manajemen tidak mendukung karyawannya untuk mengambil keputusan secara bijak dengan mempertimbangkan berbagai pengetahuan yang diperolehnya secara mandiri.  </p>
<p>Yanti D.P.</p>
<br />Posted in Teori Pendidikan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/496/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=496&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/10/14/online-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagikan pengalaman Anda sebagai orang tua</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/10/10/bagikan-pengalaman-anda-sebagai-orang-tua/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/10/10/bagikan-pengalaman-anda-sebagai-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 08:21:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Dengan membagi pengalaman dan mengkomunikasikan pengalaman Anda sebagai orang tua kepada orang lain, setidaknya sebagai kontribusi untuk membuat orang lain melakukan hal yang sama atau melakukan yang lebih baik lagi terhadap anaknya. Dan jika kamu mempunyai suatu masalah, mungkin teman-teman sharingmu itu bisa membantumu. Dimana kita bisa sharing? Joinlah di forum internasional seperti : http://sitetalkzone.com [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=492&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan membagi pengalaman dan mengkomunikasikan pengalaman Anda sebagai orang tua kepada orang lain, setidaknya sebagai kontribusi untuk membuat orang lain melakukan hal yang sama atau melakukan yang lebih baik lagi terhadap anaknya. Dan jika kamu mempunyai suatu masalah, mungkin teman-teman sharingmu itu bisa membantumu. Dimana kita bisa sharing? Joinlah di forum internasional seperti : <a href="http://sitetalkzone.com">http://sitetalkzone.com</a> atau disingkat jadi <a href="http://sitetalkzone.com">STZ</a>.<br />
Mengapa forum internasional? Anda bisa belajar dari cara orang luar negeri mengajari anak mereka. Tinggal Anda putuskan sendiri mana yang bisa diterapkan dalam negeri dan mana yang tidak. Dan kalau Anda mengetahui nany911 itu kan cara mengajari anak yang baik ala nany luar negeri, siapa tahu di forum ini juga ada nany911 nya hahaha.<br />
Lalu mengapa harus <a href="http://sitetalkzone.com">STZ</a>? Kan ini forum tentang webmaster? Oh tidak hanya itu, Anda bisa mendiskusikan topik tentang parental ini di general talk area. Lalu saya menemukan bahwa teman-teman disini hangat dan staffnya baik, namanya swastik <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .<br />
Selain itu, selagi sharing dan menunggu jawaban, Anda bisa ikutan sebuah kontes yang sekarang ini lagi berjalan. Di mana deadlinenya adalah 28 oktber 2008 dan hadiahnya adalah $250. Menarik kan? Tunggu apa lagi? Daftar, sharing pengalaman sebagai orang tua, dan selagi itu ikutlah kontes.</p>
<br />Posted in Serba-serbi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/492/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=492&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/10/10/bagikan-pengalaman-anda-sebagai-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RUU Sisdiknas &#8220;Versus&#8221; Standar HAM</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/ruu-sisdiknas-versus-standar-ham/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/ruu-sisdiknas-versus-standar-ham/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:36:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[RUU Sisdiknas &#8220;Versus&#8221; Standar HAM Oleh Mohammad Farid SETELAH mendapat kritik dari berbagai kalangan, Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasionalmengalami beberapa perubahan terutama menyangkut ketentuan pendidikan agama. Meski demikian, beberapa masalah terutama yang berhubungan dengan kesesuaian RUU atas standar-standar hak asasi manusia belum ditangani memadai. Tulisan ini mengulas tingkat keselarasan RUU atas standar HAM yang diakui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=490&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-weight:bold;font-family:times new roman,new york,times,serif;text-align:center;"><span style="font-size:large;"><em>RUU Sisdiknas &#8220;Versus&#8221; Standar HAM </em></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;text-align:center;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;text-align:center;"><span style="font-size:medium;">Oleh Mohammad Farid</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">SETELAH mendapat kritik dari berbagai kalangan, Rancangan          Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasionalmengalami beberapa perubahan          terutama menyangkut ketentuan pendidikan agama. Meski demikian, beberapa          masalah terutama yang berhubungan dengan kesesuaian RUU atas          standar-standar hak asasi manusia belum ditangani memadai. Tulisan ini          mengulas tingkat keselarasan RUU atas standar HAM yang diakui secara          universal, terutama hak atas pendidikan.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Rujukan utama ulasan ini berdasar dua fakta HAM paling relevan:          International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights atau          Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya–KIHESB (belum          diratifikasi oleh Indonesia), serta Convention on the Righst of the          Child atau Konvensi Hak Anak–KHA (sudah diratifikasi melalui Keppres No          36/1990). Sebagai tambahan, General Comment 13 (1999) dari Komite          Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya menyangkut ketentuan Pasal 13 KIHESB          tentang hak atas pendidikan juga dijadikan dasar rujukan mengingat          Komite berwenang memberi interpretasi otoritatif atas          ketentuan-ketentuan Kovenan.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Khusus menyangkut ketentuan pendidikan agama dan pengakuan resmi          negara atas agama (atau agama-agama) , ulasan ini mau tidak mau          bersinggungan dengan hak dan kebebasan sipil.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Pendidikan-kebebasa n beragama</strong></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Pendidikan agama menjadi salah satu isu dalam hak atas          pendidikan. KIHESB merumuskan (Pasal 13 Ayat 3), &#8220;Negara-negara peserta          berupaya menghormati kebebasan orangtua (atau wali…) dan menjamin          pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka sesuai keyakinan          mereka&#8221;. Dengan demikian, ketentuan RUU (Pasal 13 Ayat 1 huruf a) yang          mengakui hak peserta didik untuk &#8220;mendapatkan pendidikan agama sesuai          dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama&#8221;          dapat dikatakan sebagai upaya negara menghormati dan menjamin hak para          murid sesuai HAM internasional.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Meski demikian, perlu disadari, KIHESB tidak menentukan bahwa          yang mengajarkan pendidikan agama harus yang beragama sama dengan (para)          murid. Ketentuan bahwa pengajar harus seagama dengan yang diajar,          kiranya dilatarbelakangi <span style="font-weight:bold;">corak          pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia yang menekankan pada          kepatuhan menjalankan ibadah agama, tidak mengajarkan agama sebagai          suatu ilmu pengetahuan.</span> <span style="color:#bf005f;">Praktik pendidikan agama seperti ini          kiranya akan senantiasa menimbulkan <span style="font-weight:bold;">ketegangan</span> yang entah kapan          kesudahannya.</span></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Praktik pendidikan agama demikian, jika dikaitkan ketentuan Pasal          38 Ayat 1 huruf a dari RUU yang menjadikan pendidikan agama sebagai          kurikulum wajib di tingkat pendidikan dasar dan menengah, menjadikan RUU          berpotensi melanggar HAM karena-seperti diketahui umum-kebebasan          beragama seperti dirumuskan dalam Kovenan Internasional Hak Sipil dan          Politik harus diartikan sebagai meliputi kebebasan untuk tidak beragama.          Dengan demikian, memaksa peserta didik memilih untuk tidak (atau belum)          beragama untuk menjalankan ibadah agama dalam praktik pendidikan agama          di sekolah-sekolah akan menjadi suatu bentuk pelanggaran HAM.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Sebenarnya jika pendidikan agama diajarkan lebih sebagai          pengetahuan, sebagaimana saran Komite Hak-hak          Ekonomi-Sosial- Budaya, &#8220;…mengajarkan pelajaran seperti sejarah umum          agama-agama dan etika… secara obyektif dan tidak bias…&#8221; (General Comment          13, paragraf 28), maka ketegangan kiranya akan bisa bisa          dinetralisir.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Pendidikan agama sebagai pengetahuan sebagaimana saran Komite          itu, misalnya, dengan mengintroduksi suatu mata pelajaran &#8220;Agama-agama          Besar di Dunia&#8221;, pengajarannya tidak perlu dilakukan oleh guru yang          seagama dengan agama peserta didik. Selain itu, ia tidak melanggar          HAM-nya peserta didik yang memilih untuk tidak (atau belum) beragama          karena toh tidak memaksa murid untuk menjalankan ibadah agama yang tidak          dipeluknya.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Pengakuan resmi negara</strong></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Berkait isu pendidikan agama dalam RUU Sisdiknas adalah ketentuan          tentang pengakuan negara yang dibatasi hanya pada beberapa agama (Pasal          31 Ayat 1 berikut penjelasannya) . Ketentuan ini, selain dalam          dirinya merupakan pelanggaran HAM (sipil-politik) , juga dapat          merembet pada pelanggaran hak atas pendidikan          (ekonomi-sosial- budaya) karena dengan mudah bisa dipakai sebagai          dalih untuk membatasi mana agama yang boleh dan tidak boleh          diajarkan.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Komite Hak-hak Ekonomi-Sosial- Budaya dalam General Comment          13 (paragraf 28) berpandangan, pendidikan umum yg mengajarkan agama atau          keyakinan tertentu saja bertentangan dengan ketentuan KIHESB Pasal 13(3)          kecuali dibuat aturan bagi pengecualian atau alternatif secara          nondiskriminatif yang bisa mengakomodasi harapan orangtua atau wali          murid.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Ketentuan pembatasan agama resmi seperti itu merupakan langkah          mundur, mengingat di Indonesia belum pernah ada pembatasan pengakuan          seperti itu. Yang pernah ada ialah pembatasan menjalankan ibadah agama          minoritas di tempat umum. Itu pun dilakukan dengan keppres dan sudah          dicabut dengan keppres pula.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>RUU Sisdiknas vs standar HAM</strong></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Selain masalah yang masih tersisa di wilayah pendidikan agama          (ditambah pengakuan resmi negara atas agama), RUU Sisdiknas juga          mempunyai banyak masalah mengenai kompatibilitasnya dengan standar          KIHESB dan KHA menyangkut hak atas pendidikan. Mengenai tujuan          pendidikan misalnya, beberapa standar universal-seperti pendidikan akan          diarahkan pada pengembangan rasa hormat pada HAM dan kebebasan dasar          serta prinsip-prinsip yang terkandung dalam Piagam PBB; rasa hormat pada          orangtua, identitas budaya, bahasa, dan nilai-nilai anak; rasa hormat          pada lingkungan alam; dan penyiapan anak untuk menjadi anggota          masyarakat bebas yang bertanggung jawab dalam saling pengertian,          perdamaian, toleransi, kesetaraan antarjenis kelamin, dan persahabatan          di antara semua kelompok rakyat, etnik, bangsa, dan agama, serta          orang-orang dari kelompok masyarakat adat-tidak dijamin RUU          ini.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Standar universal penting lainnya, menyangkut pendidikan dasar          wajib dan gratis disikapi secara mendua oleh RUU. Sementara beberapa          ketentuan (Pasal 7[1]; 12[2]; 35[2]) menjamin pendidikan dasar wajib dan          gratis, ketentuan-ketentuan lain (misalnya Pasal 13[2.b]) mewajibkan          peserta didik ikut menanggung biaya penyelenggaraan          pendidikan.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Sifat mendua RUU juga muncul sehubungan prinsip nondiskriminasi.          Meski RUU secara eksplisit menegaskan prinsip ini (Pasal 5 Ayat 1),          namun dalam ketentuan-ketentuan operasionalnya, RUU ini hanya mengakui          prinsip nondiskriminasi bagi warga negara (Pasal 6[1]). Sementara bagi          warga negara asing (WNA), meski hak mereka atas pendidikan dijamin,          namun pemenuhannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah          (Pasal 13[4]). Ini menyisakan persoalan tentang bagaimana menjamin agar          PP kelak tidak diskriminatif terhadap hak pendidikan WNA. Isu krusial          lain dalam hal ini ialah mengenai anak-anak yang tidak          berkewarganegaraan atau yang belum jelas status kewarganegaraannya yang          berdomisili di wilayah Indonesia. Apakah hak mereka atas pendidikan          harus diingkari karena ketiadaan status kewarganegaraan?</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Standar penting lain yang ada dalam KHA yang tidak dijamin RUU          ialah berkenaan penegakan disiplin di sekolah. KHA (Pasal 28 Ayat 2)          menetapkan negara menjamin agar disiplin di sekolah diselenggarakan          sesuai martabat kemanusiaan anak. Komite Hak Anak PBB merekomendasikan          penghapusan penghukuman fisik (corporal punishment) sehubungan standar          ini. Meski demikian, dan walau di Indonesia telah terjadi beberapa kasus          penghukuman fisik yang membawa akibat fatal pada murid, RUU bahkan          hingga ke ketentuan pidananya sama sekali tidak menjamin perlindungan          peserta didik dari penghukuman fisik.</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Singkatnya, RUU Sisdiknas masih menyisakan aneka masalah termasuk          yang menyangkut tingkat kompatibilitasnya atas standar-standar HAM. Lalu          mengapa tergesa-gesa untuk mengesahkannya?</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;">Mohammad Farid <em>Aktivis Hak Anak, Anggota Komnas          HAM</em></span></p>
<p style="font-family:times new roman,new york,times,serif;"><span style="font-size:medium;"><em><br />
</em></span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Sumber          : <a rel="nofollow" href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0305/24/opini/318139.htm" target="_blank">http://www2. kompas.com/ kompas-cetak/ 0305/24/opini/ 318139.htm</a></span></p>
<br />Posted in Serba-serbi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=490&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/ruu-sisdiknas-versus-standar-ham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WORKSHOP” INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI ”( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI KOSTIK,GRAFIS &amp; WARTEGG ) &amp; PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/workshop%e2%80%9d-integrasi-alat-tes-psikologi-%e2%80%9d-tes-ist-paulieppspapi-kostikgrafis-wartegg-penulisan-laporan-psikologi/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/workshop%e2%80%9d-integrasi-alat-tes-psikologi-%e2%80%9d-tes-ist-paulieppspapi-kostikgrafis-wartegg-penulisan-laporan-psikologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Anda ingin terampil dalam menggunakan alat tes , menggabungkan berbagai alat tes menjadi satu profil keperibadian dan Membuat laporan Psikologinya WORKSHOP” INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI ”( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI KOSTIK,GRAFIS &#38; WARTEGG ) &#38; PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI Keterampilan menggabungkan battery tes ( Integrasi Alat Tes ) merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap calon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=488&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda ingin terampil dalam menggunakan alat tes , menggabungkan berbagai alat tes menjadi satu profil keperibadian dan Membuat laporan Psikologinya</p>
<div>
<strong><span style="font-size:130%;color:#000099;">WORKSHOP” INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI ”( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI KOSTIK,GRAFIS &amp; WARTEGG ) &amp; PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI</span></strong></div>
<div>
Keterampilan menggabungkan battery tes ( Integrasi Alat Tes ) merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap calon Psikolog maupun para Psikolog yang saat ini berkecimpung dalam dunia kerja ( HRD ),maupun pendidikan .Bagaimana kita dapat mengetahui tehnik mengintegrasikan beberapa instrumen Psikologi secara benar sehingga dapat mencerminkan profil keperibadian subjek yang di tes. Setelah itu, hasil dari evaluasi psikologi dapat kita tuangkan dalam bentuk laporan Psikologi yang benar, mudah dipahami dan dimengerti oleh klien / user. Serangkaian ketrampilan tersebut baik integrasi maupun penyajian laporan merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh seorang Psikolog maupun calon Psikolog.</div>
<div>
<strong><span style="color:#000099;">Dengan Nara Sumber <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> R. ELMIRA N. SUMINTARDJA<br />
( Psikolog, Staf pengajar Psikodiagnostik di Fak.Psikologi diBeberapa <span class="yshortcuts" style="border-bottom:medium none;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Perguruan Tinggi Negeri</span> dan Swasta )</span></strong></div>
<p><span style="color:#000099;"></p>
<div>
<strong><span style="color:#000099;">Investasi Sebelum Tanggal 20 Oktober 2008<br />
</span><span style="color:#ff0000;">( Bonus Buku ” Psychological Testing And Assessment + DVD <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">The Doodle Test</span> ” )</span><br />
</strong></div>
<div><strong><span style="font-size:130%;"><br />
PLUS BONUS</p>
<p></span></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<div><strong><span style="color:#000099;">Investasi Sebelum Tanggal 15 Oktober 2008</span></strong></div>
<div><strong><span style="color:#009900;">GRATIS INSTALL SOFTWARE PROGRAM 8 ALAT TES</span> <span style="color:#009900;">DI TEMPAT PELATIHAN</span></strong></div>
<div><strong><span style="color:#000066;">(IST,MBTI,PAPI KOSTIK,PAULI, EPPS,APM, RPMA,16 PF)</span></strong></div>
<div><strong><span style="color:#000066;">Syarat : Peserta Membawa Laptop Untuk Diinstalkan</span></strong></div>
<div><strong><span style="color:#000066;">Software Program Hanya Dapat diinstall Satu Laptop /orang</span></strong></div>
<div><strong><span style="color:#000066;">Software Hanya dapat Diinstallkan di Tempat Pelatihan</p>
<p></span></strong></div>
<div></div>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<div><strong><span style="font-size:130%;">DoorPrize !!! Software MBTI &amp; DISC Versi BHS Indonesia</span></strong></div>
<div>
1.Mahasiswa  S2 Profesi Psikologi / Psikolog Anggota HIMPSI Rp. 1.500.000<br />
2.Psikolog Non HIMPSI Rp. 1.750.000</div>
<div>
<strong>Setelah mengikuti Workshop ini peserta akan :<br />
</strong>1 Mahir melakukan integrasi alat tes Psikologi<br />
2 Dapat menggunakan instrumen secara benar dan tepat<br />
3 Mampu membuat skoring dan interpretasi dengan benar<br />
4 Mampu menganalisa kasus-kasus yang ada</div>
<div>
<strong>Peserta Memperoleh :<br />
</strong>1. Sertifikat yang dilegalisasi oleh HIMPSI JAYA<br />
2. Snack dan Lunch<br />
3. Workshop Kit</div>
<div>
Tanggal &amp; Tempat Pelaksanaan 25 &amp; 26 Oktober 2008</div>
<div>Peserta Terbatas Hanya 25 Orang<br />
Pukul 09.00 WIB – selesai Hotel Sofyan Jl.Cikini Raya No. 79 <span class="yshortcuts">Jakarta</span> 10330 &#8211; Indonesia</div>
<div></div>
<div>Pembayaran Transfer Via BCA a/n:</div>
<div><strong>ANDRIAN YANUARNo. Rek : <span class="yshortcuts">2741385289</span></strong></div>
<div>( BCA KCP, Pondok Bambu )</div>
<div>
More Info :Icha : 0819 3260 5311 / 92167166Adhe : 0817 1440631</div>
<div>
Bagi peserta yang anggota HIMPSI, harap melampirkan copy kartu keanggotaannya pada saat registrasi ulang. Jika pada saat registrasi, peserta tidak dapat menunjukkan kartu anggotanya, maka <strong>kami anggap peserta adalah psikolog yang non HIMPSI</strong> dengan biaya registrasi Rp.. 1.750.000<br />
Peserta yang sudah melakukan pembayaran, harap segera konfirmasi ke Panitia dengan mengirimkan bukti pembayarannya via Fax ke ( 021 ) 70318127</div>
<p></span></p>
<br />Posted in Serba-serbi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/488/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=488&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/workshop%e2%80%9d-integrasi-alat-tes-psikologi-%e2%80%9d-tes-ist-paulieppspapi-kostikgrafis-wartegg-penulisan-laporan-psikologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PELATIHAN”TES PAPI KOSTICK”</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/pelatihan%e2%80%9dtes-papi-kostick%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/pelatihan%e2%80%9dtes-papi-kostick%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=486</guid>
		<description><![CDATA[Tes Papi Kostick saat ini mulai sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan / organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Bagaimana konsep serta administrasi dari tes ini ? Bagaimana scoring dan interpretasinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=486&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tes Papi Kostick saat ini mulai sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan / organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Bagaimana konsep serta administrasi dari tes ini ? Bagaimana scoring dan interpretasinya agar dapat menggambarkan individu secara lengkap untuk setting dunia kerja? Ingin tahu lebih banyak tentang Tes ini? Temukan jawabannya dalam acara :</p>
<div><strong><span style="font-size:180%;color:#000099;">PELATIHAN”TES PAPI KOSTICK”</span></strong></div>
<div>Dengan Nara Sumber <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> rs. Widura IM, MSi</div>
<div>( Psikolog, Staf pengajar Psikodiagnostik di Fak.Psikologi diBeberapa <span class="yshortcuts" style="border-bottom:medium none;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Perguruan Tinggi Negeri</span> dan Swasta )</div>
<div>InvestasiSebelum Tanggal 4 November 2008</div>
<div><span style="color:#000066;"><strong>( Bonus Software tes PAPI KOSTICK</strong> )</span></div>
<div>
<strong>Biaya Peserta Rp 850.000</strong>( Peserta : S1 Psikologi – S2 Profesi Psikologi &amp; Psikolog )</div>
<div><span style="color:#000066;"><strong><span style="font-size:180%;">Door Prize !!! Satu Buah Laptop Axio</span></strong></span></div>
<p>Setelah mengikuti Workshop ini peserta akan :<br />
1 Mahir menggunakan tes Papi Kostick<br />
2 Mengerti dasar teori,  administrasi, skoring serta interpretasi dari Tes Papi Kostick<br />
3 Mengerti bahwa Tes ini dapat digunakan untuk konseling, Promosi jabatan bagi HRD<br />
4 Dan dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan interview</p>
<p>Tanggal &amp; Tempat Pelaksanaan :8 November 2008<br />
Pukul 09.00 WIB – Selesai<br />
Harris Hotel <span class="yshortcuts">Tebet</span>, <span class="yshortcuts">Jakarta</span> .Address: Jl. Dr Saharjo no. 191, Jakarta 12960 , Indonesia</p>
<p>Peserta Memperoleh :<br />
1. Sertifikat<br />
2. Snack dan Lunch<br />
3. Workshop Kit</p>
<div><strong>Pembayaran Transfer Via BCA a/n:ANDRIAN YANUAR </strong></div>
<div><strong>No. Rek : <span class="yshortcuts">2741385289</span></strong></div>
<div>( BCA KCP, Pondok Bambu )</div>
<p>v Peserta yang sudah melakukan pembayaran, harap segera konfirmasi ke Panitia dengan mengirimkan bukti pembayarannya via Fax ke ( 021 ) 70318127<br />
<strong>More Info :Icha : 0819-32605311 / 92167166Adhe : 0817-144063</strong></p>
<br />Posted in Serba-serbi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/486/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=486&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/pelatihan%e2%80%9dtes-papi-kostick%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WORKSHOP” Powerful People Development ”(DISC Approach)</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/workshop%e2%80%9d-powerful-people-development-%e2%80%9ddisc-approach/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/workshop%e2%80%9d-powerful-people-development-%e2%80%9ddisc-approach/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[WORKSHOP” Powerful People Development ”(DISC Approach) Analisis profil merupakan suatu terobosan baru dalam menganalisis kemampuan seseorang untuk memegang suatu jabatan atau melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Manajemen Sumber Daya Manusia akan sangat efektif jika memasukkan unsur pemahaman akan karakter dan perilaku dari individu mereka.Dr. William Marston mendeskripsikan teori bahwa perilaku seseorang merupakan fungsi dari lingkungan individu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=484&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:130%;color:#000099;">WORKSHOP” Powerful People Development ”(DISC Approach)</span></strong></p>
<div>
Analisis profil merupakan suatu terobosan baru dalam menganalisis kemampuan seseorang untuk memegang suatu jabatan atau melaksanakan tugas dan pekerjaannya. <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Manajemen Sumber Daya Manusia</span> akan sangat efektif jika memasukkan unsur pemahaman akan karakter dan perilaku dari individu mereka.Dr. William Marston mendeskripsikan teori bahwa perilaku seseorang merupakan fungsi dari lingkungan individu yang bersangkutan. Hal ini digambarkan dalam suatu skala reaksi terhadap lingkungan yang diukur secara kontinum. Menggunakan parameter ini, pola atau model interaksi seseorang terhadap lingkungannya dapat digambarkan sebagai Dominance, Influence, Steadiness dan Compliance (DISC).Pelatihan ini memberikan pemahaman dan keterampilan menggunakan DISC tool secara praktis termasuk aplikasi di berbagai bidang yang mudah digunakan tapi dengan akurasi yang baik.</div>
<div><strong><span style="color:#000099;">Dengan Nara Sumber :IR. BONAR HUTABARAT, CBA</span></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<div>instruktur dan fasilitator yang banyak memiliki pengalaman praktis dalam berbagai bidang bisnis di berbagai jenis industri. Karirnya dimulai di Panatraco (1988 – 1990), lalu bekerja di Coca-Cola Amatil Indonesia (1990 – 1996; bagian sales and marketing, training and development) dan Charoen Pokphand Indonesia (1996 – 2002; <span class="yshortcuts" style="border-bottom:medium none;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">training and development</span>, recruitment and selection) serta Institut Darma Mahardika (2002 – 2003; HRD Consultant dan Instruktur Pelatihan). Tiga belas tahun terakhir bekerja di bidang Pengembangan Sumberdaya Manusia, dan aktif dalam memberikan pelatihan internal karyawan perusahaan dan publik. Certified DISC Consultant dari Thomas International dan Institute for The Motivational Living, Inc.</div>
<div>
<strong><span style="color:#000099;">InvestasiSebelum Tanggal 20 November 2008( Bonus Personal Style Analysis Report Generation Software DISC V.2&#8230;09<br />
unlimited version + Bonus Buku DISC ( The 4-Dimensional Manager )<br />
Biaya WORKSHOP Rp. 850.000</span></strong></div>
<div>
Setelah mengikuti Workshop ini peserta akan :</div>
<div>1 Konsep DISC</div>
<div>2 Memahami Dimensi Gaya Perilaku (<span class="yshortcuts" style="border-bottom:medium none;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Personal Profile Survey</span>)</div>
<div>3 Scoring dan Intepretasi DISC</div>
<div>4 Job Profile Survey dan Job Matching</div>
<div>5 People Development dengan DISC<br />
6 People Reading dan Interaksi</div>
<div>
<strong><span style="color:#000099;">DoorPrize !!! Software <span class="yshortcuts">MBTI</span> Dan Software DISC Versi Bhs Indonesia</span></strong></div>
<div>
Tanggal &amp; Tempat Pelaksanaan 29 November  2008</div>
<div>Pukul 09.00 WIB – selesai</div>
<div>Hotel Sofyan</div>
<div>Jl.Cikini Raya No. 79<br />
<span class="yshortcuts">Jakarta</span> 10330 &#8211; Indonesia</div>
<div>
Peserta Memperoleh :</div>
<div>1. Sertifikat</div>
<div>2. Snack dan Lunch</div>
<div>3. Workshop Kit</div>
<div>4. e-book DISC</div>
<div></div>
<div>Target Peserta:<br />
1. HR Manager dan Supervisor<br />
2. Para Recruiter Karyawan<br />
3. Konsultan HR<br />
4. Konsultan Psikologi<br />
5. Manager, Direktur SDM<br />
6. Coacher dan Counselor<br />
7. Assessor<br />
8. Pendidik, Trainer, dan Mentor</div>
<div>
<strong>Pembayaran Transfer Via BCA a/n:ANDRIAN YANUAR</strong></div>
<div><strong>No. Rek : <span class="yshortcuts">2741385289</span></strong></div>
<div><strong>( BCA KCP, Pondok Bambu )</strong></div>
<div>
More Info :Icha : 0819 3260 5311 / 92167166 Adhe : 0817 144063<br />
v Peserta yang sudah melakukan pembayaran, harap segera konfirmasi ke Panitia dengan mengirimkan bukti pembayarannya via Fax ke ( 021 ) 70318127</div>
<br />Posted in Serba-serbi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/484/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=484&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/10/06/workshop%e2%80%9d-powerful-people-development-%e2%80%9ddisc-approach/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tentang pornografi atau hal-hal yang berbau seksualitas</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/09/25/tentang-pornografi-atau-hal-hal-yang-berbau-seksualitas/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/09/25/tentang-pornografi-atau-hal-hal-yang-berbau-seksualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 16:38:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[hmm &#8230; sebenarnya anak-anak itu organ-organ reproduksinya belum matang, jadi belum ada dorongan seksual dari dalam dirinya, yang ada adalah keingintahuan yang luar biasa besarnya &#8230; terutama jika ia pernah melihat/mendengar/mengalami peristiwa yang berkaitan dengan seksualitas &#8230; fenomena anak yang bermasturbasi, menahan BAB, dan ngemut jari yang dijelaskan ala Freud kaya&#8217;nya pernah saya ceritakan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=480&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hmm &#8230; sebenarnya anak-anak itu organ-organ reproduksinya belum matang, jadi belum ada dorongan seksual dari dalam dirinya, yang ada adalah keingintahuan yang luar biasa besarnya &#8230; terutama jika ia pernah melihat/mendengar/mengalami peristiwa yang berkaitan dengan seksualitas &#8230;</p>
<p>fenomena anak yang bermasturbasi, menahan BAB, dan ngemut jari yang dijelaskan ala Freud kaya&#8217;nya pernah saya ceritakan di postingan terdahulu, tapi kaya&#8217;nya di thred yang lama deh &#8230;</p>
<p>sekarang saya mau cerita dari sudut pandangnya Bandura &#8230;</p>
<p>Intinya, menurut Bandura, individu belajar dari pengamatannya terhadap apa yang dirasakan dan dipikirkannya saat lingkungannya bereaksi atas perilaku atau tutur katanya atau orang lain yang sedang diamatinya. Jadi, menurut Bandura, tidak selalu individu yang sedang belajar itu harus mengalami peristiwa itu sendiri, bisa saja hanya dengan mengamati peristiwa yang terjadi di sekelilingnya.</p>
<p>Untuk kasus pornografi, mungkin saja ia pernah melihat/mendengar/mengalami peristiwa seksualitas yang menurutnya mengakibatkan efek yang menyenangkan jika dilakukan.</p>
<p>Tidak perlu melihat ortunya melakukan hubungan, hanya dengan melihat film-film (makanya ati-ati kalau nyimpen) atau mendengarkan cerita-cerita seru di saat arisan atau becandaannya bapak-bapak, sangat memungkinkan si anak akan mencari tahu &#8220;Apa benar yang begitu itu enak?&#8221;</p>
<p>Nah &#8230; tugas kita lah untuk menjelaskan hal ini pada anak-anak &#8230; dan terus terang, ini sulit sekali karena bukan budaya kita untuk dapat berdiskusi mengenai seksualitas secara terbuka &#8230;</p>
<p>Walaupun sebenarnya untuk anak-anak berusia 4 tahun ke atas kita sudah bisa mendiskusikan hal ini dengan sederhana, cuma ya itu, keragu-raguan kita dan keengganan kita lah yang justru mendorong anak untuk mengeksplorasinya sendiri.</p>
<p>salam,</p>
<p>Yanti D.P.</p>
<br />Posted in Renungan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/480/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=480&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/09/25/tentang-pornografi-atau-hal-hal-yang-berbau-seksualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kita dan konsistensi</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/09/25/kita-dan-konsistensi/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/09/25/kita-dan-konsistensi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 16:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[Di forum yang saya ikuti, ada beberapa kasus orang tua yang kewalahan dengan tingkah laku anaknya, saya akan sharing jawaban-jawaban saya atas kasus-kasus tersebut. Sis &#8230; anak tidak takut dalam arti takut dihukum &#8230; dia takut ditinggalkan &#8230; soal ancam mengancam &#8230; intinya gini &#8230; semakin keras kita maka akan semakin keras juga si anak, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=478&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di forum yang saya ikuti, ada beberapa kasus orang tua yang kewalahan dengan tingkah laku anaknya, saya akan sharing jawaban-jawaban saya atas kasus-kasus tersebut.</p>
<p>Sis &#8230; anak tidak takut dalam arti takut dihukum &#8230; <strong>dia takut ditinggalkan</strong> &#8230;</p>
<p>soal ancam mengancam &#8230; intinya gini &#8230; semakin keras kita maka akan semakin keras juga si anak, walaupun untuk sesaat ia tampak patuh &#8230;</p>
<p>kuncinya hanya di kata &#8220;konsisten&#8221;</p>
<p>konsisten itu &#8230; kalau kita sudah bilang ya ya berarti ya &#8230; kalau bilang tidak ya berarti tidak &#8230; dan harus jelas argumennya &#8230; nggak boleh sekedar meng-iyakan atau melarang seorang anak untuk melakukan sesuatu &#8230;</p>
<p>satu lagi &#8230; konsisten juga berkaitan dengan perilaku dan atau perkataan si ortu &#8230; misalnya &#8230; kita minta anak untuk belajar tetapi kitanya nyuruh sambil nonton tv &#8230; atau &#8230; kita nggak ngebolehin anak berkata-kata kasar (tidak pantas) tapi kalau ada mobil/motor yang nyalip tiba-tiba eh kitanya secara spontan berteriak dan memaki &#8230;</p>
<p>itu saja &#8230;</p>
<p>konsisten itu susah &#8230; kadang kita merasa bahwa kita sudah konsisten tapi ternyata kadang kita &#8220;lupa&#8221; dan &#8220;mengijinkan&#8221; sesuatu yang sebelumnya kita &#8220;larang atau sebaliknya &#8230;</p>
<p>sebagai guru, menerapkan konsistensi jauh lebih mudah karena frekuensi pertemuan kami dengan murid hanya 1.5jam &#8211; 5jam per harinya &#8230; sementara orang tua &#8230; ya hitung sendiri deh &#8230;</p>
<p>tapi, saya sendiri sudah berusaha menerapkan konsistensi itu di rumah, baik dengan keponakan-keponakan maupun anaknya karyawan yang tinggal bersama sama &#8230;</p>
<p>ada fenomena lucu (yang sebenarnya memprihatinkan buat saya) yang saya amati dari perlikau anak-anak yang tinggal bersama saya &#8230; yang paling muda usianya 18 bulan dan yang paling tua usianya sudah 8 tahun &#8230;</p>
<p>ketika bersama saya (pernah ada yang seminggu full bersama saya karena kelahiran si adik menyebabkan kedua ortunya harus berada di rumah sakit) atau mereka tahu bahwa saya berada tidak jauh dengan mereka, maka mereka tahu persis bagaimana harus bersikap, berperilaku, maupun bertutur kata &#8230;</p>
<p>menangis ataupun bertingkah laku aneh sebagaimana anak yang lainnya ya mereka lakukan, tetapi tidak dalam kadar yang berlebihan &#8230;</p>
<p>padahal saya tidak pernah sekalipun memukul atau menghukum mereka &#8230; yang saya lakukan hanyalah mengajak mereka berbicara di ruangan saya secara pribadi, hanya saya dan si anak (bahkan untuk anak yang berusia 18 bulan sekalipun)</p>
<p>isi pembicaraan? mereka harus bisa menjawab apa, kenapa, dan sebaiknya bagaimana atas apapun peristiwa yang membuat mereka &#8220;berulah&#8221;</p>
<p>lamanya diskusi bisa cepat (15-an menit) tapi bisa juga sampai 3 jam-an &#8230;</p>
<p>sayangnya &#8230; ketika bersama orang tuanya &#8230; perilaku kolokan (menangis berkepanjangan maupun &#8220;mengamuk&#8221; ketika meminta sesuatu) masih muncul juga &#8230;</p>
<p>ternyata setelah saya amati &#8230; orang tua mereka masih saja tidak konsisten &#8230; mungkin karena adanya 2 kepala dan 2 hati yang berperan (ayah dan ibu) &#8230;</p>
<p>salam,</p>
<p>Yanti D.P.</p>
<br />Posted in Renungan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/478/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=478&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/09/25/kita-dan-konsistensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SISTEM PENDIDIKAN KITA MELAWAN HUKUM ALAM</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/09/24/sistem-pendidikan-kita-melawan-hukum-alam/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/09/24/sistem-pendidikan-kita-melawan-hukum-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 08:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Di bawah ini saya salin artikel menarik mengenai pendidikan karakter. Pertama kali membaca, ada rasa senang dan juga ada rasa pahit. Senang, karena selain metode pelaporan siswa yang deskriptif naratif akhirnya diakui sebagai salah satu metode pelaporan yang sah bagi lulusan murid ternyata inti pendidikan kami di Bintang Bangsaku sekarang juga punya nama &#8220;Pendidikan Karakter&#8221;. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=473&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di bawah ini saya salin artikel menarik mengenai pendidikan karakter.</p>
<p>Pertama kali membaca, ada rasa senang dan juga ada rasa pahit.  Senang, karena selain metode pelaporan siswa yang deskriptif naratif akhirnya diakui sebagai salah satu metode pelaporan yang sah bagi lulusan murid ternyata inti pendidikan kami di Bintang Bangsaku sekarang juga punya nama &#8220;Pendidikan Karakter&#8221;.</p>
<p>Saya ingat sekali, 7 tahun yang lalu ketika saya mendirikan Sanggar Kretaivitas Bobo cabang Penjernihan, yang sekarang menjelma menjadi Bintang Bangsaku, banyak sekali tantangan agar sistem kami diterima, baik oleh SKB sendiri maupun dengan masyarakat pengguna jasa kami (dalam arti orang tua siswa).</p>
<p>Laporan yang deskriptif dan naratif dinilai terlalu panjang dan berbelit-belit untuk menyampaikan hasil akhir proses belajar siswa di sekolah kami.  Tidak hanya orang tua yang mengeluh, tetapi SD-SD yang menerima alumni kami-pun menuntut adanya nilai (bukan hanya penjelasan deskriptif) atas kemampuan siswa.  Tidak satu pun permintaan itu kami turuti, kami masih saja menggunakan laporan yang deskriptif.  Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu akhirnya kami diminta oleh beberapa rekan guru dan kepala sekolah untuk sharing bagaimana membuat laporan deskriptif yang baik dan benar.  Laporan yang tidak melakukan labelling maupun bersifat judmental.</p>
<p>Sistem pendidikan kami yang menekankan adanya pembentukan karakter anak yang berbudi luhur, tidak hanya hapal ayat-ayat suci, tidak hanya pandai membaca, berhitung, dan menulis juga ditentang.  Kami dikatakan mendidik anak secara liar.  Anak-anak bebas berceloteh dan bertingkah laku di dalam kelas dalam batas-batas yang sudah disepakati bersama.  Guru hanya bersifat seperti fasilitator dan sekaligus katalisator, bukan sebagai narasumber yang menuntut audience-nya duduk diam dan rapi.</p>
<p>Pelajaran agama di tempat kami yang mengedepankan pelajaran mengenai ke-Tauhid-an (Islam) dan cinta kasih (Kristen-Katholik) juga dinilai menyimpang karena anak-anak tidak dituntut untuk belajar membaca dalam huruf Arab, tidak dituntut untuk menghapalkan ayat-ayat suci, dan juga tidak diajarkan mengenai surga &#8211; neraka.</p>
<p>Untuk rasa pahit, silakan baca komentar dari Saudara Agung yang menyampaikannya secara sangat tegas</p>
<p>Hmm &#8230; biarlah waktu yang menjawab &#8230; yang pasti &#8230; alumni SBB bukanlah sembarang anak, dan bukan juga anak yang hanya mengenal teman dari kelompok masyarakat tertentu.  Anak SBB diharapkan benar-benar menjadi Bintang bagi Bangsa Indonesia.</p>
<h1><em>SISTEM PENDIDIKAN KITA MELAWAN HUKUM</em></h1>
<h1><em>ALAM-Ratna Megawangi</em></h1>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">D alam pidato kenegaraan 16 Agustus 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi janji bahwa pemerintah memenuhi anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sesuai dengan UUD 1945 hasil amendemen. Diharapkan setelah kesejahteraan guru, materi, dan infrastruktur terpenuhi, kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Menurut Ratna Megawangi, praktisi pendidikan dan pendiri Yayasan Warisan Luhur Indonesia, besaran persentase itu bukan masalah inti pendidikan Indonesia. Yang penting dibenahi lebih dulu adalah sistem pendidikan dan hasrat guru untuk mengajar. &#8220;Itu yang menjadi roh pendidikan sumber daya manusia,&#8221; ujarnya kepada Akmal Nasery Basral, Yophiandi, dan Santirta dari Tempo, Selasa pekan lalu. Berikut petikannya.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Bagaimana Anda melihat janji Presiden dalam pidato kenegaraan yang akan meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Memang ada asumsi peningkatan anggaran akan membuat kualitas pendidikan kita lebih baik, tetapi saya lihat masalahnya bukan di sana, melainkan pada sistem pendidikan dan kualitas guru. Kalau kita bicara roh pendidikan, kedua hal inilah yang perlu diperhatikan.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Pendidikan kita selama ini academic oriented. Contohnya, ujian itu selalu hafalan dari TK sampai SMA. Setiap sekolah mengajarkan teaching to the test. Padahal, kalau menurut taksonomi, hafalan itu merupakan tingkat terendah kecerdasan manusia. Menurut (Albert) Einstein, binatang pun bisa diajarkan menghafal. Akibatnya, aspek <span class="Apple-style-span" style="color:#ff0000;">kreativitas, deep thinking, tidak berkembang baik. Interpersonal, refleksi, emosi, spiritualitas,</span> tidak berkembang baik. Salah satunya terlihat pada <span class="Apple-style-span" style="color:#ff0000;">entrepreneurship kita yang masih rendah</span>. Menurut Ciputra, rasio (entrepreneur dibanding jumlah penduduk) kita cuma 0,18 persen. Padahal sebuah negara untuk bisa maju membutuhkan sedikitnya dua persen entrepreneur.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Sejauh mana angka-angka itu menjadi penghambat?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Sejak kecil anak di Indonesia tidak dibiasakan berpikir kreatif, karena ada sistem peringkat dari satu sampai sepuluh yang membuat mereka takut berbuat salah. Takut salah itu adalah cerminan takut mengambil risiko. Sikap ini akhirnya terbawa ke dunia kerja. Ini yang membuat orang Indonesia berpikir selalu mengikuti juklak. Padahal orang kreatif itu yang berpikir keluar dari juklak. Jadi, walaupun sudah (ada kenaikan anggaran menjadi) 20 persen, tetap tak akan ke mana-mana pendidikan kita.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;"><br />
</span></span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Apa yang sebaiknya menjadi prioritas pembenahan?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Pertama, pelajaran tidak boleh terlalu banyak, terutama di usia dini, 14 tahun ke bawah. Di usia 10 tahun ke bawah di mana otak berkembang sampai 95 persen, kita ha rus betul-betul membuat sistem pendidikan yang fun. KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) itu sebenarnya bagus, tapi penekannya balik lagi ke teaching to the test bagi anak-anak SD.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Lalu dari guru yang kurang adalah spirit of teaching. Banyak guru yang tidak tahu bagaimana menjadi guru yang benar walau sudah sarjana. Guru yang berhasil adalah guru yang membuat anak terus ber tanya, dirindukan anak-anak. Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang kalau libur, atau murid-muridnya dipulangkan cepat, para murid justru enggan karena mereka maunya tetap di sekolah. Sekolah itu kan berasal dari kata Yunani scholeia, yang artinya tempat bersenang-senang. Sekarang, sekolah kita jadi tempat anak-anak bersenang-senang atau menakutkan?</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;"><br />
</span></span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Ada kecenderungan jam sekolah anak-anak semakin panjang sajabahkan sampai sore hari? Apakah itu tidak membuat anak jenuh?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Tidak apa-apa sekolah sampai malam sekalipun asal fun. Kalau tidak fun, sampai jam 10 pagi pun sudah capek sekali. Jadi, yang penting adalah membuat suasana bagaimana mereka tidak merasa belajar, tapi bermain, padahal sebenarnya mereka belajar. Singapura sudah meninggalkan sistem pendidikan berorientasi akademik, tapi lebih pada sisi holistik, menyangkut emosi dan sosialnya. Jepang dan Korea Selatan juga begitu. Hukum alam itu menunjukkan mereka yang berIQ di atas 120 hanya 10 persen dari populasi. Yang ber-IQ di atas 115 sekitar 15 persen. Sisanya yang mayoritas sekitar 85 persen, memiliki IQ di bawah itu. Karena itu, kalau fokusnya pada academic oriented, 85 persen siswa pasti tak bisa mengikuti.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Contoh riilnya bagaimana?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;color:#0000ff;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Olimpiade fisika, olimpiade matematika, dan sebagainya itu. Saya tanya ke Profesor Yohanes Surya (pembimbing tim Olimpiade Fisika Indonesia), bagaimana caranya menciptakan para juara seperti itu? Dia bilang yang dibina itu adalah yang IQ-nya 160 ke atas. Jumlah murid seperti ini cuma 0,0001 persen dari populasi atau sekitar 3.000 anak Indonesia. Kalau seperti ini, nggak dibina pun mereka belajar sendiri sudah jago.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Yang harus kita pikirkan adalah yang mayoritas. Di Swedia, saya pernah berkunjung ke satu SMA yang punya 16 jurusan. Ada yang untuk menjadi babysitter, koki, perancang mode, dan sebagainya, selain jurusan sains dan matematika.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Saya hitung komposisi murid berdasarkan jurusan yang mereka ambil, ternyata yang mengambil sains dan matematika itu jumlahnya hanya sekitar 15 persen. Klop dengan hukum alam tadi.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Sistem pendidikan kita malah terbalik karena melawan hukum alam (tertawa). Kalau melawan hukum alam, akibatnya semua rusak, mental, karakter, kepercayaan diri.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Jadi, kenapa kita sebagai bangsa gampang marah, karena sejak kecil kita dipaksakan untuk menerima sesuatu yang bukan seharusnya kita terima. Anak-anak gampang stres.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Ciri-ciri anak stres itu bagaimana?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Anak itu akan nggak suka sekolah. Entah karena pelajaran maupun karena faktor guru. Input dan respons otak anak itu tak bisa dibohongi. Dia nggak nyaman.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Ada pendapat bahwa para pendidik di tingkat dasar justru seharusnya para doktor dan profesor yang mengerti padagogi. Anda setuju?</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Saya nggak yakin kalau profesor otomatis bisa mengajar di TK atau SD. Ketika saya ingin membuat TK nonformal di desa, saya kesulitan mencari guru yang memadai.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Akhirnya direkrutlah lulusan SMP yang membantu mengajar di TK.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Kami beri pelatihan praktis. Ternyata mereka bisa membuat sekolah menjadi tempat menyenangkan bagi murid. Jadi, yang penting ada lah guru itu punya ilmu the spirit of teaching. Mau berkorban. Sekolah kami mengembangkan konsep community based, yang bayar guru adalah orang tua murid. Ada (orang tua) yang bayar Rp 8.000-10.000 per bulan. Karena itu bayaran guru paling banter Rp 100 ribu. Herannya, kok mereka masih bertahan? Masih mau mengajar? Saya pikir itu bisa terjadi karena mereka memang sudah jatuh cinta pada dunia pengajaran.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;"><br />
</span></span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Dari konteks ini, bagaimana melihat program pemerintah mengenai wajib belajar sembilan tahun yang dimulai dari umur 7 tahun?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Sekarang pemerintah sudah sadar dan membentuk banyak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di mana-mana, karena ada istilah six is too late. Ini juga menjawab kenapa sumber daya kita rendah karena fondasi selama ini juga tak kuat.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Kalau fondasi tidak kuat, biar sudah tingkat lanjutan tetap saja tak bisa bagus. Ini yang kami antisipasi, misalnya di Muara Karang, tempatnya anak-anak kelas bawah. Atau di Tapos yang banyak anak-anak tukang ojek. Sekarang ini sudah ada sekitar 700 sekolah kami yang seperti ini, dengan murid rata-rata 30 orang per kelas. Mereka kritis sekali, bisa bertanya ini-itu karena, meskipun masih kecil, sudah punya prinsip. Yang kita tanamkan bukan sekadar knowing the good, tapi juga reasoning the good, feeling the good, dan akhirnya acting the good sehingga mereka menjadi agent of change di kampungnya. Mereka berani menegur orang dewasa yang buang sampah sembarangan. Yang ditegur pun nggak marah karena yang mengingatkan adalah anak kecil. Malah jadi lucu dan malu sendiri orang itu (tertawa).</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;"><br />
</span></span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Bagaimana melihat penetrasi pihak internasional dalam pasar preschool di Indonesia yang belakangan ini makin menjamur?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Sekolah asing itu bagus-bagus.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Saat ini kita hidup dalam era globalisasi, kenapa kita mempersoalkan asing atau lokal? Bagus itu kan universal. Bagi yang punya duit, bisa akses, silakan saja. Tapi ini kan paling satu persen dari masyarakat.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Berapa banyak sih yang bisa membayar uang sekolah TK sebesar Rp 20 juta sebulan? Makanya kami membangun sekolah berbasis karakter yang lebih bisa diakses masyarakat banyak. Menurut saya, pendidikan yang berbasis agama bisa juga menjadi berbahaya jika aspek kognitif terlalu ditekankan, misalnya doa-doa hafalan seperti di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), kalau anak nggak bisa lalu disabet sehingga membuat mereka ketakutan. Seorang kepala TPA di Kalimantan Selatan yang ikut pelatihan sekolah karakter langsung nangis mengingat metode pendidikannya selama ini. Akhirnya kami mulai masuk juga ke TPA dengan meningkatkan sistem mereka menjadi TK nonformal. Belajar Al-Quran kan juga bisa dengan suasana yang menyenangkan, misalnya dengan menyanyi lebih dulu.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;"><br />
</span></span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Inspirasi membuat pendidikan berbasis karakter ini dari mana?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Saya terinspirasi oleh Lee Kuan Yew. Singapura sewaktu berpisah dengan Malaysia itu kan kondisinya critical. Mereka nggak punya apa-apa, sumber daya alam minim, masyarakatnya pun rentan konflik karena berbagai ras ada di sana, India, Cina, Melayu. Lee adalah seorang filosofi, maka dia melakukan pemberdayaan sumber daya manusia dengan membuka 350 TK. Ini social engineering. Yang diajarkan itu karakter, bagaimana kebersihan, disiplin. Tak sampai satu generasi di tahun 1970-an Singapura sudah menjadi negara yang tertib, menjadi tempat yang menyenangkan, menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Ini direncanakan semuanya. Indonesia mungkin too late ya, tapi tetap harus dimulai.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Masyarakat mulai berbenah. Ada almarhum Cak Nur (Nurcholish Madjid), Haidar Bagir dengan sekolah Lazuardinya. Biarkan masyarakat membantu pemerintah.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Kalau guru bisa diajarkan, orang tua murid di rumah bagaimana? Anak-anak itu kan menghadapi orang tua mereka di rumah yang belum tentu sama pandangannya mengenai pendidikan?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Tak jadi masalah. Para orang tua malah terheran-heran kok anak saya sudah bisa baca? Kok malah sudah nasihatin saya? Para orang tua itu kita beri tahukan apa yang dipelajari anak-anak mereka di sekolah, misalnya soal kejujuran. Tinggal dibuat pemberitahuan kepada orang tua agar memberikan ajaran tentang kejujuran. Semua poin yang perlu diajarkan di rumah dituliskan. Hasilnya malah membuat orang tua dan anak tambah akrab karena batinnya diikat.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Bagaimana kalau ada yang mengaitkan kesuksesan sekolah ini dengan posisi Pak Sofyan Djalil di kabinet?</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Kami mulai sekolah ini di tahun 2000, sementara Sofyan masuk kabinet 2004. Pada saat awal beroperasi, Sofyan menjadi devil’s advocate. Apa saja dia kritik. Akhirnya, saya jalan cari sponsor sendiri, seperti ke Exxon Mobil. Sampai sekarang kalau ada BUMN yang mau menjadi sponsor, saya mewantiwanti agar lihat dulu sekolahnya, dipahami dulu konsepnya, bukan karena suami saya Menteri Negara BUMN. Sebab, kalau bersifat topdown pasti tak akan long lasting.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Dari 55 sponsor sekolah karakter, memang ada tiga-empat BUMN.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Mungkin karena itu ada yang &#8220;menembak&#8221;, bahwa karena kedudukan suami, yayasan ini mendapat miliaran rupiah. Bahkan saya dibilang makmur. Silakan diaudit, sepeser pun saya tidak digaji. Ini juga sudah diaudit, tanya kepada 55 orang yang kerja di sini. Tapi saya nggak ambil pusing. Justru kami yang membantu mereka (perusahaan), karena membuat hasil corporate social responsibility mereka terlihat.</span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="color:#0000ff;">Apa target yang belum tercapai?</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;font-family:Verdana;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:12px;"><br />
</span></span></em></div>
<div style="background-color:#e5effe;margin:0;"><em><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:small;line-height:normal;font-family:Verdana;">Target saya harus ada 10 ribu sekolah karakter yang bisa kami bentuk untuk membantu pendidikan di Indonesia. ?</span></em></div>
<br />Posted in Renungan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=473&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/09/24/sistem-pendidikan-kita-melawan-hukum-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>the DISC Personal Profile System is personality from William Moulton Marston</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/09/23/the-disc-personal-profile-system-is-personality-from-william-moulton-marston/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/09/23/the-disc-personal-profile-system-is-personality-from-william-moulton-marston/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 17:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teori Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[originaly written by Reza A, copied from milis D. I. S. C Dominance Style Orang-orang yang masuk dalam model ini adalah mereka yang suka mengendalikan lingkungan mereka, serta senang menggerakkan orang-orang di sekitar mereka. Mereka adalah jenis pribadi yang suka to-the-point, tidak bertele-tele. Mereka juga senang mengambil peran penting, pembuat keputusan, problem solver, dan melaksanakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=471&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>originaly written by <span class="email">Reza A, copied from milis</span></p>
<p><strong>D. I. S. C<br />
</strong></p>
<p><strong>Dominance Style</strong><br />
Orang-orang yang masuk dalam model ini  adalah mereka yang<br />
suka mengendalikan lingkungan mereka, serta senang  menggerakkan orang-orang di sekitar mereka. Mereka adalah jenis pribadi yang  suka to-the-point, tidak bertele-tele. Mereka juga senang mengambil peran  penting, pembuat keputusan, problem solver, dan melaksanakan berbagai hal.  Mereka cenderung menyukai posisi sebagai leader. Meskipun demikian, ketika  menjadi leader, mereka cenderung akan menjadi pemimpin yang otoriter, demanding,  dan kurang memiliki kesabaran serta empati pada bawahan.</p>
<p>Ketika orang-orang dari model ini termotivasi secara negative, mereka dapat  menjadi seorang pembangkang (rebels). Mereka juga tipe orang yang cepat menjadi  bosan dengan suatu rutinitas. Mereka juga kurang suka dengan detil, karena pada  dasarnya mereka cenderung tipe yang suka dengam big-view picture dan visioner.  Orang dengan tipe D ini juga adalah orang yang menyukai tantangan dan berani  mengambil resiko.</p>
<p>Untuk menciptakan lingkungan motivasi yang benar pada model kepribadian  seperti ini, kita perlu memperhatikan hal berikut:<br />
• Pesan harus jelas, dan  langsung pada pokok pembahasan ketika kita berinteraksi dengan model kepribadian  seperti ini.<br />
• Hindari hal-hal yg terlalu pribadi atau berbicara terlalu  banyak yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.<br />
• Biarkan mereka tahu apa  yang anda harapkan dari mereka. Jika anda harus mengarahkan mereka, berikan  mereka kesempatan untuk mengambil keputusan dan berada dalam kendali.<br />
•  Terimalah kebutuhan mereka untuk variasi dan perubahan. Jika mungkin, berikan  tantangan-tantangan baru, juga kesempatan untuk mengarahkan yang lain.</p>
<p><strong>Influence Style</strong><br />
Orang-orang dengan model ini adalah  mereka yang suka bergaul dengan orang lain, ekstrovert, dan senang berada pada  lingkaran pertemanan yang luas. Mereka benar-benar menikmati berada bersama  teman-temannya. Mereka tidak suka menyelesaikan sesuatu atau bekerja sendirian  (single fighter). Sebaliknya, mereka lebih suka berhubungan dan bekerja dengan  orang-orang daripada sendirian.</p>
<p>Orang-orang dengan model ini juga memiliki empati yang tinggi terhadap orang  lain, dan mudah melibatkan perasaan ketika menjalankan aktivitasnya. Mereka pada  dasarnya orang yang penuh optimisme, antusias, dan cenderung memiliki sifat  dasar yang riang. Meskipun demikian, mereka bukan orang tepat ketika harus  mengerjakan tugas-tugas yang menuntut ketelitian tinggi seperti akuntansi dan  keuangan. Pada sisi lain, mereka dapat menjadi best promotor untuk  gagasan-gagasan baru.</p>
<p>Untuk memberikan motivasi bagi mereka, kita bisa melakukan hal-hal  berikut:<br />
• Berikan waktu anda untuk berinteraksi dan mendengarkan aspirasi  mereka.<br />
• Sediakan tugas dimana mereka memiliki kesempatan untuk membangun  relasi dan berhubungan dengan orang lain dari beragam latar belakang<br />
•  Berikan bimbingan dan arahan yang jelas – termasuk deadline, sebab tanpa panduan  ini mereka sering akan “ngelantur” dan tidak mampu menyelesaikan perkerjaan  dengan tepat waktu.</p>
<p><strong>Steadiness Style</strong><br />
Orang-orang dalam model ini cenderung  introvert, reserve, dan quiet. Mereka adalah orang-orang yang lebih suka  melakukan sesuatu secara sistematis, teratur dan bertahap. Mereka juga cendrung  menyukai sesuatu yang berjalan dengan konsisten, dapat diprediksi dan lingkungan  kerja yang stabil dan harmonis. Orang-orang dalam model ini juga tergolong  pribadi yang sabar, dapat diandalkan dan cenderung memiliki loyalitas yang  tinggi.</p>
<p>Pada sisi lain, mereka termasuk golongan yang kurang menyukai perubahan yang  radikal dan bersifat mendadak. Juga cenderung terpaku pada sistem yang sudah  berjalan; dan karena itu kurang terdorong untuk melakukan inovasi yang bersifat  radikal. Ketika mereka mengalami demotivasi, mereka cenderung akan menjadi orang  yang kaku, resisten dan kemudian melakukan perlawanan secara pasif.</p>
<p>Untuk menciptakan iklim yang positif kepada orang-orang dengan model  steadiness, kita bisa melakukan hal berikut:<br />
• Berikan mereka kesempatan  untuk bekerja sama dalam tim untuk mencapai hasil yang diinginkan.<br />
• Berikan  arahan-arahan yang spesifik dan sistematis<br />
• Ketika melakukan perubahan,  pastikan dengan prosedur yang sistematis, langkah-demi- langkah dan yakinkan  bahwa kekhawatiran dan kecemasan mereka tidak akan terjadi. Mereka butuh rasa  aman.<br />
• Yakinkan mereka bahwa anda telah telah berpikir matang sebelum  memutusakan perubahan. Berikan mereka kesempatan atau ruang untuk menyelesaikan  masalah jika terjadi secara bertahap.</p>
<p><strong>Conscientiousness Style</strong><br />
Orang-orang dalam kategori ini  termasuk pribadi yang menekankan akurasi dan ketelitian. Mereka cenderung  menyukai sesuatu yang direncanakan dengan matang dan bersifat menyeluruh. Mereka  juga cenderung suka dengan pekerjaan yang mengacu pada prosedur dan standar  operasi yang baku. Orang-orang dalam kategori ini adalah pemikir yang kritis dan  suka melakukan analisa untuk memastikan akurasi.</p>
<p>Pada sisi lain, karena cenderung terfokus pada keteraturan, pribadi dalam  model ini cenderung skeptis terhadap gagasan-gagasan baru yang radikal. Mereka  juga agak enggan menerima proses perubahan yang mendadak. Ketika mereka  termotivasi secara negative, mereka akan menjadi sinis atau sangat kritis.</p>
<p>Perlakuan yang optimal untuk orang-orang dalam model ini adalah sebagai  berikut:<br />
• Memberikan tugas dimana terdapat kesempatan bagi mereka untuk  mendemonstrasikan keahlian mereka<br />
• Memberikan tugas yang menuntut akurasi  dan ketelitian<br />
• Memberikan tugas yang membutuhkan perencanaan yang matang  dan bersifat komprehensif<br />
• Ketika memberikan instruksi, harus disertai  dengan data dan argumen yang rasional dan disajikan secara sistematis.</p>
<p>Demikianlah peta empat model kepribadian yang dapat kita eksplorasi. Dengan  mengenali tipe kepribadian mitra/rekan kerja Anda, diharapkan Anda bisa  membangun hubungan interpersonal yang lebih produktif nan lestari.</p>
<br />Posted in Teori Psikologi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/471/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=471&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/09/23/the-disc-personal-profile-system-is-personality-from-william-moulton-marston/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seputar Pengukuran dan Pengujian Keberuntungan</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/09/21/seputar-pengukuran-dan-pengujian-keberuntungan/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/09/21/seputar-pengukuran-dan-pengujian-keberuntungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 05:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teori Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[copied from milis, originaly written by sinaga harez posma Definisi Terlebih dahulu kita sama-sama lihat definisi singkat tentang keberuntungan (luck, fortuity, fortune), yang saya kutip dari wikipedia. Luck (also called fortuity) is a chance happening, or that which happens beyond a person&#8217;s control. Luck can be good or bad. Sumber:: http://en.wikipedia .org/wiki/ Luck (Sebagai catatan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=469&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>copied from milis, originaly written by <span class="email">sinaga harez posma</span></p>
<p><em><span style="color:#993399;text-decoration:underline;"><strong>Definisi</strong></span></em></p>
<p>Terlebih dahulu kita sama-sama lihat definisi singkat tentang keberuntungan (luck, fortuity, fortune), yang saya kutip dari wikipedia.</p>
<blockquote class="gmail_quote"><p><strong>Luck</strong><span style="color:#000099;"> (also called </span><strong>fortuity</strong><span style="color:#000099;">) is a </span><em>chance happening</em><span style="color:#000099;">, or </span><em>that which happens beyond a person&#8217;s control</em><span style="color:#000099;">. Luck can be good or bad.</span></p></blockquote>
<p>Sumber:: <a rel="nofollow" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Luck" target="_blank">http://en.wikipedia .org/wiki/ Luck</a> (Sebagai catatan, penjelasan mengenai fortune di wikipedia juga merujuk ke halaman luck ini.)</p>
<div>
Kalau melihat definisi tersebut, terlihat bahwa keberuntungan memiliki sifat &#8220;chance&#8221; (kebetulan) yang tidak dapat dikontrol.</p>
<p><em><span style="color:#993399;text-decoration:underline;"><strong>Apakah Keberuntungan adalah Konstruk Psikologis?</strong></span></em></p>
<p>Weiner, Frieze, Kukla, Reed, Rest &amp; Rosenbaum (1971) mengemukakan luck sebagai konstruk psikologis, yakni sebagai unsur/komponen &#8220;<em>Causal categories used to explain successes and failures</em>&#8220;.</p>
<p>Sumber : <a rel="nofollow" href="http://www.unr.edu/gaming/13th_Conference_Web_files/Files/Abstracts/Binge%20Gambling,%20Self-Exclusion,%20and%20Treatment%20Readiness/ICGR_Tahoe_2006%20wohl_pdf.pdf" target="_blank">http://www.unr. edu/gaming/ 13th_Conference_ Web_files/ Files/Abstracts/ Binge% 20Gambling,% 20Self-Exclusion ,% 20and%20Treatment% 20Readiness/ ICGR_Tahoe_2006% 20wohl_pdf. pdf</a></p>
<p>Kalau dari pertanyaannya Mikha, maka ia adalah komponen atribusi. Hal yang serupa dapat terlihat dari penelitian yang dilakukan oleh Professor Richard Wiseman yang bertahun-tahun mempelajari keberuntungan.</p>
<div></div>
<blockquote class="gmail_quote"><p>Wiseman&#8217;s research has involved him being with those who define themselves as either lucky or unlucky, and examining the reasons why. Wiseman started by asking randomly chosen UK shoppers whether they had been lucky or unlucky in several different areas of their lives, including their careers, relationships, home life, health and financial matters. Of those adults he surveyed, <strong>50% considered themselves lucky and 16% unlucky</strong>. Those lucky or unlucky in one area were more likely to report the same in other areas. Most experienced either consistent good or bad fortune. Professor Wiseman therefore concluded that luck could not simply be the outcome of chance events.</p></blockquote>
<p>Sumber : <a rel="nofollow" href="http://www.totalgambler.com/casinos/features/451/gambling_psychology.html" target="_blank">http://www.totalgam bler.com/ casinos/features/ 451/gambling_ psychology.html</a></p>
<p>Pada penelitian tersebut, WIseman meminta kepada peserta survey untuk menilai diri mereka sendiri apakh orang yang beruntung atau tidak beruntung. <strong>Pendekatan yang dipergunakan jelas persepsi subyektif</strong>. 50% menyatakan bahwa diri mereka adalah orang beruntung (lucky) atau u&#8217; hokkie kalau bahasa cinanya dan 16% menilai diri mereka sendiri sebagai orang yang kurang beruntung (unlucky) atau mo&#8217; hokkie.</p>
<p>Apakah orang-orang yang merasa beruntung (lucky) tersebut memang benar-benar memiliki keberuntungan?</p>
<div></div>
<blockquote class="gmail_quote"><p>So can &#8216;lucky&#8217; people win at gambling without trying? Professor Wiseman tested this proposition by getting 700 people to gamble on the National Lottery. The &#8216;lucky&#8217; participants were twice as confident of winning as the &#8216;unlucky&#8217; ones. However, results showed that only 36 participants actually won any money, and these were split evenly between the two groups. <strong>The study showed that being lucky doesn&#8217;t change the laws of probability!</strong></p></blockquote>
<p>Sumber : <a rel="nofollow" href="http://www.totalgambler.com/casinos/features/451/gambling_psychology.html" target="_blank">http://www.totalgam bler.com/ casinos/features/ 451/gambling_ psychology.html</a></p>
<p><em><span style="color:#993399;text-decoration:underline;"><strong>Apakah keberuntungan dapat diukur?</strong></span></em></p>
<p>Swas:</p>
<blockquote class="gmail_quote"><p>Kalau sebagai <em>researcher</em>, yang akan jadi fokus saya untuk dijawab adalah pertanyaan ke-4 dulu: apakah &#8220;hoki&#8221; merupakan konstruk psikologis dan dapat dibuat alat ukurnya?</p></blockquote>
<p>Pertanyaan Swas ini sebenarnya agak ambigu. Alat ukur yang mau dibuat itu untuk tujuan:</p></div>
<div>
<ol>
<li>Mengkategorikan orang ke dalam kelompok beruntung (lucky) dan tidak beruntung, baik berupa self-attribution seperti contoh yang dilakukan oleh Wiseman tersebut di ata, maupun pengelompokan berdasarkan penilaian orang lain seperti contoh ramalan psikolog atau ramalan ahli tarot yang pernah saya ilustrasikan pada kisah Empat Sekawan. Atau;</li>
<li>Menilai keberuntungan yang sesungguhnya, baik berupa kriteria menang lotre seperti yang dipergunakan oleh Wiseman, maupun menang judi seperti yang pernah saya ilustrasikan pada kisah Empat Sekawan.</li>
</ol>
<p>Kalau menilik uraian Swas berikut ini:</p>
<blockquote class="gmail_quote"><p>Nah&#8230; kalau saya disuruh membuat alat ukur &#8220;keberuntungan&#8221; , saya nyerah aja deh&#8230; hehehe&#8230; Males! Kebayang berapa variasi paradigma yang ditemukan dari [misalnya] 100 orang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Biasanya psikolog kalau mau bikin alat ukur suka cari <em>salient belief</em> dulu kan <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ?Itu baru nemu berbagai<strong><span style="color:#333399;"> cara pandang terhadap &#8220;keberuntungan&#8221;</span></strong> itu sendiri. Belum <strong>mengukur &#8220;keberuntungannya&#8221; itu sendiri</strong> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
<p>Saya menduga bahwa yang Swas maksud sebagai &#8220;alat ukur&#8221; keberuntungan adalah alat ukur yang dipergunakan psikolog untuk memotret &#8220;potensi keberuntungan&#8221; seseorang, sehingga ia dapat diklasifikasikan setidaknya menjadi orang &#8220;berpotensi beruntung&#8221; (lucky ala Wiseman) atau &#8220;berpotensi kurang beruntung&#8221; (unlucky versi Wiseman). Dalam uraian saya, saya pergunakan istilah &#8220;ramalan/prediksi psikologis&#8221; akan keberuntungan seseorang. Sejenis &#8220;ramalan/prediksi ahli tarot&#8221; terhadap keberuntungan/ hokkie seseorang.</p>
<p>Jika dugaan saya tersebut di atas benar, maka tujuan penelitiannya agak berubah/bertambah, yakni menjadi : <em><strong><br />
</strong></em></p>
<div style="text-align:left;"><em><strong><br />
Mengkonstruksi alat ukur untuk mendiagnosa &#8220;potensi keberuntungan&#8221; seseorang.</strong></em></div>
<p>Ini bisa menjadi penelitian tersendiri, bisa juga menjadi bagian dari penelitian yang bertujuan untuk mengetahui</p>
<div><strong><em><br />
Apakah keakuratan pendekatan psikologis dapat diandalkan untuk meramalkan hokkie/keberuntunga n seseorang.</em></strong></div>
<p>Jika menjadi bagian, maka memang sengaja diciptakan dulu prosedur pengukuran psikologis yang sistematis untuk mengkategorikan apakah seseorang itu lucky atau unlucky, sebelum dilakukan pengujian keakuratan.</p>
<p>Dalam konteks disain pengujian keakuratan, menurut saya tidak terlalu perlu untuk dikonstruksi secara khusus alat ukur potensi keberuntungan tersebut. Dasar pemikirannya antara lain adalah:</p>
<ol>
<li>Dari definisinya, luck itu sendiri bersifat chance yang diluar kontrol. Artinya, kemungkinan berubahnya sangat besar dan diluar kontrol. Secara teknis, reliability nya kemungkinan besar akan rendah. Apa yang diukur saat ini, belum tentu sama dengan yang diukur pada waktu yang lain.Kalau mau dipaksakan pun, akan menghasilkan hasil yang aneh seperti  <a rel="nofollow" href="http://www.newscientist.com/channel/health/dn8535" target="_blank">penelitian John O&#8217;Doherty</a> atau <a rel="nofollow" href="http://www.02138mag.com/magazine/article/1271.html" target="_blank">penelitian Steven Gaulin</a> yang pernah Swas kemukakan sendiri.</li>
<li>Bukankah Swas sendiri menyatakan bahwa &#8220;<em>Sementara hasil akhirnya kan tidak hanya ditentukan oleh faktor si manusia itu sendiri, melainkan juga oleh faktor eksternalnya, dan interaksi antara faktor internal &amp; faktor eksternal.</em>&#8220;</li>
</ol>
<p>Karena itu, dalam disain pengujian ini saya tidak menyertakan tahapan konstruksi alat ukur untuk mendiagnosa &#8220;potensi keberuntungan&#8221; tersebut.</p>
<p><span style="color:#993399;text-decoration:underline;"><em><strong>Bagaimana meramalkan keberuntungan?</strong></em></span><br />
Jika tidak dibuatkan alat ukur terlebih dahulu, lantas bagaimana pendekatan psikologis dapat diuji keakuratannya untuk meramalkan keberuntungan?</p>
<p>Dari contoh penelitian yang dilakukan Wiseman tersebut di atas, dapat terlihat penggunaan &#8220;self-attribution&#8221; sebagai prediktor.  Dari hasil penelitian Wiseman itu sendiri, maupun dari kisah &#8220;Empat Sekawan Tertabrak&#8221; maupun &#8220;Empat Sekawan Berjudi&#8221;, dapat terlihat bahwa &#8220;self-attribution&#8221; yang dilandasi persepsi subyekti tersebut, tidak tepat dijadikan prediktor.</p>
<p>Berdasarkan hal itulah, kemudian pada kisah &#8220;Empat Sekawan Diramal Psikolog&#8221; saya memberikan ilustrasi singkat dan sederhana bagaimana psikolog memprediksi keberuntungan seseorang. Dalam gagasan saya, jika akan dilakukan pengujian keakuratan, maka kepada psikolog-psikolog yang akan menjadi sampel penelitian, diberikan kebebasan untuk memakai pendekatan dan pengetahuannya masing-masing untuk memprediksi keberuntungan seseorang. Terserah, yang bersangkutan mau pakai teori apa, pendekatan apa, yang penting hasil akhirnya, mereka diminta untuk memberikan penilaian apakah seseorang itu beruntung (lucky) atau tidak beruntung (unlucky). Dalam konteks inilah, apabila kategorisasinya mau lebih terdiferensiasi (secara teoritis lebih tajam-akurat) saya mengajukan pemikiran untuk memperluas kategorisasi dari sekedar lucky-unlucky menjadi very lucky (sangat beruntung), lucky (beruntung), average (bisa beruntung bisa tidak), unlucky (tidak beruntung) dan very unlucky (sangat tidak beruntung).</p>
<p>Prosedur memberikan kebebasan kepada psikolog untuk memakai caranya masing-masing tersebut kiranya sepadan dengan  keberagaman teknik yang dipergunakan ahli tarot untuk meramal masa depan seseorang. Seperti yang dikemukakan Leo dan telah saya kutip:<br />
<span style="font-size:small;"><br />
</span></p>
<blockquote class="gmail_quote"><p><span style="font-size:small;">Jawaban 11: Jangan bingung kalau bertemu dengan <strong>para pewacana yang menggunakan teknik berbeda-beda</strong>, walaupun dasarnya tetap sama. Setiap pewacana memang sebaiknya menemukan tekniknya sendiri yang paling pas buat dirinya dantidak perlu merasa &#8220;prihatin&#8221; kalau ternyata tekniknya itu lain dari yang lain.<br />
</span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:small;">Sumber: <a rel="nofollow" href="http://groups.yahoo.com/message/45668" target="_blank">http://groups. yahoo.com/ group/ psikologi_transform atif/ message/45668</a></span><br />
</span></span><span style="font-size:x-small;"><br />
</span>Mudah-mudahan cukup jelas untuk Swas, sekaligus menjadi tanggapan untuk pernyataan Swas yang menyatakan:</p>
<blockquote>
<blockquote class="gmail_quote"><p>Tapi yang lebih aneh adalah skala ini:</p>
<p><span style="color:#000099;">Jika pada psikolog tersebut diminta untuk meramalkan masing-masing kawannya tersebut dengan kriteria:</span><br /> <span style="color:#000099;">1. Sangat Sial (kemungkinan kalah sangat besar)</span><br /><span style="color:#000099;">2. Sial (kemungkinan kalah besar)</span><br /> <span style="color:#000099;">3. Biasa-biasa (bisa kalah bisa menang)</span><br /><span style="color:#000099;">4. Beruntung (kemungkinan menang besar)</span><br /> <span style="color:#000099;">5. Sangat beruntung (kemungkinan menang sangat besar)</span></p></blockquote>
</blockquote>
<p><em><span style="color:#993399;text-decoration:underline;"><strong>Bagaimana Mengukur Keberuntungan ?</strong></span></em></p>
<p>Bagaimana mana mengukur keberuntungan yang sesungguhnya? Istilah &#8220;lucky&#8221; dan &#8220;unlucky&#8221; tersebut pada bagian terdahulu sebenanrnya bukan pengukuran &#8220;lucky&#8221; dan &#8220;unlucky&#8221; dalam arti yang sesungguhnya, tetapi lebih kepada &#8220;self attribution&#8221; dan &#8220;prediction&#8221; . Menurut Mikha, pendekatan &#8220;self report&#8221; memiliki kelemahan:</p>
<blockquote class="gmail_quote"><p><span style="color:#000099;">Kekurangan metode ini adalah kesulitan dalam hal memilih situasi yang layak menjadi representasi untuk menilai orang ini lucky atau unlucky</span></p></blockquote>
<p>Sejauh pemahaman saya, situasi &#8220;perjudian&#8221; relatif dapat menjadi representasi untuk menguji keberuntungan seseorang. Cirinya dekat bahkan dapat dikatakan memenuhi persyaratan berdasarkan definisi luck.</p>
<blockquote class="gmail_quote"><p><strong>Luck</strong><span style="color:#000099;"> (also called </span><strong>fortuity</strong><span style="color:#000099;">) is a </span><em>chance happening</em><span style="color:#000099;">, or </span><em>that which happens beyond a person&#8217;s control</em><span style="color:#000099;">. Luck can be good or bad.</span></p></blockquote>
<p><em><span style="color:#993399;text-decoration:underline;"><strong>Dapatkah Dikonstruksi Alat Ukur Potensi Keberuntungan?</strong></span></em></div>
<p>Swas:</p>
<blockquote class="gmail_quote"><p><span style="color:#000099;">Tapi&#8230; masih mungkin sebenarnya bagi si psikolog untuk meningkatkan keakuratan prediksinya. Misalnya dengan melihat langsung situasi tempat mereka akan berjudi. Bikin semacam &#8220;analisa jabatan&#8221; bagi si calon penjudi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Memperhatikan karakteristik si calon penjudi, dan karakteristik lapangannya, maka dapat lebih akurat perkiraan keberhasilan si calon penjudi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p></blockquote>
<p>Walaupun saya memperkirakan tingkat keberhasilannya relatif kecil, saya tidak menutup kemungkinan bahwa dapat disusun prosedur pengukuran yang dapat dipergunakan untuk mendiagnosa &#8220;potensi keberuntungan&#8221; yang dapat dipakai untuk  meramalkan keberuntungan/ hokkie seseorang. Tetapi, sebagaimana juga pernah saya kemukakan kepada Swas di milis psi indonesia, apakah menjadi prioritas? Apakah perlu? <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>salam,<br />
harez</p>
<p>2008/9/17 was_swas <span dir="ltr">&lt;<a rel="nofollow" href="http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/post?postID=hb0AP7j15mmFfV4odKq3kpubBFhUTjUDo74zjq0skK1leJ_oJdjaJr4YQSNaQpa9xL4pKjZGHG-3nos" target="_blank">was_swas@&#8230;</a>&gt;</span></p>
<p>Masih ada sambungan lagi, nggak? Kalau enggak, mau komentar sekarang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kalau dilihat dari &#8220;pola&#8221; reaksi terhadap 2 kejadian pertama, memang kelihatan ada kekhasan cara pandang:</p>
<p>B nih kayaknya cenderung punya &#8220;mental korban&#8221; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Selalu merasa dirinya sial.. hehehe&#8230;</p>
<ul>
<div>
<li><span style="color:#0000bf;">B: Sial banget sih hari ini, nggak salah apa tahu-tahu diseruduk pickup.</span></li>
</div>
<div>
<li><span style="color:#0000bf;">B: Sial banget gue hari ini, bukannya menang, malah kalah cepek ceng (100 ribu).</span></li>
</div>
</ul>
<p>D kayaknya gak punya konsep keberuntungan di kepalanya. Buat dia sih segalanya enteng aja&#8230; nggak perlu dipikirin <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Makanya dia nggak ngerasa sial karena keserempet, dan dengan enteng menganggap yang begini pun biasa, bukan beruntung (meskipun udah jadi satu2nya yang menang).</p>
<ul>
<div>
<li><span style="color:#0000bf;">D: Dasar supir tembak, ngagetin dan bikin susah orang saja. </span></li>
</div>
<div>
<li><span style="color:#0000bf;">D: Kalau gue nggak sial tadi, bukan cuma nopek ceng (200 ribu) gue harusnya menang sipek ceng (400 ribu).</span></li>
</div>
</ul>
<p>C &amp; A kayaknya &#8220;orang Jawa ya? Hehehe&#8230; Paling enggak, cara pandang mereka sesuai dengan joke tentang orang Jawa: semuanya selalu untuuuuung terus <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> . Menggunakan &#8220;total loss&#8221; sebagai parameter kesialan. Jadi&#8230; selama nggak total loss, ya hitungannya masih untung <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<ul>
<div>
<li><span style="color:#0000bf;">C: Untung ya tadi cuma kejedug, coba kalau remnya blong, bisa lebih parah kita.</span></li>
</div>
<div>
<li><span style="color:#0000bf;">C: Lebih untung gue dong, gue cuma kehilangan cepek ceng (100 ribu) </span></li>
</div>
<div>
<li><span style="color:#0000bf;">A: Untung mobil ini gue asuransiin, palingan gue cuma keluarin biaya klaim. Syukur-syukur, tuh supir bener-bener bisa ngegantiin bayar itu biaya klaim.</span></li>
</div>
<div>
<li><span style="color:#0000bf;">A: Untung gue cuma kehilangan nopek ceng, masih sisa sapek ceng lagi.</span></li>
</div>
</ul>
<p>Kalau dari sini saja sudah ada 3 paradigma yang berbeda dalam memandang &#8220;keberuntungan&#8221; . Baru dari 4 orang, dan dari 2 kasus (bisa jadi kalau ada 3-4 kasus lagi, ternyata pola di atas tidak tepat <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ). Nah&#8230; kalau saya disuruh membuat alat ukur &#8220;keberuntungan&#8221; , saya nyerah aja deh&#8230; hehehe&#8230; Males! Kebayang berapa variasi paradigma yang ditemukan dari [misalnya] 100 orang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Biasanya psikolog kalau mau bikin alat ukur suka cari <em>salient belief</em> dulu kan <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ?</p>
<p>Itu baru nemu berbagai cara pandang terhadap &#8220;keberuntungan&#8221; itu sendiri. Belum mengukur &#8220;keberuntungannya&#8221; itu sendiri <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>*eh, ngomong2, penggunaan kata &#8220;paradigma&#8221; di sini tepat nggak ya&#8230;. hehehe&#8230; *</p>
<p>Tapi yang lebih aneh adalah skala ini:</p>
<div>
<blockquote><p><span style="color:#0000bf;">Jika pada psikolog tersebut diminta untuk meramalkan masing-masing kawannya tersebut dengan kriteria:<br />
1. Sangat Sial (kemungkinan kalah sangat besar)<br />
2. Sial (kemungkinan kalah besar)<br />
3. Biasa-biasa (bisa kalah bisa menang)<br />
4. Beruntung (kemungkinan menang besar)<br />
5. Sangat beruntung (kemungkinan menang sangat besar)</span></p>
<p><span style="color:#0000bf;">dan hasilnya kemudian dikaitkan dengan besarnya rupiah yang dimenangkan atau yang hilang, dapatkah dilakukan evaluasi keakuratan peramalan psikolog tersebut secara lebih detail/akurat?</span></p></blockquote>
</div>
<p>Ramalan psikolog yang dijadikan contoh itu kan berdasarkan karakteristik si calon penjudi, sebagai SALAH SATU faktor yang akan memperbesar/ memperkecil peluang kemenangannya jika pada keempatnya diberikan kondisi yang sama.  Sementara hasil akhirnya kan tidak hanya ditentukan oleh faktor si manusia itu sendiri, melainkan juga oleh faktor eksternalnya, dan interaksi antara faktor internal &amp; faktor eksternal.</p>
<p>Tapi&#8230; masih mungkin sebenarnya bagi si psikolog untuk meningkatkan keakuratan prediksinya. Misalnya dengan melihat langsung situasi tempat mereka akan berjudi. Bikin semacam &#8220;analisa jabatan&#8221; bagi si calon penjudi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Memperhatikan karakteristik si calon penjudi, dan karakteristik lapangannya, maka dapat lebih akurat perkiraan keberhasilan si calon penjudi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam,</p>
<br />Posted in Teori Psikologi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/469/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=469&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/09/21/seputar-pengukuran-dan-pengujian-keberuntungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/09/21/integrasi-alat-tes-psikologi/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/09/21/integrasi-alat-tes-psikologi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 04:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[Anda ingin terampil dalam menggunakan alat tes , menggabungkan berbagai alat tes menjadi satu profil keperibadian dan Membuat laporan Psikologinya WORKSHOP ” INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI ” ( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI KOSTIK,GRAFIS &#38; WARTEGG ) &#38; PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI Keterampilan menggabungkan battery tes ( Integrasi Alat Tes ) merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=467&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="color:#333333;" lang="IT">Anda ingin terampil dalam menggunakan alat tes , menggabungkan berbagai alat tes menjadi satu profil keperibadian dan Membuat laporan Psikologinya</span><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333333;" lang="IT"><br />
</span><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-size:24pt;color:#000099;" lang="IT">WORKSHOP</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-size:24pt;color:#000099;" lang="IT"><br />
</span></strong><strong><span style="font-size:24pt;color:#000099;" lang="IT">” INTEGRASI ALAT TES</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-size:24pt;color:#000099;" lang="IT"> PSIKOLOGI ”</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-size:24pt;color:#000099;" lang="IT"><br />
</span></strong><strong><span style="font-size:24pt;color:#000099;" lang="IT">( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-size:24pt;color:#000099;" lang="IT"> KOSTIK,GRAFIS &amp; WARTEGG ) &amp;</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-size:24pt;color:#000099;" lang="IT"> PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<span style="font-size:medium;"><strong></strong></span><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333333;" lang="IT">Keterampilan menggabungkan battery tes ( Integrasi Alat Tes ) merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap calon Psikolog maupun para Psikolog yang saat ini berkecimpung dalam dunia kerja ( HRD ),maupun pendidikan .Bagaimana kita dapat mengetahui tehnik mengintegrasikan beberapa instrumen Psikologi secara benar sehingga dapat mencerminkan profil keperibadian subjek yang di tes. Setelah itu, hasil dari evaluasi psikologi dapat kita tuangkan dalam bentuk laporan Psikologi yang benar, mudah dipahami dan dimengerti oleh klien / user. Serangkaian ketrampilan tersebut baik integrasi maupun penyajian laporan merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh seorang Psikolog maupun calon Psikolog.</span><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#333333;" lang="IT"> </span><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="color:#000099;" lang="IT">Dengan Nara Sumber :</span></strong><span style="color:#333333;" lang="IT"><br />
</span><strong><span style="color:#000099;" lang="IT">DR. ELMIRA N. SUMINTARDJA</span></strong><span style="color:#333333;" lang="IT"><br />
</span><strong><span style="color:#000099;" lang="IT">( Psikolog, Staf pengajar Psikodiagnostik di Fak.Psikologi di</span></strong><span style="color:#333333;" lang="IT"><br />
</span><strong><span style="color:#000099;" lang="IT">Beberapa <span class="yshortcuts" style="border-bottom:medium none;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Perguruan Tinggi Negeri</span> dan Swasta )</span></strong><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333333;"><br />
</span><strong><span style="color:#000099;">Investasi<br />
Sebelum Tanggal 20 Oktober 2008<br />
</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:#000099;">( Bonus Buku ” Psychological Testing And Assessment + Software Mind Map + DVD The Doodle Test ” )</span></strong><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;color:#000099;">DoorPrize !!!  Software MBTI &amp; DISC </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;color:#000099;">Versi BHS Indonesia</span></strong><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#333333;"><br />
1 Mahasiswa S2 Profesi Psikologi / Psikolog <strong>Anggota HIMPSI Rp. 1.500.000</strong><br />
2 Psikolog <strong>Non HIMPSI Rp.. 1.750.000</strong></p>
<p>Setelah mengikuti Workshop ini peserta akan :<br />
1 Mahir melakukan integrasi alat tes Psikologi<br />
2 Dapat menggunakan instrumen secara benar dan tepat<br />
3 Mampu membuat skoring dan interpretasi dengan benar<br />
4 Mampu menganalisa kasus-kasus yang ada</p>
<p>Peserta Memperoleh :<br />
1. Sertifikat yang dilegalisasi oleh HIMPSI JAYA<br />
2. Snack dan Lunch<br />
3. Workshop Kit</p>
<p>Tanggal &amp; Tempat Pelaksanaan<br />
<strong>25 &amp; 26 Oktober  2008</strong></span><span style="font-size:x-small;"><strong><span style="color:#000099;"> Peserta Terbatas Hanya   25 Orang</span></strong></span><span style="color:#333333;"><br />
Pukul 09.00 WIB – selesai </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Hotel Sofyan<br />
Jl.Cikini Raya No. 79 <span class="yshortcuts">Jakarta</span> 10330 &#8211; Indonesia</strong><br />
<span style="color:#333333;" lang="PT-BR"></p>
<p></span><strong><span style="color:#000099;" lang="PT-BR">Pembayaran Transfer Via BCA a/n:<br />
ANDRIAN YANUAR<br />
No. Rek : <span class="yshortcuts">2741385289</span> ( BCA KCP, Pondok Bambu )</span></strong><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;color:#333333;" lang="PT-BR"><br />
More Info :<br />
Icha : 0819 3260 5311 / 92167166<br />
Adhe : 0817 144063</p>
<p>1 Bagi peserta yang anggota HIMPSI, harap melampirkan copy kartu keanggotaannya pada saat registrasi ulang. Jika pada saat registrasi, peserta tidak dapat menunjukkan kartu anggotanya, maka kami anggap peserta adalah psikolog yang <strong>non HIMPSI dengan biaya registrasi Rp. 1.750.000</strong></span></p>
<br />Posted in Serba-serbi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/467/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=467&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/09/21/integrasi-alat-tes-psikologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan di Indonesia</title>
		<link>http://bawana.wordpress.com/2008/09/18/pendidikan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://bawana.wordpress.com/2008/09/18/pendidikan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 20:34:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bawana.wordpress.com/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[Kata-kata Kunci Terkait Perkembangan Peradaban : Agraris, yang bercirikan kepasrahan dan minimnya upaya untuk mencapai suatu hasil secara maksimal dengan menggunakan berbagai macam upaya. Industrialis yang bercirikan kapitalisme, konsumerisme, henodisme, dan individualisme Restrukturisasi (The Fourth Wave) yang bercirikan mulai berubahnya cara berpikir/cara pandang dalam melihat sesuatu, mengedepankan adanya win-win solution Model pendekatan pendidikan yang disesuaikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=465&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Kata-kata Kunci Terkait</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perkembangan Peradaban :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Agraris,      yang bercirikan kepasrahan dan minimnya upaya untuk mencapai suatu hasil      secara maksimal dengan menggunakan berbagai macam upaya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Industrialis      yang bercirikan kapitalisme, konsumerisme, henodisme, dan individualisme</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Restrukturisasi      (The Fourth Wave) yang bercirikan mulai berubahnya cara berpikir/cara      pandang dalam melihat sesuatu, mengedepankan adanya <em>win-win solution</em> </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Model pendekatan pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan peradaban/pola pikir dan perilaku masyarakat :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">BBE (Broad      Base Education), digunakan pada masyarakat yang masih berpolakan agraris,      tujuan pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di sekitar      sekolah (lokal, maksimal regional).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">HBE (High      Base Education), digunakan pada masyarakat yang sudah berpolakan      Industrialis atau bahkan sudah sampai di Fourth Wave, tujuan pendidikan      lebih luas (tingkat regional yang dibuktikan dengan adanya sekolah yang      berstatus unggulan, tingkat nasional yang dibuktikan dengan sekolah      berstatus SSN, bahkan internasional yang dibuktikan dengan adanya SSI).<span> </span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Catatan khusus :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Aplikasi BBE dan HBE seringkali menjadi semu karena banyak sekolah/pemerintah terkait yang menyusun program tidak berdasarkan kebutuhan yang sebenarnya namun hanya mencontoh program-program yang sudah berlangsung di tempat lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Kreativitas dan kepekaan penyusun program/kurikulum diperlukan agar tujuan pendidikan dapat lebih tepat sasaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;">Salam, Yanti D.P.</p>
<br />Posted in Teori Pendidikan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bawana.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bawana.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bawana.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bawana.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bawana.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bawana.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bawana.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bawana.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bawana.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bawana.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bawana.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bawana.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bawana.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bawana.wordpress.com/465/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bawana.wordpress.com&amp;blog=3305984&amp;post=465&amp;subd=bawana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bawana.wordpress.com/2008/09/18/pendidikan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a29d28609489db62acac9b55293a910?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bintang Bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
